Ravindra Dorong Mitigasi Nasional Antisipasi Masuknya Hantavirus Varian Andes
Kamis, 21 Mei 2026 - 14:52 WIB
loading...
A
A
A
Dia menuturkan, kasus hantavirus yang ditemukan di Indonesia selama ini merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) strain Seoul Virus. Penularannya terjadi secara zoonosis melalui tikus got (Rattus norvegicus) dan tikus rumah (Rattus rattus), sehingga tidak menular antarmanusia.
Sepanjang 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026 berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tercatat 23 kasus terkonfirmasi HFRS strain Seoul Virus di Indonesia. Dari jumlah itu, 20 pasien dinyatakan sembuh dan tiga orang meninggal dunia.
Adapun kasus tersebar di sejumlah daerah, di antaranya DKI Jakarta, Jawa Barat (Jabar), Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur (Jatim), Banten, Sumatera Barat (Sumbar), Kalimantan Barat (Kalbar), Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur.
Ravindra juga mendorong kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam meningkatkan sanitasi lingkungan, pengendalian populasi tikus, serta pengawasan kesehatan di wilayah rawan seperti pelabuhan, gudang logistik, kawasan padat penduduk, dan daerah pascabanjir.
Politikus asal Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat V itu berpendapat bahwa Indonesia membutuhkan sistem mitigasi nasional yang terintegrasi, mulai dari surveilans epidemiologi, kapasitas laboratorium, kesiapan rumah sakit, hingga respons cepat di daerah. “Ketahanan kesehatan nasional harus menjadi bagian penting dari ketahanan negara. Dengan sistem yang kuat, kita dapat mendeteksi dan menangani ancaman penyakit menular secara cepat dan efektif,” tandasnya.
Sepanjang 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026 berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tercatat 23 kasus terkonfirmasi HFRS strain Seoul Virus di Indonesia. Dari jumlah itu, 20 pasien dinyatakan sembuh dan tiga orang meninggal dunia.
Adapun kasus tersebar di sejumlah daerah, di antaranya DKI Jakarta, Jawa Barat (Jabar), Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur (Jatim), Banten, Sumatera Barat (Sumbar), Kalimantan Barat (Kalbar), Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur.
Ravindra juga mendorong kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam meningkatkan sanitasi lingkungan, pengendalian populasi tikus, serta pengawasan kesehatan di wilayah rawan seperti pelabuhan, gudang logistik, kawasan padat penduduk, dan daerah pascabanjir.
Politikus asal Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat V itu berpendapat bahwa Indonesia membutuhkan sistem mitigasi nasional yang terintegrasi, mulai dari surveilans epidemiologi, kapasitas laboratorium, kesiapan rumah sakit, hingga respons cepat di daerah. “Ketahanan kesehatan nasional harus menjadi bagian penting dari ketahanan negara. Dengan sistem yang kuat, kita dapat mendeteksi dan menangani ancaman penyakit menular secara cepat dan efektif,” tandasnya.
(rca)
Lihat Juga :