Akademi Keluarga Indonesia Bekali Remaja Menjadi Generasi Emas Berkarakter Kuat
Kamis, 18 September 2025 - 23:03 WIB
loading...
A
A
A
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi mengatakan, remaja adalah generasi masa depan yang akan menjadi pemimpin di tahun 2045.
"Ibadah jangan lupa karena agama menjadi fondasi yang sangat penting ketika kalian menjalani kehidupan. Juga hormati dan sayangi orang tua dan guru kalian. Dan belajar maksimal, gunakan waktu sebaik-baiknya," ujar Arifatul memberikan pesan kepada 167 remaja yang hadir sebagai peserta Akademi Keluarga Indonesia 2025.
Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) Institut Pertanian Bogor Yulina Eva Riany menyampaikan bahwa remaja menjadi kelompok paling aktif di dunia digital (digital native), tetapi juga paling rentan terhadap pengaruh negatif seperti cyberbullying, hoaks, kecanduan gawai, dan krisis identitas.
Untuk itu, diperlukan strategi bagi remaja menghadapi tantangan di dunia digital, antara lain mengatur screen time, memilih konten positif (edukasi, kreativitas, dan inspirasi), membangun identitas sehat, mengembangkan literasi digital, serta memiliki karakter unggul.
Untuk menjadi Generasi Emas Indonesia, kesehatan mental remaja juga perlu diperhatikan dalam penyiapan kehidupan berkeluarga. Hal ini disampaikan Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta Taufiq Fredrik Pasiak.
Saat remaja, otak bagian logika dan kontrol masih berkembang, sementara otak bagian emosi sudah aktif penuh. Hasilnya, remaja mudah emosi, cepat jatuh cinta tapi juga penuh ide dan semangat. Kadang sulit konsentrasi atau gampang marah.
"Yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental remaja adalah mengendalikan emosi, mengenali diri, memilih teman sehat, bijak di media sosial, belajar cerdas dan istirahat cukup, membangun kebiasaan sehat, serta merencanakan masa depan," jelasnya.
"Ibadah jangan lupa karena agama menjadi fondasi yang sangat penting ketika kalian menjalani kehidupan. Juga hormati dan sayangi orang tua dan guru kalian. Dan belajar maksimal, gunakan waktu sebaik-baiknya," ujar Arifatul memberikan pesan kepada 167 remaja yang hadir sebagai peserta Akademi Keluarga Indonesia 2025.
Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) Institut Pertanian Bogor Yulina Eva Riany menyampaikan bahwa remaja menjadi kelompok paling aktif di dunia digital (digital native), tetapi juga paling rentan terhadap pengaruh negatif seperti cyberbullying, hoaks, kecanduan gawai, dan krisis identitas.
Untuk itu, diperlukan strategi bagi remaja menghadapi tantangan di dunia digital, antara lain mengatur screen time, memilih konten positif (edukasi, kreativitas, dan inspirasi), membangun identitas sehat, mengembangkan literasi digital, serta memiliki karakter unggul.
Untuk menjadi Generasi Emas Indonesia, kesehatan mental remaja juga perlu diperhatikan dalam penyiapan kehidupan berkeluarga. Hal ini disampaikan Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta Taufiq Fredrik Pasiak.
Saat remaja, otak bagian logika dan kontrol masih berkembang, sementara otak bagian emosi sudah aktif penuh. Hasilnya, remaja mudah emosi, cepat jatuh cinta tapi juga penuh ide dan semangat. Kadang sulit konsentrasi atau gampang marah.
"Yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental remaja adalah mengendalikan emosi, mengenali diri, memilih teman sehat, bijak di media sosial, belajar cerdas dan istirahat cukup, membangun kebiasaan sehat, serta merencanakan masa depan," jelasnya.
Lihat Juga :