Boni Hargens Ungkap Langkah Nyata Kapolri Jenderal Listyo Sigit
Senin, 20 April 2026 - 23:28 WIB
loading...
Analis Politik Senior Boni Hargens mengungkapkan langkah nyata, cerdas, dan multidimensional Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam mendukung Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Foto: Dok SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Analis Politik Senior Boni Hargens mengungkapkan langkah nyata, cerdas, dan multidimensional Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam mendukung Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Boni menuturkan, selama April 2026, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menunjukkan serangkaian langkah strategis yang mencerminkan pendekatan kepemimpinan yang proaktif dan multidimensional.
“Mulai dari penguatan pariwisata olahraga di Bali, sinergi digital, keamanan ibadah haji, hingga menjaga kondusivitas iklim investasi nasional di tengah turbulensi global," kata Boni Hargens dalam keterangannya, Senin (20/4/2026).
Bahkan, kata dia, pada Senin, 20 April 2026, Kapolri Listyo bersama Gubernur Bali I Wayan Koster secara resmi melepas 11.000 pelari dalam ajang Wondr Kemala Run 2026 di Bali. Menurutnya, kehadiran Kapolri dalam acara ini bukan sekadar seremonial, melainkan merupakan sinyal kebijakan yang bermakna, bahwa institusi Polri berkomitmen untuk hadir tidak hanya dalam konteks penegakan hukum, tetapi juga sebagai fasilitator aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata olahraga (sport tourism).
Baca juga: Bareskrim Bongkar Penyelundupan 23 Ton Bawang Ilegal, Pengamat: Selaras Asta Cita Presiden
Boni mengatakan, Bali sebagai destinasi wisata internasional memiliki daya tarik yang tidak perlu diragukan. “Namun, untuk mempertahankan dan meningkatkan arus wisatawan, khususnya pasca-pandemi dan di tengah persaingan destinasi global yang semakin ketat, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang solid," tuturnya.
Dia mengatakan keterlibatan Polri dalam event seperti di Bali memberikan jaminan keamanan yang implisit, meningkatkan kepercayaan wisatawan domestik dan mancanegara, sekaligus memperkuat citra Polri sebagai institusi yang dekat dengan masyarakat dan responsif terhadap kebutuhan pembangunan. "Dari perspektif kebijakan publik, langkah ini mencerminkan pendekatan soft policing yang semakin relevan di era modern bahwa kepolisian yang efektif tidak hanya diukur dari kapasitas penindakan, tetapi juga dari kontribusinya terhadap kesejahteraan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan,” imbuhnya.
Menurut dia, sinergi antara Kapolri dan Gubernur Koster dalam konteks ini juga memperkuat koordinasi pusat-daerah, yang menjadi fondasi penting bagi stabilitas lokal. Di luar konteks Wondr Kemala Run, kata dia, Kapolri Listyo Sigit pada April 2026 menegaskan empat agenda strategis yang mencerminkan prioritas institusional Polri dalam menghadapi tantangan kontemporer.
Keempat agenda ini, kata dia, tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dan membentuk sebuah kerangka kebijakan yang koheren dalam menjaga stabilitas nasional di berbagai dimensi. “Keempat agenda ini mencerminkan spektrum tanggung jawab Polri yang luas dari ranah digital, keagamaan, ekonomi, hingga geopolitik. Analisis terhadap keempat agenda ini penting untuk memahami arah strategis institusi Polri di bawah kepemimpinan Listyo Sigit menjelang akhir masa jabatannya," jelasnya.
Agenda pertama yang ditekankan Kapolri adalah penguatan sinergi antara Polri dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Langkah ini merespons realitas bahwa kejahatan siber dan pelanggaran hukum di ruang digital semakin kompleks, masif, dan lintas batas.
Dia menilai Polri menyadari bahwa kapasitas penegakan hukum konvensional tidak lagi memadai untuk menghadapi ancaman digital yang terus berkembang, mulai dari kejahatan siber, penyebaran disinformasi, penipuan daring, hingga konten ilegal yang mengancam keamanan publik. Karena itu, kata dia, sinergi dengan Komdigi bukan sekadar koordinasi teknis, melainkan merupakan integrasi strategis antara dua institusi yang memiliki mandat berbeda namun saling melengkapi.
"Komdigi memiliki akses terhadap infrastruktur dan regulasi ruang digital, sementara Polri memiliki kewenangan penegakan hukum. Kolaborasi keduanya berpotensi menciptakan ekosistem penegakan hukum digital yang lebih efektif, terintegrasi, dan responsif," ungkapnya.
Agenda kedua yang menjadi perhatian Kapolri, kata dia, adalah pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Haji untuk memastikan keamanan dan kelancaran pelayanan bagi jemaah haji Indonesia tahun 2026. Menurutnya, Indonesia secara konsisten merupakan negara pengirim jemaah haji terbesar di dunia, dengan ratusan ribu warga negara melaksanakan ibadah setiap tahunnya.
"Besarnya skala ini membawa tantangan keamanan dan logistik yang tidak trivial, baik di dalam negeri maupun di Tanah Suci. Instruksi Kapolri untuk membentuk Satgas Haji mencerminkan pemahaman bahwa keamanan ibadah haji merupakan isu yang memiliki dimensi ganda, dimensi keagamaan yang menyangkut hak konstitusional warga negara untuk beribadah, dan dimensi keamanan publik yang membutuhkan koordinasi lintas institusi,” ujarnya.
Satgas ini, lanjut dia, diharapkan mampu mengintegrasikan fungsi pengamanan, pelayanan, dan koordinasi dengan Kementerian Haji dan Umrah serta instansi terkait lainnya. Menurut dia, dari perspektif kebijakan publik, pembentukan Satgas Haji juga merupakan langkah yang responsif terhadap dinamika keamanan di Timur Tengah yang kerap tidak menentu.
"Polri perlu memastikan bahwa jemaah haji Indonesia terlindungi secara komprehensif, mulai dari proses keberangkatan, perjalanan, hingga kepulangan ke Tanah Air. Langkah ini juga memperkuat kepercayaan publik terhadap kemampuan negara dalam melindungi warganya di luar negeri," ungkap dia.
Agenda ketiga adalah komitmen Kapolri untuk memperkuat hubungan dengan kalangan buruh merupakan langkah yang strategis dan bernuansa tinggi. Dia menegaskan hubungan industrial yang harmonis antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah adalah fondasi bagi terciptanya iklim investasi yang kondusif. Polri dalam konteks ini berperan sebagai penjamin ketertiban yang tidak memihak, memastikan bahwa hak-hak buruh terlindungi sekaligus kepentingan investasi terjaga.
"Ketegangan antara kepentingan buruh dan investor seringkali menjadi sumber instabilitas sosial yang berdampak pada persepsi risiko bagi calon investor, baik domestik maupun asing. Dengan secara eksplisit menyatakan komitmen pada soliditas dengan buruh, Kapolri mengirimkan sinyal bahwa Polri bukan instrumen represi, melainkan mediator yang berorientasi pada keadilan dan ketertiban bersama," ucapnya.
Agenda keempat adalah penekanan Kapolri pada pentingnya persatuan nasional merespons konteks geopolitik yang semakin tidak menentu, yakni ketegangan perdagangan global, pergeseran tatanan dunia multipolar, dan ancaman fragmentasi sosial yang dipercepat oleh disinformasi digital. Menurut dia, stabilitas internal menjadi aset strategis yang sangat berharga bagi Indonesia di tengah dinamika ini.
"Pernyataan Kapolri tentang persatuan nasional bukan sekadar retorika. Dalam kapasitasnya sebagai kepala institusi keamanan domestik, penegasan ini memiliki implikasi operasional bahwa Polri akan menggunakan kewenangannya untuk melindungi kohesi sosial, mencegah polarisasi, dan menindak aktor-aktor yang berupaya memecah belah masyarakat demi kepentingan sempit," tegas dia.
Dia mengatakan dua agenda terakhir sinergi dengan buruh dan penekanan pada persatuan nasional di tengah turbulensi global mencerminkan dimensi kepemimpinan yang melampaui fungsi kepolisian konvensional. Keduanya bersentuhan langsung dengan stabilitas politik dan ekonomi nasional yang menjadi prasyarat bagi pembangunan berkelanjutan.
“Mulai dari penguatan pariwisata olahraga di Bali, sinergi digital, keamanan ibadah haji, hingga menjaga kondusivitas iklim investasi nasional di tengah turbulensi global," kata Boni Hargens dalam keterangannya, Senin (20/4/2026).
Bahkan, kata dia, pada Senin, 20 April 2026, Kapolri Listyo bersama Gubernur Bali I Wayan Koster secara resmi melepas 11.000 pelari dalam ajang Wondr Kemala Run 2026 di Bali. Menurutnya, kehadiran Kapolri dalam acara ini bukan sekadar seremonial, melainkan merupakan sinyal kebijakan yang bermakna, bahwa institusi Polri berkomitmen untuk hadir tidak hanya dalam konteks penegakan hukum, tetapi juga sebagai fasilitator aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata olahraga (sport tourism).
Baca juga: Bareskrim Bongkar Penyelundupan 23 Ton Bawang Ilegal, Pengamat: Selaras Asta Cita Presiden
Boni mengatakan, Bali sebagai destinasi wisata internasional memiliki daya tarik yang tidak perlu diragukan. “Namun, untuk mempertahankan dan meningkatkan arus wisatawan, khususnya pasca-pandemi dan di tengah persaingan destinasi global yang semakin ketat, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang solid," tuturnya.
Dia mengatakan keterlibatan Polri dalam event seperti di Bali memberikan jaminan keamanan yang implisit, meningkatkan kepercayaan wisatawan domestik dan mancanegara, sekaligus memperkuat citra Polri sebagai institusi yang dekat dengan masyarakat dan responsif terhadap kebutuhan pembangunan. "Dari perspektif kebijakan publik, langkah ini mencerminkan pendekatan soft policing yang semakin relevan di era modern bahwa kepolisian yang efektif tidak hanya diukur dari kapasitas penindakan, tetapi juga dari kontribusinya terhadap kesejahteraan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan,” imbuhnya.
Menurut dia, sinergi antara Kapolri dan Gubernur Koster dalam konteks ini juga memperkuat koordinasi pusat-daerah, yang menjadi fondasi penting bagi stabilitas lokal. Di luar konteks Wondr Kemala Run, kata dia, Kapolri Listyo Sigit pada April 2026 menegaskan empat agenda strategis yang mencerminkan prioritas institusional Polri dalam menghadapi tantangan kontemporer.
Keempat agenda ini, kata dia, tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dan membentuk sebuah kerangka kebijakan yang koheren dalam menjaga stabilitas nasional di berbagai dimensi. “Keempat agenda ini mencerminkan spektrum tanggung jawab Polri yang luas dari ranah digital, keagamaan, ekonomi, hingga geopolitik. Analisis terhadap keempat agenda ini penting untuk memahami arah strategis institusi Polri di bawah kepemimpinan Listyo Sigit menjelang akhir masa jabatannya," jelasnya.
Agenda pertama yang ditekankan Kapolri adalah penguatan sinergi antara Polri dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Langkah ini merespons realitas bahwa kejahatan siber dan pelanggaran hukum di ruang digital semakin kompleks, masif, dan lintas batas.
Dia menilai Polri menyadari bahwa kapasitas penegakan hukum konvensional tidak lagi memadai untuk menghadapi ancaman digital yang terus berkembang, mulai dari kejahatan siber, penyebaran disinformasi, penipuan daring, hingga konten ilegal yang mengancam keamanan publik. Karena itu, kata dia, sinergi dengan Komdigi bukan sekadar koordinasi teknis, melainkan merupakan integrasi strategis antara dua institusi yang memiliki mandat berbeda namun saling melengkapi.
"Komdigi memiliki akses terhadap infrastruktur dan regulasi ruang digital, sementara Polri memiliki kewenangan penegakan hukum. Kolaborasi keduanya berpotensi menciptakan ekosistem penegakan hukum digital yang lebih efektif, terintegrasi, dan responsif," ungkapnya.
Agenda kedua yang menjadi perhatian Kapolri, kata dia, adalah pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Haji untuk memastikan keamanan dan kelancaran pelayanan bagi jemaah haji Indonesia tahun 2026. Menurutnya, Indonesia secara konsisten merupakan negara pengirim jemaah haji terbesar di dunia, dengan ratusan ribu warga negara melaksanakan ibadah setiap tahunnya.
"Besarnya skala ini membawa tantangan keamanan dan logistik yang tidak trivial, baik di dalam negeri maupun di Tanah Suci. Instruksi Kapolri untuk membentuk Satgas Haji mencerminkan pemahaman bahwa keamanan ibadah haji merupakan isu yang memiliki dimensi ganda, dimensi keagamaan yang menyangkut hak konstitusional warga negara untuk beribadah, dan dimensi keamanan publik yang membutuhkan koordinasi lintas institusi,” ujarnya.
Satgas ini, lanjut dia, diharapkan mampu mengintegrasikan fungsi pengamanan, pelayanan, dan koordinasi dengan Kementerian Haji dan Umrah serta instansi terkait lainnya. Menurut dia, dari perspektif kebijakan publik, pembentukan Satgas Haji juga merupakan langkah yang responsif terhadap dinamika keamanan di Timur Tengah yang kerap tidak menentu.
"Polri perlu memastikan bahwa jemaah haji Indonesia terlindungi secara komprehensif, mulai dari proses keberangkatan, perjalanan, hingga kepulangan ke Tanah Air. Langkah ini juga memperkuat kepercayaan publik terhadap kemampuan negara dalam melindungi warganya di luar negeri," ungkap dia.
Agenda ketiga adalah komitmen Kapolri untuk memperkuat hubungan dengan kalangan buruh merupakan langkah yang strategis dan bernuansa tinggi. Dia menegaskan hubungan industrial yang harmonis antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah adalah fondasi bagi terciptanya iklim investasi yang kondusif. Polri dalam konteks ini berperan sebagai penjamin ketertiban yang tidak memihak, memastikan bahwa hak-hak buruh terlindungi sekaligus kepentingan investasi terjaga.
"Ketegangan antara kepentingan buruh dan investor seringkali menjadi sumber instabilitas sosial yang berdampak pada persepsi risiko bagi calon investor, baik domestik maupun asing. Dengan secara eksplisit menyatakan komitmen pada soliditas dengan buruh, Kapolri mengirimkan sinyal bahwa Polri bukan instrumen represi, melainkan mediator yang berorientasi pada keadilan dan ketertiban bersama," ucapnya.
Agenda keempat adalah penekanan Kapolri pada pentingnya persatuan nasional merespons konteks geopolitik yang semakin tidak menentu, yakni ketegangan perdagangan global, pergeseran tatanan dunia multipolar, dan ancaman fragmentasi sosial yang dipercepat oleh disinformasi digital. Menurut dia, stabilitas internal menjadi aset strategis yang sangat berharga bagi Indonesia di tengah dinamika ini.
"Pernyataan Kapolri tentang persatuan nasional bukan sekadar retorika. Dalam kapasitasnya sebagai kepala institusi keamanan domestik, penegasan ini memiliki implikasi operasional bahwa Polri akan menggunakan kewenangannya untuk melindungi kohesi sosial, mencegah polarisasi, dan menindak aktor-aktor yang berupaya memecah belah masyarakat demi kepentingan sempit," tegas dia.
Dia mengatakan dua agenda terakhir sinergi dengan buruh dan penekanan pada persatuan nasional di tengah turbulensi global mencerminkan dimensi kepemimpinan yang melampaui fungsi kepolisian konvensional. Keduanya bersentuhan langsung dengan stabilitas politik dan ekonomi nasional yang menjadi prasyarat bagi pembangunan berkelanjutan.
(rca)
Lihat Juga :