Berkaca Kasus Ibu Bunuh Anak, Komisi X DPR Ingatkan Dampak Negatf PJJ
Rabu, 16 September 2020 - 11:50 WIB
loading...
Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda. Foto/SINDOnews/Abdul Rochim
A
A
A
JAKARTA - Kasus pembunuhan anak di Kota Tangerang, Banten yang merupakan dampak pembelajaran jarak jauh (PJJ) memicu keprihatinan mendalam Komisi X DPR.
Kasus ini menunjukkan metode pembelajaran tersebut juga berdampak dampak negatif dan membutuhkan penanganan lebih serius dari pemangku kepentingan (stakeholder) terkait.
“Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta Dinas Pendidikan (Disdik) di seluruh Indonesia harus benar-benar memantau pelaksanaan PJJ karena banyaknya kendala yang bisa memberikan tekanan psikis terhadap siswa, orang tua siswa, maupun para guru. Kasus pembunuhan anak oleh seorang ibu yang kesal akibat anak kesulitan mengikuti PJJ harus menjadi peringatan keras bagi kita semua,” tutur Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda, Rabu (16/9/2020).
Dia menilai, model pembelajaran jarak jauh mempunyai banyak kendala, mulai dari rendahnya literasi digital di sebagian besar ekosistem pendidikan nasional, keterbatasan kuota data, belum solidnya metode pembelajaran jarak jauh, hingga tidak meratanya sinyal internet di berbagai wilayah di Tanah Air.
“Berbagai kendala ini menciptakan tekanan psikologis yang lumayan besar bagi para siswa, guru, dan orang tua siswa,” katanya.(Baca juga: Orang Terkaya Indonesia Persoalkan PSBB, Anis: Nyawa Warga Lebih Berharga )
Kondisi tersebut, lanjut Huda diperparah dengan kondisi sosial-ekonomi yang kian berat sebagai dampak pandemi Covid-19. Banyaknya pemutusan hubungan kerja, pemotongan gaji, hingga hilangnya kesempata berusaha juga yang dialami sebagian orang tua siswa juga membuat beban hidup kian berat.
“Maka bisa jadi berbagai tekanan tersebut menciptakan ledakan emosional jika dipicu hal-hal yang terkesan sepele seperti anak yang tidak cepat mengerti saat melakukan pembelajaran jarak jauh,” katanya.(Baca juga: Menag Imbau Panitia Pengajian Ikut Jaga Keamanan Ulama )
Kasus ini menunjukkan metode pembelajaran tersebut juga berdampak dampak negatif dan membutuhkan penanganan lebih serius dari pemangku kepentingan (stakeholder) terkait.
“Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta Dinas Pendidikan (Disdik) di seluruh Indonesia harus benar-benar memantau pelaksanaan PJJ karena banyaknya kendala yang bisa memberikan tekanan psikis terhadap siswa, orang tua siswa, maupun para guru. Kasus pembunuhan anak oleh seorang ibu yang kesal akibat anak kesulitan mengikuti PJJ harus menjadi peringatan keras bagi kita semua,” tutur Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda, Rabu (16/9/2020).
Dia menilai, model pembelajaran jarak jauh mempunyai banyak kendala, mulai dari rendahnya literasi digital di sebagian besar ekosistem pendidikan nasional, keterbatasan kuota data, belum solidnya metode pembelajaran jarak jauh, hingga tidak meratanya sinyal internet di berbagai wilayah di Tanah Air.
“Berbagai kendala ini menciptakan tekanan psikologis yang lumayan besar bagi para siswa, guru, dan orang tua siswa,” katanya.(Baca juga: Orang Terkaya Indonesia Persoalkan PSBB, Anis: Nyawa Warga Lebih Berharga )
Kondisi tersebut, lanjut Huda diperparah dengan kondisi sosial-ekonomi yang kian berat sebagai dampak pandemi Covid-19. Banyaknya pemutusan hubungan kerja, pemotongan gaji, hingga hilangnya kesempata berusaha juga yang dialami sebagian orang tua siswa juga membuat beban hidup kian berat.
“Maka bisa jadi berbagai tekanan tersebut menciptakan ledakan emosional jika dipicu hal-hal yang terkesan sepele seperti anak yang tidak cepat mengerti saat melakukan pembelajaran jarak jauh,” katanya.(Baca juga: Menag Imbau Panitia Pengajian Ikut Jaga Keamanan Ulama )
Lihat Juga :