Sambut Hari HAM Sedunia, Pemuda dan Mahasiswa Ajak Masyarakat Rawat Hak Asasi
Kamis, 11 Desember 2025 - 17:03 WIB
loading...
Memperingati Hari HAM Sedunia, Warga Muda bersama Sekolahpolkom, CCHRS, dan Himapol Indonesia menyelenggarakan agenda reflektif bertajuk Merawat HAM, Merawat Indonesia di UPN Veteran, Jakarta, Rabu (10/12/2025). Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia , Warga Muda bersama Sekolah Politik dan Komunikasi Indonesia (Sekolahpolkom), Center for Civic and Human Rights Studies (CCHRS), dan Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapol) Indonesia menyelenggarakan agenda reflektif bertajuk “Merawat HAM, Merawat Indonesia” di UPN Veteran, Jakarta, Rabu (10/12/2025). Kegiatan ini turut menggandeng berbagai organisasi muda seperti Gotong Royong Dong, Genre Indonesia, Teman Baru, DKN Pramuka, Timur Network, Trash Ranger, dan Zeekend.
Kegiatan dibuka Direktur Eksekutif Warga Muda I Putu Arya Aditia Utama. Menurut dia, keberpihakan generasi muda pada isu HAM bukan hanya sikap moral, tetapi fondasi masa depan Indonesia. “Kehadiran orang muda dan mahasiswa di forum ini menunjukkan bahwa kesadaran HAM tidak lahir dari buku teks atau seminar saja, tetapi tumbuh dari pengalaman hidup kita,” ujarnya.
Baca juga: Hari HAM Sedunia Momentum Negara Penuhi Hak Warga Negara
Berbicara HAM, berarti bicara masa depan Indonesia yang ingin kita rawat, yang lebih adil, aman, dan manusiawi. Dia mengajak perubahan besar dalam isu kemanusiaan selalu dimulai dari keberanian orang mudanya.
Karena itu, dia menekankan momentum Hari HAM dimaknai sebagai ajakan merawat nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar perayaan seremoni.
Peneliti CCHRS Sekar Ayu menyoroti pentingnya memberikan ruang dialog yang aman dan setara bagi orang muda agar dapat memahami persoalan HAM secara utuh. “Generasi muda adalah kelompok yang paling sering terdampak persoalan HAM, tetapi justru yang paling jarang diberi ruang bersuara. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa orang muda bukan objek isu HAM melainkan subjek penting yang harus didengar dan dilibatkan,” ungkapnya.
Menurut Sekar, memperluas ruang partisipasi anak muda menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekosistem HAM yang berkelanjutan di Indonesia.
Ketua DKN Pramuka Raihan Sujaya menyampaikan gerakan pramuka selalu berpedoman dalam menjunjung tinggi HAM sehingga memperkuat karakter generasi muda adalah jalan dalam merawat HAM di Indonesia.
Sejumlah ahli dan pegiat HAM juga menghadiri kegiatan ini yakni Fauzan Alaydrus (Peneliti Lokataru Foundation), Julianta Moreng (Peneliti AJAR), Satya Azyumar (Campaigner Amnesty International Indonesia), M Rizki Prawira (Dosen UPN Veteran Jakarta), dan Akbar Restu Fauzi (Komisaris Warga Muda).
M Rizki Prawira menekankan pentingnya menghubungkan pemahaman teoritis HAM dengan praktik di kehidupan nyata. “HAM bukan hanya konsep di ruang kuliah. Dia baru bermakna ketika diterjemahkan dalam sikap, keberanian, dan cara kita merespons ketidakadilan di sekitar. Mahasiswa perlu melihat bahwa teori HAM harus hidup dalam praktik sehari-hari kita sebagai warga,” ujarnya.
Kegiatan dibuka Direktur Eksekutif Warga Muda I Putu Arya Aditia Utama. Menurut dia, keberpihakan generasi muda pada isu HAM bukan hanya sikap moral, tetapi fondasi masa depan Indonesia. “Kehadiran orang muda dan mahasiswa di forum ini menunjukkan bahwa kesadaran HAM tidak lahir dari buku teks atau seminar saja, tetapi tumbuh dari pengalaman hidup kita,” ujarnya.
Baca juga: Hari HAM Sedunia Momentum Negara Penuhi Hak Warga Negara
Berbicara HAM, berarti bicara masa depan Indonesia yang ingin kita rawat, yang lebih adil, aman, dan manusiawi. Dia mengajak perubahan besar dalam isu kemanusiaan selalu dimulai dari keberanian orang mudanya.
Karena itu, dia menekankan momentum Hari HAM dimaknai sebagai ajakan merawat nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar perayaan seremoni.
Peneliti CCHRS Sekar Ayu menyoroti pentingnya memberikan ruang dialog yang aman dan setara bagi orang muda agar dapat memahami persoalan HAM secara utuh. “Generasi muda adalah kelompok yang paling sering terdampak persoalan HAM, tetapi justru yang paling jarang diberi ruang bersuara. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa orang muda bukan objek isu HAM melainkan subjek penting yang harus didengar dan dilibatkan,” ungkapnya.
Menurut Sekar, memperluas ruang partisipasi anak muda menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekosistem HAM yang berkelanjutan di Indonesia.
Ketua DKN Pramuka Raihan Sujaya menyampaikan gerakan pramuka selalu berpedoman dalam menjunjung tinggi HAM sehingga memperkuat karakter generasi muda adalah jalan dalam merawat HAM di Indonesia.
Sejumlah ahli dan pegiat HAM juga menghadiri kegiatan ini yakni Fauzan Alaydrus (Peneliti Lokataru Foundation), Julianta Moreng (Peneliti AJAR), Satya Azyumar (Campaigner Amnesty International Indonesia), M Rizki Prawira (Dosen UPN Veteran Jakarta), dan Akbar Restu Fauzi (Komisaris Warga Muda).
M Rizki Prawira menekankan pentingnya menghubungkan pemahaman teoritis HAM dengan praktik di kehidupan nyata. “HAM bukan hanya konsep di ruang kuliah. Dia baru bermakna ketika diterjemahkan dalam sikap, keberanian, dan cara kita merespons ketidakadilan di sekitar. Mahasiswa perlu melihat bahwa teori HAM harus hidup dalam praktik sehari-hari kita sebagai warga,” ujarnya.
(jon)
Lihat Juga :