Cak Udin: Santri Memiliki Peranan Penting dalam Kehidupan Bangsa
Senin, 13 Oktober 2025 - 13:57 WIB
loading...
Anggota MPR Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) M. Hasanuddin Wahid Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’had Aly (STAIMA) Al Hikam, Malang. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Anggota MPR Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) M. Hasanuddin Wahid Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’had Aly (STAIMA) Al Hikam, Malang. Dalam kesempatan itu, dia membahas peran santri dalam pembangunan bangsa dan negara.
Menurut Cak Udin, santri memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah arus digitalisasi yang kian masif. Menurutnya, menjadi santri sekaligus mahasiswa memiliki nilai dan tanggung jawab moral yang lebih besar.
"Jadi santri plus mahasiswa itu nilainya lebih dari sekadar menjadi mahasiswa. Beban dan tanggung jawabnya juga lebih tinggi. Santri itu tidak ada bekasnya. Bekas santri itu tidak ada. Sekali menjadi santri Al Hikam, selamanya menjadi santri Al Hikam, dan selama itu juga cinta NKRI,” ujarnya, Senin (13/10/2025).
Baca juga: Anggota MPR Ida Fauziyah Tekankan Penguatan 4 Pilar Kebangsaan di Jakarta
Ia menekankan, kecintaan generasi muda terhadap NKRI di era disrupsi sangat bergantung pada lingkungan dan figur yang mereka temui. "Kalau mereka melihat kiai, nyai, para gus, ning, dan para dosen cinta terhadap NKRI, maka otomatis mereka juga akan tumbuh menjadi generasi yang cinta NKRI," jelasnya.
Pria yang menjabat Sekjen PKB ini menyampaikan bahwa santri memiliki keunggulan karakter yang khas karena dibekali nilai, moral, dan adab yang kuat sejak di pesantren. “Mahasiswa yang hebat belum tentu menjadi santri yang hebat. Tapi kalau menjadi santri yang hebat, lalu kuliah, saya yakin dia akan menjadi mahasiswa yang hebat,” ujarnya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam Malang KH. Muhammad Nafi’ menegaskan bahwa karakter santri sejatinya sudah melekat dan dihayati para santri sejak awal.
“Basis karakter santri itu sudah dihafalkan, seperti yang ada dalam mars dan hymne STAIMA Al Hikam, serta trilogi motto Al Hikam. Apapun statusnya, santri tetap membawa nilai-nilai itu baik saat menjadi mahasiswa maupun setelahnya,” tutur KH. Nafi’.
Ia menambahkan, santri memiliki tiga cinta utama yang menjadi fondasi moralnya: cinta kepada Aswaja, cinta kepada Nahdlatul Ulama, dan cinta kepada NKRI.
“Santri cinta Aswaja karena Islam Aswaja adalah Islam paling autentik warisan Rasulullah SAW. Santri cinta NU karena NU adalah wadah ide dan gagasan Islam Aswaja di Indonesia. Dan santri cinta NKRI karena menurut ulama NU, berdirinya NKRI sah secara syariat Rasulullah SAW,” ungkapnya.
Acara sosialisasi tersebut juga dihadiri oleh sejumlah tokoh dan civitas akademika STAIMA Al Hikam, di antaranya Nyai Mutammimah Hasyim (Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Hikam Malang), Dr. Laili Abidah, M.Psi. (Waka I STAIMA Al Hikam Malang), Prof. Kasuwi Syaiban (Direktur Pascasarjana STAIMA Al Hikam), Gus Edi Hayatullah (Waka II STAIMA Malang), Ustaz Nur Kholis (Kepala Pesantren Al Hikam), serta para dosen dan 400 mahasiswa.
Melalui kegiatan ini, Cak Udin berharap para santri dapat terus menjadi pelopor penguatan nilai-nilai kebangsaan di era digital yang penuh tantangan, sekaligus menjaga warisan moral dan spiritual pesantren yang menjadi jati diri bangsa.
Menurut Cak Udin, santri memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah arus digitalisasi yang kian masif. Menurutnya, menjadi santri sekaligus mahasiswa memiliki nilai dan tanggung jawab moral yang lebih besar.
"Jadi santri plus mahasiswa itu nilainya lebih dari sekadar menjadi mahasiswa. Beban dan tanggung jawabnya juga lebih tinggi. Santri itu tidak ada bekasnya. Bekas santri itu tidak ada. Sekali menjadi santri Al Hikam, selamanya menjadi santri Al Hikam, dan selama itu juga cinta NKRI,” ujarnya, Senin (13/10/2025).
Baca juga: Anggota MPR Ida Fauziyah Tekankan Penguatan 4 Pilar Kebangsaan di Jakarta
Ia menekankan, kecintaan generasi muda terhadap NKRI di era disrupsi sangat bergantung pada lingkungan dan figur yang mereka temui. "Kalau mereka melihat kiai, nyai, para gus, ning, dan para dosen cinta terhadap NKRI, maka otomatis mereka juga akan tumbuh menjadi generasi yang cinta NKRI," jelasnya.
Pria yang menjabat Sekjen PKB ini menyampaikan bahwa santri memiliki keunggulan karakter yang khas karena dibekali nilai, moral, dan adab yang kuat sejak di pesantren. “Mahasiswa yang hebat belum tentu menjadi santri yang hebat. Tapi kalau menjadi santri yang hebat, lalu kuliah, saya yakin dia akan menjadi mahasiswa yang hebat,” ujarnya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam Malang KH. Muhammad Nafi’ menegaskan bahwa karakter santri sejatinya sudah melekat dan dihayati para santri sejak awal.
“Basis karakter santri itu sudah dihafalkan, seperti yang ada dalam mars dan hymne STAIMA Al Hikam, serta trilogi motto Al Hikam. Apapun statusnya, santri tetap membawa nilai-nilai itu baik saat menjadi mahasiswa maupun setelahnya,” tutur KH. Nafi’.
Ia menambahkan, santri memiliki tiga cinta utama yang menjadi fondasi moralnya: cinta kepada Aswaja, cinta kepada Nahdlatul Ulama, dan cinta kepada NKRI.
“Santri cinta Aswaja karena Islam Aswaja adalah Islam paling autentik warisan Rasulullah SAW. Santri cinta NU karena NU adalah wadah ide dan gagasan Islam Aswaja di Indonesia. Dan santri cinta NKRI karena menurut ulama NU, berdirinya NKRI sah secara syariat Rasulullah SAW,” ungkapnya.
Acara sosialisasi tersebut juga dihadiri oleh sejumlah tokoh dan civitas akademika STAIMA Al Hikam, di antaranya Nyai Mutammimah Hasyim (Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Hikam Malang), Dr. Laili Abidah, M.Psi. (Waka I STAIMA Al Hikam Malang), Prof. Kasuwi Syaiban (Direktur Pascasarjana STAIMA Al Hikam), Gus Edi Hayatullah (Waka II STAIMA Malang), Ustaz Nur Kholis (Kepala Pesantren Al Hikam), serta para dosen dan 400 mahasiswa.
Melalui kegiatan ini, Cak Udin berharap para santri dapat terus menjadi pelopor penguatan nilai-nilai kebangsaan di era digital yang penuh tantangan, sekaligus menjaga warisan moral dan spiritual pesantren yang menjadi jati diri bangsa.
(rca)
Lihat Juga :