Konferensi Buruh Internasional Fiji, Ketum IMPPI Ungkap Peran Penting ILO
Kamis, 16 Oktober 2025 - 18:21 WIB
loading...
Ketua Umum Serikat Pekerja IMPPI William Yani Wea bersama Perdana Menteri Fiji, Sitiveni Rabuka. foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Konferensi Regional Konfederasi Serikat Pekerja Internasional Asia Pasifik (ITUC–AP) digelar di Nadi, Fiji. Kegiatan yang berlangsung pada 15–16 Oktober 2025 ini membahas sejumla isu strategis.
Ketua Umum Serikat Pekerja Informal Migran Pekerja Profesional Indonesia (IMPPI) William Yani Wea hadir mewakili Organisasi KSPSI AGN dalam forum bergengsi tersebut. Dalam perjalanannya menuju Fiji, William sempat bertemu sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang akan bekerja di kapal nelayan di wilayah Fiji.
“Fiji kini menjadi salah satu destinasi menarik bagi pelaut asal Indonesia,” ujar kandidat doktor di IPDN, Kamis (16/10/2025).
Menurut William, Konferensi ITUC–AP mempertemukan berbagai organisasi serikat pekerja dari kawasan Asia Pasifik dengan tujuan memperkuat solidaritas global dalam memperjuangkan demokrasi, keadilan sosial, serta pekerjaan yang layak bagi seluruh pekerja di dunia.
Baca juga: SP PLN Minta Kepmen ESDM No. 188/2025 Ditinjau Ulang
Dari Indonesia, hadir dua delegasi yaitu William Yani Wea dari SP IMPPI KSPSI AGN dan Elly Rosita Nababan dari KSBSI. Dalam forum tersebut, para delegasi menyampaikan pernyataan solidaritas global untuk perubahan, menegaskan kembali pentingnya komitmen dunia terhadap hak-hak pekerja dan demokrasi yang sejati.
William menekankan pentingnya peran Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dalam menegakkan nilai-nilai keadilan global. “Harapan kita terletak pada ketegasan ILO dalam menerapkan Pasal 33 konstitusinya,” ujarnya.
William juga menyoroti peran generasi muda yang semakin vokal menuntut perubahan dan menolak ketidakadilan. “Kita bukan sekadar sebuah gerakan, kita adalah kekuatan global untuk perubahan. Mari kita rebut kembali demokrasi, mari kita tuntut keadilan, dan mari kita wujudkan masa depan yang lebih baik bagi semua pekerja di seluruh dunia,” tegasnya.
Baca juga: 20 Kolonel Pecah Bintang usai Dapat Promosi Jabatan Akhir September 2025
Selain itu, William juga memaparkan tentang perayaan May Day di Indonesia yang berlangsung meriah dan dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di kawasan Monas, Jakarta.
Perdana Menteri Fiji Sitiveni Rabuka menegaskan komitmen pemerintah Fiji untuk menegakkan hak-hak pekerja sebagai prinsip yang tidak dapat dinegosiasikan. Rabuka menyerukan kolaborasi erat antara pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja sebagai fondasi bagi masyarakat yang adil dan inklusif.
Rabuka menegaskan hak-hak buruh merupakan bagian dari hak asasi manusia, serta menautkannya dengan upaya pemerintah koalisi Fiji dalam memulihkan persatuan nasional, membangun kepercayaan publik, dan menguatkan nilai-nilai moral berbasis iman, kebaikan, dan kasih.
“Sejumlah reformasi ketenagakerjaan tengah dijalankan, termasuk peninjauan dan pencabutan undang-undang perburuhan yang represif, revitalisasi Wages Council, serta perubahan pada Undang-Undang Fiji National Provident Fund (FNPF) guna memulihkan perwakilan pekerja,” paparnya.
Pemerintah Fiji juga tengah meninjau kembali Undang-Undang Hubungan Ketenagakerjaan (Employment Relations Act) agar selaras dengan konvensi ILO, terutama dalam menjamin kebebasan berserikat dan perundingan kolektif.
Rabuka menekankan pentingnya perlindungan setara bagi pekerja lokal maupun migran, serta menolak segala bentuk intimidasi di tempat kerja. “Fiji kini berinvestasi dalam pelatihan keterampilan, pemberdayaan perempuan dan generasi muda, serta peningkatan layanan kesehatan, perumahan, dan kesejahteraan masyarakat pedesaan,” ujarnya.
Partisipasi William Yani Wea dalam forum ITUC–AP ini memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional sebagai negara yang aktif memperjuangkan keadilan sosial, hak pekerja, dan demokrasi global yang inklusif.
Ketua Umum Serikat Pekerja Informal Migran Pekerja Profesional Indonesia (IMPPI) William Yani Wea hadir mewakili Organisasi KSPSI AGN dalam forum bergengsi tersebut. Dalam perjalanannya menuju Fiji, William sempat bertemu sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang akan bekerja di kapal nelayan di wilayah Fiji.
“Fiji kini menjadi salah satu destinasi menarik bagi pelaut asal Indonesia,” ujar kandidat doktor di IPDN, Kamis (16/10/2025).
Menurut William, Konferensi ITUC–AP mempertemukan berbagai organisasi serikat pekerja dari kawasan Asia Pasifik dengan tujuan memperkuat solidaritas global dalam memperjuangkan demokrasi, keadilan sosial, serta pekerjaan yang layak bagi seluruh pekerja di dunia.
Baca juga: SP PLN Minta Kepmen ESDM No. 188/2025 Ditinjau Ulang
Dari Indonesia, hadir dua delegasi yaitu William Yani Wea dari SP IMPPI KSPSI AGN dan Elly Rosita Nababan dari KSBSI. Dalam forum tersebut, para delegasi menyampaikan pernyataan solidaritas global untuk perubahan, menegaskan kembali pentingnya komitmen dunia terhadap hak-hak pekerja dan demokrasi yang sejati.
William menekankan pentingnya peran Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dalam menegakkan nilai-nilai keadilan global. “Harapan kita terletak pada ketegasan ILO dalam menerapkan Pasal 33 konstitusinya,” ujarnya.
William juga menyoroti peran generasi muda yang semakin vokal menuntut perubahan dan menolak ketidakadilan. “Kita bukan sekadar sebuah gerakan, kita adalah kekuatan global untuk perubahan. Mari kita rebut kembali demokrasi, mari kita tuntut keadilan, dan mari kita wujudkan masa depan yang lebih baik bagi semua pekerja di seluruh dunia,” tegasnya.
Baca juga: 20 Kolonel Pecah Bintang usai Dapat Promosi Jabatan Akhir September 2025
Selain itu, William juga memaparkan tentang perayaan May Day di Indonesia yang berlangsung meriah dan dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di kawasan Monas, Jakarta.
Perdana Menteri Fiji Sitiveni Rabuka menegaskan komitmen pemerintah Fiji untuk menegakkan hak-hak pekerja sebagai prinsip yang tidak dapat dinegosiasikan. Rabuka menyerukan kolaborasi erat antara pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja sebagai fondasi bagi masyarakat yang adil dan inklusif.
Rabuka menegaskan hak-hak buruh merupakan bagian dari hak asasi manusia, serta menautkannya dengan upaya pemerintah koalisi Fiji dalam memulihkan persatuan nasional, membangun kepercayaan publik, dan menguatkan nilai-nilai moral berbasis iman, kebaikan, dan kasih.
“Sejumlah reformasi ketenagakerjaan tengah dijalankan, termasuk peninjauan dan pencabutan undang-undang perburuhan yang represif, revitalisasi Wages Council, serta perubahan pada Undang-Undang Fiji National Provident Fund (FNPF) guna memulihkan perwakilan pekerja,” paparnya.
Pemerintah Fiji juga tengah meninjau kembali Undang-Undang Hubungan Ketenagakerjaan (Employment Relations Act) agar selaras dengan konvensi ILO, terutama dalam menjamin kebebasan berserikat dan perundingan kolektif.
Rabuka menekankan pentingnya perlindungan setara bagi pekerja lokal maupun migran, serta menolak segala bentuk intimidasi di tempat kerja. “Fiji kini berinvestasi dalam pelatihan keterampilan, pemberdayaan perempuan dan generasi muda, serta peningkatan layanan kesehatan, perumahan, dan kesejahteraan masyarakat pedesaan,” ujarnya.
Partisipasi William Yani Wea dalam forum ITUC–AP ini memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional sebagai negara yang aktif memperjuangkan keadilan sosial, hak pekerja, dan demokrasi global yang inklusif.
(cip)
Lihat Juga :