Aliansi Mahasiswa Indonesia Sepakat Soeharto Jadi Pahlawan Nasional
Senin, 10 November 2025 - 20:57 WIB
loading...
Aliansi Mahasiswa Indonesia bersama Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia, BEM BEM PTNU, dan BEM BEM KSI mendukung Presiden ke-2 Soeharto menjadi pahlawan nasional saat Diskusi Publik Nasional di Gedung Panti Trisula Perwari, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025
A
A
A
JAKARTA - Aliansi Mahasiswa Indonesia bersama Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia, BEM Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama Se-Nusantara (BEM PTNU), dan BEM Kristiani Seluruh Indonesia (BEM KSI) menggelar Diskusi Publik Nasional bertajuk Keteladanan & Kepeloporan Soeharto sebagai Bapak Pembangunan: Mereka mendukung Presiden ke-2 Soeharto menjadi pahlawan nasional .
Dukungan dituangkan lewat penandatanganan petisi nasional. Acara yang ini diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan organisasi lintas agama digelar di Gedung Panti Trisula Perwari, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025). Baca juga: Daftar Lengkap 10 Pahlawan Nasional Tahun 2025 dan Jasanya bagi Negara
Diskusi dipandu Gangga Listiawan, Bendahara Nasional BEM PTNU, dan menghadirkan tiga pembicara lintas organisasi mahasiswa. Pembicara pertama, Charles Gilbert, Koordinator Pusat BEM KSI, mengangkat tema “Soeharto dan Warisan Pembangunan Nasional: Fondasi Menuju Indonesia Maju.” Ia menilai Soeharto berhasil membangun pondasi kokoh bagi kemajuan bangsa.
“Soeharto adalah arsitek stabilitas nasional. Ia menata ekonomi, memperkuat ketahanan nasional, dan membangun infrastruktur besar yang manfaatnya masih dirasakan hingga kini. Memberikan gelar Pahlawan Nasional kepadanya adalah bentuk keadilan sejarah,” katanya.
Pembicara kedua, Achmad Baha’ur Rifqi, Presiden Nasional BEM PTNU, memaparkan topik “Kemandirian dan Stabilitas Nasional: Alasan Soeharto Layak Menjadi Pahlawan Pembangunan.” Ia menilai bahwa keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan, pengendalian inflasi, serta pemerataan pembangunan adalah buah dari kepemimpinan Soeharto.
“Pahlawan tidak selalu berjuang dengan senjata. Soeharto berjuang membangun bangsa dari ketahanan pangan hingga kemandirian industri. Ia menjadikan Indonesia berdikari secara ekonomi,” ujarnya.
Sementara itu, Ahmad Samsul Munir, Presiden Nasional Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia, memberikan perspektif pesantren dalam topik “Keteladanan Soeharto dalam Membangun Bangsa: Dari Pembangunan Desa hingga Ketahanan Nasional.”
“Soeharto membangun dari desa. Program Inpres Desa Tertinggal, pembangunan sekolah, hingga peningkatan ekonomi rakyat adalah bukti nyata keberpihakannya pada akar rumput. Sosok seperti ini pantas dikenang sebagai pahlawan pembangunan Indonesia,” tuturnya. Baca juga: Momen Titiek, Tutut, dan Bambang Berpelukan usai Soeharto Diberi Gelar Pahlawan
Setelah sesi diskusi dan tanya jawab, acara dilanjutkan dengan penandatanganan petisi nasional oleh para perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Petisi ini menjadi puncak acara dan simbol dukungan moral mahasiswa agar pemerintah menimbang pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 11.00 hingga 15.00 WIB itu ditutup dengan doa bersama dan deklarasi dukungan. Para peserta menyebut petisi ini sebagai bentuk kesadaran moral generasi muda untuk menghormati jasa Bapak Pembangunan Indonesia.
Dukungan dituangkan lewat penandatanganan petisi nasional. Acara yang ini diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan organisasi lintas agama digelar di Gedung Panti Trisula Perwari, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025). Baca juga: Daftar Lengkap 10 Pahlawan Nasional Tahun 2025 dan Jasanya bagi Negara
Diskusi dipandu Gangga Listiawan, Bendahara Nasional BEM PTNU, dan menghadirkan tiga pembicara lintas organisasi mahasiswa. Pembicara pertama, Charles Gilbert, Koordinator Pusat BEM KSI, mengangkat tema “Soeharto dan Warisan Pembangunan Nasional: Fondasi Menuju Indonesia Maju.” Ia menilai Soeharto berhasil membangun pondasi kokoh bagi kemajuan bangsa.
“Soeharto adalah arsitek stabilitas nasional. Ia menata ekonomi, memperkuat ketahanan nasional, dan membangun infrastruktur besar yang manfaatnya masih dirasakan hingga kini. Memberikan gelar Pahlawan Nasional kepadanya adalah bentuk keadilan sejarah,” katanya.
Pembicara kedua, Achmad Baha’ur Rifqi, Presiden Nasional BEM PTNU, memaparkan topik “Kemandirian dan Stabilitas Nasional: Alasan Soeharto Layak Menjadi Pahlawan Pembangunan.” Ia menilai bahwa keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan, pengendalian inflasi, serta pemerataan pembangunan adalah buah dari kepemimpinan Soeharto.
“Pahlawan tidak selalu berjuang dengan senjata. Soeharto berjuang membangun bangsa dari ketahanan pangan hingga kemandirian industri. Ia menjadikan Indonesia berdikari secara ekonomi,” ujarnya.
Sementara itu, Ahmad Samsul Munir, Presiden Nasional Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia, memberikan perspektif pesantren dalam topik “Keteladanan Soeharto dalam Membangun Bangsa: Dari Pembangunan Desa hingga Ketahanan Nasional.”
“Soeharto membangun dari desa. Program Inpres Desa Tertinggal, pembangunan sekolah, hingga peningkatan ekonomi rakyat adalah bukti nyata keberpihakannya pada akar rumput. Sosok seperti ini pantas dikenang sebagai pahlawan pembangunan Indonesia,” tuturnya. Baca juga: Momen Titiek, Tutut, dan Bambang Berpelukan usai Soeharto Diberi Gelar Pahlawan
Setelah sesi diskusi dan tanya jawab, acara dilanjutkan dengan penandatanganan petisi nasional oleh para perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Petisi ini menjadi puncak acara dan simbol dukungan moral mahasiswa agar pemerintah menimbang pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 11.00 hingga 15.00 WIB itu ditutup dengan doa bersama dan deklarasi dukungan. Para peserta menyebut petisi ini sebagai bentuk kesadaran moral generasi muda untuk menghormati jasa Bapak Pembangunan Indonesia.
(poe)
Lihat Juga :