Bantu Penyintas Banjir Sumatera, PBNU Salurkan Sembako hingga Kirim Tim Trauma Healing
Selasa, 16 Desember 2025 - 17:05 WIB
loading...
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) melepas Relawan dan Bantuan untuk Aceh dan Sumatera Barat di Plaza PBNU, Jakarta. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ( PBNU ) mengerahkan seluruh elemen lembaga dan badan otonom (banom) untuk membantu korban bencana alam di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar). Mereka terdiri dari relawan hingga tim trauma healing.
Hal itu dikatakan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat Pelepasan Relawan dan Bantuan untuk Aceh dan Sumatera Barat di Plaza PBNU, Jakarta. Gus Yahya menegaskan NU terus berkomitmen membantu korban bencana dalam kondisi apa pun.
“Atas nama Pengurus Besar Nahdltul Ulama, saya menyampaikan bela sungkawa dan keprihatinan yang mendalam atas terjadinya bencana alam di beberapa daerah. Dan tentu saja tidak ada alasan bagi jam’iyah Nahdlatul Ulama, dalam keadaan apa pun, untuk tidak tetap hadir dalam khidmah berkontribusi dalam upaya penanggulangan dampak dari bencana-bencana yang terjadi tersebut,” ujarnya, Selasa (16/12/2025).
Baca juga: TNI Bersama Warga Perbaiki Jembatan Gantung di Aceh Tenggara untuk Buka Akses Antardesa
PBNU telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) bernama Tim NU Peduli yang terdiri dari berbagai elemen antara lain LPBI, Lazisnu, dan GP Ansor. Satgas ini bertugas mengoordinasikan langkah-langkah di lapangan, mulai dari pendirian posko, perekrutan relawan, hingga mobilisasi sumber daya.
“PBNU telah membentuk satgas khusus untuk keperluan itu, yang terdiri dari elemen-elemen LPBI, Lazisnu, dan Banom-banom. Beberapa tindakan telah dilakukan di lapangan, telah dibentuk posko-posko, telah dilakukan rekrutmen relawan-relawan, dan telah dimobilisasikan sumber daya-sumber daya untuk bisa disumbangkan kepada saudara-saudara kita yang terdampak oleh bencana,” katanya.
Baca juga: Jumlah Rumah Terdampak Banjir Sumatera Tembus 139 Ribu, Rusak Berat hingga Hanyut
Gus Yahya juga mengatakan PBNU secara intensif berkomunikasi dengan struktur NU di seluruh Indonesia, mulai dari pengurus wilayah hingga cabang, guna menggalang gerakan nasional kesetiakawanan NU.
“Alhamdulillah, dalam waktu beberapa minggu kita telah berhasil memobilisasi sejumlah resources yang untuk ukuran Nahdlatul Ulama cukup signifikan. Ini akan terus kita kembangkan bersama-sama dengan warga NU di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Gus Yahya menilai menghadapi tantangan bangsa, termasuk bencana alam, tidak ada pilihan lain selain membangun konsolidasi dan kebersamaan lintas elemen di lingkungan NU.
“Hadirnya NU dalam peristiwa-peristiwa seperti ini bukan semata soal kepentingan orang per orang, tetapi kepentingan bersama, kepentingan jam’iyah Nahdlatul Ulama, dan kepentingan segenap bangsa Indonesia,” tegasnya.
Gus Yahya juga menyampaikan perlunya rekaman data mengenai sumber daya dan bantuan yang dimiliki oleh NU. Hal ini guna mempersiapkan langkah tertentu jika suatu waktu dibutuhkan tindakan khusus.
“Saya minta ada sistem recording yang baik terkait data sehingga bisa mudah evaluasi apabila ada di tengah jalan membutuhkan respons tertentu karena kita juga belum tahu keadaan lapangan apakah membaik atau bagaimana,” katanya.
“Pada titik tertentu harus ada respons khusus yang dirancang khusus. Kita harus tahu betul resources kita. Bagaimana menggalang resources tambahan dari mana kita bisa dapatkan,” lanjutnya.
Gus Yahya juga menekankan terkait koordinasi unit yang sudah jalan dan menggalakkan kampanye solidaritas secara nasional. Ia meminta agar tim perlu mengajak seluruh warga NU untuk turut berkontribusi dalam membantu penanganan bencana.
“Hal itu bisa dilakukan melalui pengadaan forum bersama pengurus wilayah, pengurus cabang, bahkan hingga majelis wakil cabang atau pengurus ranting,” katanya.
Gus Yahya secara khusus menyebut Magelang, Sidoarjo, Cilacap, Bojonegoro, dan Mojokerto yang memiliki unit usaha untuk secara khusus bisa berkontribusi.
“Ada cabang yang kita tahu sudah punya mekanisme mobilisasi sumber daya yang kuat, misalnya yang selama ini pakai sistem Koin, bahkan ada yang sudah mengembangkan bisnis, bisa di-engage secara khusus,” katanya.
“Sehingga ini bukan hanya lalu menjadi semacam cara kita untuk membantu para warga yang terdampak oleh bencana, tapi juga kita bangkitkan solidaritas warga kita secara umum,” lanjutnya.
Terakhir, Gus Yahya juga meminta agar tim bekerja sama dengan badan unit pemerintahdalam penanganan bencana ini, mulai dari resmi sampai koordinasi teknis. Hal ini agar tidak tumpang tindih, tidak tabrakan di bawah dalam penanganannya.
“Sejak awal saya minta ada data resources yang kita punya. Supaya koordinasi. Kita punya relawan sejumlah ini. Supaya match dengan skema. Mudah-mudahan bermanfaat untuk menambal katakanlah gangguan kohesivitas yang terjadi beberapa waktu ini,” harapnya.
Gus Yahya menyebut, kebutuhan logistik serta tim relawan yang akan membantu penanggulangan bencana, termasuk trauma healing bagi warga akan segera diberangkatkan.Gus Yahya mengapresiasi Tim NU Peduli yang terus bergerak dan telah menghimpun dana bagi warga terdampak di Sumatra.
“Dari LPBI bantuan senilai Rp2,1 miliar, dari LAZISNU senilai Rp2,5 miliar, sedangkan oleh GP Ansor senilai Rp3,5 miliar. PBNU berharap mobilisasi solidaritas ini dapat terus diperluas dengan melibatkan partisipasi warga NU di seluruh Indonesia, hingga proses pemulihan bagi warga terdampak bencana,” katanya.
Hal itu dikatakan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat Pelepasan Relawan dan Bantuan untuk Aceh dan Sumatera Barat di Plaza PBNU, Jakarta. Gus Yahya menegaskan NU terus berkomitmen membantu korban bencana dalam kondisi apa pun.
“Atas nama Pengurus Besar Nahdltul Ulama, saya menyampaikan bela sungkawa dan keprihatinan yang mendalam atas terjadinya bencana alam di beberapa daerah. Dan tentu saja tidak ada alasan bagi jam’iyah Nahdlatul Ulama, dalam keadaan apa pun, untuk tidak tetap hadir dalam khidmah berkontribusi dalam upaya penanggulangan dampak dari bencana-bencana yang terjadi tersebut,” ujarnya, Selasa (16/12/2025).
Baca juga: TNI Bersama Warga Perbaiki Jembatan Gantung di Aceh Tenggara untuk Buka Akses Antardesa
PBNU telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) bernama Tim NU Peduli yang terdiri dari berbagai elemen antara lain LPBI, Lazisnu, dan GP Ansor. Satgas ini bertugas mengoordinasikan langkah-langkah di lapangan, mulai dari pendirian posko, perekrutan relawan, hingga mobilisasi sumber daya.
“PBNU telah membentuk satgas khusus untuk keperluan itu, yang terdiri dari elemen-elemen LPBI, Lazisnu, dan Banom-banom. Beberapa tindakan telah dilakukan di lapangan, telah dibentuk posko-posko, telah dilakukan rekrutmen relawan-relawan, dan telah dimobilisasikan sumber daya-sumber daya untuk bisa disumbangkan kepada saudara-saudara kita yang terdampak oleh bencana,” katanya.
Baca juga: Jumlah Rumah Terdampak Banjir Sumatera Tembus 139 Ribu, Rusak Berat hingga Hanyut
Gus Yahya juga mengatakan PBNU secara intensif berkomunikasi dengan struktur NU di seluruh Indonesia, mulai dari pengurus wilayah hingga cabang, guna menggalang gerakan nasional kesetiakawanan NU.
“Alhamdulillah, dalam waktu beberapa minggu kita telah berhasil memobilisasi sejumlah resources yang untuk ukuran Nahdlatul Ulama cukup signifikan. Ini akan terus kita kembangkan bersama-sama dengan warga NU di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Gus Yahya menilai menghadapi tantangan bangsa, termasuk bencana alam, tidak ada pilihan lain selain membangun konsolidasi dan kebersamaan lintas elemen di lingkungan NU.
“Hadirnya NU dalam peristiwa-peristiwa seperti ini bukan semata soal kepentingan orang per orang, tetapi kepentingan bersama, kepentingan jam’iyah Nahdlatul Ulama, dan kepentingan segenap bangsa Indonesia,” tegasnya.
Gus Yahya juga menyampaikan perlunya rekaman data mengenai sumber daya dan bantuan yang dimiliki oleh NU. Hal ini guna mempersiapkan langkah tertentu jika suatu waktu dibutuhkan tindakan khusus.
“Saya minta ada sistem recording yang baik terkait data sehingga bisa mudah evaluasi apabila ada di tengah jalan membutuhkan respons tertentu karena kita juga belum tahu keadaan lapangan apakah membaik atau bagaimana,” katanya.
“Pada titik tertentu harus ada respons khusus yang dirancang khusus. Kita harus tahu betul resources kita. Bagaimana menggalang resources tambahan dari mana kita bisa dapatkan,” lanjutnya.
Gus Yahya juga menekankan terkait koordinasi unit yang sudah jalan dan menggalakkan kampanye solidaritas secara nasional. Ia meminta agar tim perlu mengajak seluruh warga NU untuk turut berkontribusi dalam membantu penanganan bencana.
“Hal itu bisa dilakukan melalui pengadaan forum bersama pengurus wilayah, pengurus cabang, bahkan hingga majelis wakil cabang atau pengurus ranting,” katanya.
Gus Yahya secara khusus menyebut Magelang, Sidoarjo, Cilacap, Bojonegoro, dan Mojokerto yang memiliki unit usaha untuk secara khusus bisa berkontribusi.
“Ada cabang yang kita tahu sudah punya mekanisme mobilisasi sumber daya yang kuat, misalnya yang selama ini pakai sistem Koin, bahkan ada yang sudah mengembangkan bisnis, bisa di-engage secara khusus,” katanya.
“Sehingga ini bukan hanya lalu menjadi semacam cara kita untuk membantu para warga yang terdampak oleh bencana, tapi juga kita bangkitkan solidaritas warga kita secara umum,” lanjutnya.
Terakhir, Gus Yahya juga meminta agar tim bekerja sama dengan badan unit pemerintahdalam penanganan bencana ini, mulai dari resmi sampai koordinasi teknis. Hal ini agar tidak tumpang tindih, tidak tabrakan di bawah dalam penanganannya.
“Sejak awal saya minta ada data resources yang kita punya. Supaya koordinasi. Kita punya relawan sejumlah ini. Supaya match dengan skema. Mudah-mudahan bermanfaat untuk menambal katakanlah gangguan kohesivitas yang terjadi beberapa waktu ini,” harapnya.
Gus Yahya menyebut, kebutuhan logistik serta tim relawan yang akan membantu penanggulangan bencana, termasuk trauma healing bagi warga akan segera diberangkatkan.Gus Yahya mengapresiasi Tim NU Peduli yang terus bergerak dan telah menghimpun dana bagi warga terdampak di Sumatra.
“Dari LPBI bantuan senilai Rp2,1 miliar, dari LAZISNU senilai Rp2,5 miliar, sedangkan oleh GP Ansor senilai Rp3,5 miliar. PBNU berharap mobilisasi solidaritas ini dapat terus diperluas dengan melibatkan partisipasi warga NU di seluruh Indonesia, hingga proses pemulihan bagi warga terdampak bencana,” katanya.
(cip)
Lihat Juga :