Polemik Ijazah Jokowi, Rocky Gerung: Bawa ke Meja Sidang Akademis
Kamis, 26 Februari 2026 - 23:46 WIB
loading...
Rocky Gerung menilai percuma membawa kasus ijazah Joko Widodo (Jokowi) ke meja sidang. Menurutnya, dalil akademis seharusnya dijawab dengan dalil akademis pula, bukan dengan pasal KUHP. Foto/Ari Sandita
A
A
A
JAKARTA - Pengamat politik Rocky Gerung menilai percuma membawa kasus ijazah Joko Widodo ( Jokowi ) ke meja sidang. Menurutnya, dalil akademis seharusnya dijawab dengan dalil akademis pula, bukan dengan pasal KUHP .
"Jadi, kalau kasus yang ditulis Dokter Tifa ini dibawa ke meja sidang, di depan hakim, bahkan tidak akan selesai di meja sidang karena riset itu selalu sifatnya on going, in the making, nggak akan berhenti, jadi percuma membawa kasus ini ke meja sidang, bawa kasus ini ke meja sidang akademis. Itu yang dari awal saya inginkan," ujar Rocky saat memberikan pengantar atas peluncuran buku Otak Politik Jokowi di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, dalil akademis itu seharusnya dibantah secara akademis pula, bukan dengan pasal Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). "Jadi teman-teman semua, kita ingin pastikan, kita mulai dengan tradisi bahwa semua dalil akademis dibantah secara akademis. Perbantahan akademis itu perbantahan akademis, isinya dalil-dalil, bukan pasal KUHP," jelas Rocky.
Baca Juga: Dokter Tifa Luncurkan Buku Otak Politik Jokowi
Rocky lantas menyinggung tentang Jokowi dituntut bukan karena ijazahnya palsu, tapi karena dia berbohong punya ijazah asli. Dia lantas menceritakan tentang mantan Presiden AS Bill Clinton dihukum bukan karena terjadi hubungan seksual dalam peristiwa Monica Lewinsky, tapi karena dia berbohong.
"Dia (Clinton) dihukum karena berbohong. Dia bilang nggak ada, ternyata ada tuh, jadi soal moral tuh nggak ada urusan dengan kita, tapi berbohong itu adalah masalah hukum. Anggap ya, Anda mau selingkuh, Anda mau bikin amoral, urusan pribadi Anda, tapi kalau Anda sebagai pejabat publik ditanya dan Anda berbohong, Anda dihukum karena berbohong sebagai pejabat publik, bukan karena ijazahmu palsu," kata Rocky.
Rocky mengaku kasihan dengan Jokowi. "Kirim si ini, kirim si itu, dihajar oleh Rismon, dihajar oleh Tifa, dihajar oleh Roy. Itu-itu doang argumennya muter. Jadi kita ingin selamatkan Jokowi. Supaya dia kesakitannya itu tidak berlebih. Dan penyebab kesakitan Jokowi bukan Tifa, Roy, atau Rismon, tapi 'Termul' sendiri tuh. Kalau 'Termulnya' pinter, kasus ini udah selesai dari dua tahun lalu."
"Jadi, kalau kasus yang ditulis Dokter Tifa ini dibawa ke meja sidang, di depan hakim, bahkan tidak akan selesai di meja sidang karena riset itu selalu sifatnya on going, in the making, nggak akan berhenti, jadi percuma membawa kasus ini ke meja sidang, bawa kasus ini ke meja sidang akademis. Itu yang dari awal saya inginkan," ujar Rocky saat memberikan pengantar atas peluncuran buku Otak Politik Jokowi di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, dalil akademis itu seharusnya dibantah secara akademis pula, bukan dengan pasal Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). "Jadi teman-teman semua, kita ingin pastikan, kita mulai dengan tradisi bahwa semua dalil akademis dibantah secara akademis. Perbantahan akademis itu perbantahan akademis, isinya dalil-dalil, bukan pasal KUHP," jelas Rocky.
Baca Juga: Dokter Tifa Luncurkan Buku Otak Politik Jokowi
Rocky lantas menyinggung tentang Jokowi dituntut bukan karena ijazahnya palsu, tapi karena dia berbohong punya ijazah asli. Dia lantas menceritakan tentang mantan Presiden AS Bill Clinton dihukum bukan karena terjadi hubungan seksual dalam peristiwa Monica Lewinsky, tapi karena dia berbohong.
"Dia (Clinton) dihukum karena berbohong. Dia bilang nggak ada, ternyata ada tuh, jadi soal moral tuh nggak ada urusan dengan kita, tapi berbohong itu adalah masalah hukum. Anggap ya, Anda mau selingkuh, Anda mau bikin amoral, urusan pribadi Anda, tapi kalau Anda sebagai pejabat publik ditanya dan Anda berbohong, Anda dihukum karena berbohong sebagai pejabat publik, bukan karena ijazahmu palsu," kata Rocky.
Rocky mengaku kasihan dengan Jokowi. "Kirim si ini, kirim si itu, dihajar oleh Rismon, dihajar oleh Tifa, dihajar oleh Roy. Itu-itu doang argumennya muter. Jadi kita ingin selamatkan Jokowi. Supaya dia kesakitannya itu tidak berlebih. Dan penyebab kesakitan Jokowi bukan Tifa, Roy, atau Rismon, tapi 'Termul' sendiri tuh. Kalau 'Termulnya' pinter, kasus ini udah selesai dari dua tahun lalu."
(zik)
Lihat Juga :