Pangi Chaniago: Kisruh Dialog UGM Cerminan Menumpuknya Kemarahan Publik
Kamis, 18 Juni 2026 - 23:46 WIB
loading...
Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago. Foto: Tangkapan layar
A
A
A
JAKARTA - Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago menilai kericuhan yang terjadi dalam dialog "Kopdar Bareng Mas Dar" di Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak dapat dilepaskan dari akumulasi ketidakpercayaan atau distrust masyarakat terhadap pemerintah. Meski demikian, Pangi menyatakan tindakan membubarkan atau mengganggu jalannya diskusi tetap tidak dapat dibenarkan dalam prinsip demokrasi.
"Itu tidak boleh dibenarkan. Sampai kiamat enggak boleh dibenarkan. Karena itu keluar dari asas-asas demokrasi," kata Pangi dalam program Interupsi bertajuk ‘Kisruh Diskusi UGM: Ruang Dialog atau Konflik?’ yang disiarkan iNews, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, di balik kericuhan tersebut terdapat persoalan yang lebih mendasar. Menurutnya, belakangan ini telah terdapat penurunan kepercayaan publik terhadap pemerintah dan telah berlangsung dalam waktu cukup lama.
Baca juga: Diskusi Budiman-Nusron-Sudaryono di UGM Dibubarkan Mahasiswa, Qodari: Kalau Hanya Tuntutan, Bukan Demokrasi
Menurut Pangi, distrust publik tidak muncul secara tiba-tiba. Ia mengaitkannya dengan kekecewaan masyarakat terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, mulai dari isu harga kebutuhan pokok, energi, hingga pengelolaan program negara yang dianggap kurang melibatkan partisipasi publik dalam proses pengambilan keputusan.
"Misalnya kalau dulu kan kenaikan bensin itu BBM itu kan harus di DPR, harus penuh kehati-hatian, deliberatif. Tapi itu kan dinormalisasi oleh rezim sebelumnya juga. Tiba-tiba naik malam hari, tiba-tiba turun siang hari," katanya.
Ia juga menyoroti persepsi publik terkait pengelolaan program pemerintah yang menggunakan anggaran negara besar namun dampaknya tak begitu terasa untuk masyarakat.
Menurut Pangi, berbagai persoalan tersebut kemudian membentuk kemarahan yang terakumulasi dan menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi kemarahan sebagian mahasiswa dalam forum diskusi tersebut.
"Tapi ketika uang yang begitu besar ini dikelola oleh negara, tiba-tiba digelontorkan dalam satu program. Programnya mulia dan baik, tapi tanpa tata kelola yang penuh kehati-hatian, tanpa deliberatif, tanpa riset, tanpa KPI yang jelas," ujarnya.
Sebelumnya, dialog bertajuk "Kopdar Bareng Mas Dar" yang menghadirkan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid di UGM pada Senin (15/6/2026) malam berujung ricuh setelah sekelompok mahasiswa naik ke atas panggung saat acara berlangsung. Situasi tersebut sempat memicu ketegangan antara peserta dan penyelenggara acara.
"Itu tidak boleh dibenarkan. Sampai kiamat enggak boleh dibenarkan. Karena itu keluar dari asas-asas demokrasi," kata Pangi dalam program Interupsi bertajuk ‘Kisruh Diskusi UGM: Ruang Dialog atau Konflik?’ yang disiarkan iNews, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, di balik kericuhan tersebut terdapat persoalan yang lebih mendasar. Menurutnya, belakangan ini telah terdapat penurunan kepercayaan publik terhadap pemerintah dan telah berlangsung dalam waktu cukup lama.
Baca juga: Diskusi Budiman-Nusron-Sudaryono di UGM Dibubarkan Mahasiswa, Qodari: Kalau Hanya Tuntutan, Bukan Demokrasi
Menurut Pangi, distrust publik tidak muncul secara tiba-tiba. Ia mengaitkannya dengan kekecewaan masyarakat terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, mulai dari isu harga kebutuhan pokok, energi, hingga pengelolaan program negara yang dianggap kurang melibatkan partisipasi publik dalam proses pengambilan keputusan.
"Misalnya kalau dulu kan kenaikan bensin itu BBM itu kan harus di DPR, harus penuh kehati-hatian, deliberatif. Tapi itu kan dinormalisasi oleh rezim sebelumnya juga. Tiba-tiba naik malam hari, tiba-tiba turun siang hari," katanya.
Ia juga menyoroti persepsi publik terkait pengelolaan program pemerintah yang menggunakan anggaran negara besar namun dampaknya tak begitu terasa untuk masyarakat.
Menurut Pangi, berbagai persoalan tersebut kemudian membentuk kemarahan yang terakumulasi dan menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi kemarahan sebagian mahasiswa dalam forum diskusi tersebut.
"Tapi ketika uang yang begitu besar ini dikelola oleh negara, tiba-tiba digelontorkan dalam satu program. Programnya mulia dan baik, tapi tanpa tata kelola yang penuh kehati-hatian, tanpa deliberatif, tanpa riset, tanpa KPI yang jelas," ujarnya.
Sebelumnya, dialog bertajuk "Kopdar Bareng Mas Dar" yang menghadirkan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid di UGM pada Senin (15/6/2026) malam berujung ricuh setelah sekelompok mahasiswa naik ke atas panggung saat acara berlangsung. Situasi tersebut sempat memicu ketegangan antara peserta dan penyelenggara acara.
(rca)
Lihat Juga :