Saatnya Berdamai dengan Sejarah melalui Pemberian Gelar Pahlawan Nasional
Minggu, 09 November 2025 - 17:33 WIB
loading...
Direktur Observo Center Muhammad Arwani Deni menyatakan saatnya bangsa Indonesia belajar berdamai dengan pemberian gelar pahlawan nasional kepada setiap pemimpin yang pernah mengabdi untuk negeri ini. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Saatnya bangsa Indonesia belajar berdamai dengan pemberian gelar pahlawan nasional kepada setiap pemimpin yang pernah mengabdi untuk negeri ini. Siapa pun tokohnya, termasuk mantan Presiden Soeharto pasti mempunyai sisi gelap.
Menurut Direktur Observo Center Muhammad Arwani Deni, penilaian terhadap figur nasional semestinya tidak dilakukan dengan kacamata personal melainkan dengan pandangan objektif terhadap kontribusi yang telah diberikan kepada bangsa dan negara.
Baca juga: Gus Dur Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Cak Imin: Bangga dan Bersyukur
“Beliau (Soeharto) juga punya jasa besar bagi negeri ini. Kalau bangsa ini terus menimbang sejarah dengan perasaan, bukan dengan kebijaksanaan, kita tak akan pernah maju,” ujar Arwani, Minggu (9/11/2025).
Dia menilai jasa Soeharto dalam menjaga stabilitas politik, memperkuat kedaulatan ekonomi, dan meletakkan fondasi pembangunan nasional merupakan bagian dari sejarah yang tidak bisa dihapus. Memberi gelar pahlawan nasional kepada Soeharto bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan masa pemerintahannya melainkan bentuk penghormatan atas kontribusi nyata terhadap bangsa.
“Bangsa besar tidak menafikan luka, tetapi juga tidak melupakan jasa. Pengakuan terhadap Soeharto adalah bentuk kedewasaan bernegara,” katanya.
Arwani menuturkan hampir semua partai politik di Indonesia selalu menyerukan rekonsiliasi nasional dan perdamaian sosial. Karena itu, dia menilai perdebatan soal gelar pahlawan nasional seharusnya tidak menjadi alat reproduksi luka sejarah.
“Bukankah semua partai politik bicara soal perdamaian dan persatuan? Maka, konsistensi itu harus diwujudkan, bukan hanya diucapkan,” ujarnya.
Menurut dia, bangsa yang dewasa adalah bangsa yang berani mengakui jasa setiap pemimpinnya, tanpa harus terjebak pada bayang-bayang masa lalu.
“Saatnya kita berdamai dengan sejarah. Bukan untuk melupakan, tapi untuk menghormati. Karena tanpa masa lalu, tak ada Indonesia hari ini,” ucapnya.
Menurut Direktur Observo Center Muhammad Arwani Deni, penilaian terhadap figur nasional semestinya tidak dilakukan dengan kacamata personal melainkan dengan pandangan objektif terhadap kontribusi yang telah diberikan kepada bangsa dan negara.
Baca juga: Gus Dur Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Cak Imin: Bangga dan Bersyukur
“Beliau (Soeharto) juga punya jasa besar bagi negeri ini. Kalau bangsa ini terus menimbang sejarah dengan perasaan, bukan dengan kebijaksanaan, kita tak akan pernah maju,” ujar Arwani, Minggu (9/11/2025).
Dia menilai jasa Soeharto dalam menjaga stabilitas politik, memperkuat kedaulatan ekonomi, dan meletakkan fondasi pembangunan nasional merupakan bagian dari sejarah yang tidak bisa dihapus. Memberi gelar pahlawan nasional kepada Soeharto bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan masa pemerintahannya melainkan bentuk penghormatan atas kontribusi nyata terhadap bangsa.
“Bangsa besar tidak menafikan luka, tetapi juga tidak melupakan jasa. Pengakuan terhadap Soeharto adalah bentuk kedewasaan bernegara,” katanya.
Arwani menuturkan hampir semua partai politik di Indonesia selalu menyerukan rekonsiliasi nasional dan perdamaian sosial. Karena itu, dia menilai perdebatan soal gelar pahlawan nasional seharusnya tidak menjadi alat reproduksi luka sejarah.
“Bukankah semua partai politik bicara soal perdamaian dan persatuan? Maka, konsistensi itu harus diwujudkan, bukan hanya diucapkan,” ujarnya.
Menurut dia, bangsa yang dewasa adalah bangsa yang berani mengakui jasa setiap pemimpinnya, tanpa harus terjebak pada bayang-bayang masa lalu.
“Saatnya kita berdamai dengan sejarah. Bukan untuk melupakan, tapi untuk menghormati. Karena tanpa masa lalu, tak ada Indonesia hari ini,” ucapnya.
(jon)
Lihat Juga :