Widodo Sangkal Urus Kelengkapan Administrasi Jokowi: Saya Ditugaskan Bantu Pekerjaan Bendahara
Rabu, 02 Juli 2025 - 06:59 WIB
loading...
Eks Tim Jokowi Solo Widodo menyangkal dirinya menjadi bagian pihak yang mengurus untuk melengkapi administrasi Joko Widodo (Jokowi) maju Pilkada Jakarta 2012. Foto/iNews
A
A
A
JAKARTA - Eks Tim Jokowi Solo Widodo menyangkal dirinya menjadi bagian pihak yang mengurus untuk melengkapi administrasi Joko Widodo ( Jokowi ) maju Pilkada Jakarta 2012. Kelengkapan administrasi tersebut guna kepentingan elektoral.
Hal itu ia sampaikan dalam program Rakyat Bersuara bertajuk 'Ijazah & Tudingan Mengkriminalkan Jokowi, Ekslusif Kesaksian Eks Tim Jokowi-Solo' di iNews, Selasa (1/7/2025).
"Saya dituduh administrasi untuk kelengkapan dokumen persyaratan calon di KPU, sementara ini saya nggak pernah dan nggak punya pengalaman di bidang itu," kata Widodo.
Baca juga: Paiman Raharjo: Demi Allah Sumpah Mati Enggak Pernah Bikin Ijazah Jokowi
"Dan Pak Jokowi juga nggak pernah menugaskan saya untuk urusi pekerjaan itu, yang disuruh ke saya adalah selama wali kota gubernur itu adalah membantu pekerjaan bendahara," sambungnya.
Ia tidak menjelaskan lebih jauh terkait apa itu yang dimaksud membantu pekerjaan bendahara. Namun, ia menyatakan bendahara yang ia maksud terkait tim pemenangnya.
"Membantu pekerjaan bendahara dalam tim pemenangan, jadi saya ditugaskan sebagai membantu tugas atau pekerjaan bendahara tim pemenangan, dalam hal ini saya membantu Pak Prasetyo Edi Marsudi, kaitannya dengan 2012," ujarnya.
Baca juga: Beathor Suryadi Ungkap Ijazah Jokowi Dibuat di Pasar Pramuka, Libatkan Mantan Rektor?
Diketahui, Politikus Senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Beathor Suryadi mengungkap orang di balik pembuatan semua dokumen pencalonan Jokowi di Pilkada Jakarta 2012 di Pasar Pramuka Pojok, Jakarta Pusat. Beathor menceritakan bahwa semua dokumen persyaratan maju Pilkada Jakarta 2012 diatur oleh Deni Iskandar.
Dokumen itu kemudian dibawa oleh Widodo ke Pasar Pramuka untuk dibuat di kios milik Paiman. Menurutnya, Paiman bukan orang sembarangan karena merupakan mantan rektor perguruan tinggi swasta di Jakarta.
“Dulu PDI bisa menang 33,3 persen itu pakai akar bahar, pakai tato, jagoan semua. Yang sekarang sudah Doktor-doktor suaranya ngecil, enggak sebanyak orang itu, tapi orang itu enggak punya ijazah, bikinnya di situ,” kata Beathor dalam Podcast To the Point Aja yang tayang di YouTube SindoNews, Kamis (26/6/2025).
Dia mengaku ikut rombongan Tim Pembela Ulama dan Aktivis atau TPUA mendatangi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Selasa, 15 April 2025 dan kediaman Jokowi di Solo pada Rabu, 16 April 2025. “Roy Suryo dan Rismon Sianipar yakin itu bukan dari UGM,” tuturnya.
“Terus, saya bertanya, kalau bukan dari UGM, berarti ada suatu tempat, di mana ini, saya bertanya dalam diri saya,” sambungnya.
Setelah pulang dari Solo, dia membagikan berita-berita terkait ijazah Jokowi termasuk ke kader-kader PDIP. “Apa yang saya share itu berbalik kan, ada dari kader, ‘Bang Aku tahu itu bang’,” ucapnya menirukan kader kepadanya. Setelah itu, Beathor mengaku melacak.
“Ada pertemuan di Cikini itu, terus dipertajam untuk membuat dokumen. Nah dokumen itu langsung dibawalah sama Widodo ke Pasar Pramuka, nah di situlah kemudian dia ketemu sama Paiman,” ungkapnya.
“Tapi sebelumnya itu dilakukan oleh Deni, karena Deni ini yang paham persyaratan KPU Jakarta, harus ada surat ini, semuanya dirapihkan, dibikin legalisir itu sendiri,” tambahnya.
Dia mengatakan, warga Jakarta pasti paham mengenai kawasan Pramuka. “Jadi, anak-anak drop out (putus sekolah, red), bawa punya temannya, contohin, bikin, ditulis lulus juga,” katanya.
“Kan dari Cikini itu kan ada anak-anak Jakarta, ‘ini semua yang ngatur Deni Bang’. Yang bawa ke Pramuka, Widodo. Widodo kau cetaknya di mana, itu ada 50 kios, pasti dia jawab ya Paiman, selesai kan,” sambungnya.
Kemudian, Beathor mengungkapkan sosok Paiman tersebut. “Dia mulai dari nol di situ, jadi tukang sapu, jadi tukang apa, terus dia menjadi rektor Moestopo, dia Profesor Doktor, sekarang menjadi profesornya di internasional, orang hebat ini,” kata Beathor.
Namun, kata Beathor, Paiman memperoleh gelar Doktor dari Universitas Padjajaran (Unpad). “Nanti kita cek di Unpad, tapi yang lain-lainnya itu dia cetak sendiri juga bisa kan, orang dia bisa bikinin orang lain,” ujarnya.
Beathor mengaku ikut dalam kelompok relawan Bravo 5. “Saya orang kepercayaannya Luhut Binsar Pandjaitan, saya ikut di tim Bravo 5, ketuanya Jenderal (Purn) Fachrul Razi,” ujarnya.
Hal itu ia sampaikan dalam program Rakyat Bersuara bertajuk 'Ijazah & Tudingan Mengkriminalkan Jokowi, Ekslusif Kesaksian Eks Tim Jokowi-Solo' di iNews, Selasa (1/7/2025).
"Saya dituduh administrasi untuk kelengkapan dokumen persyaratan calon di KPU, sementara ini saya nggak pernah dan nggak punya pengalaman di bidang itu," kata Widodo.
Baca juga: Paiman Raharjo: Demi Allah Sumpah Mati Enggak Pernah Bikin Ijazah Jokowi
"Dan Pak Jokowi juga nggak pernah menugaskan saya untuk urusi pekerjaan itu, yang disuruh ke saya adalah selama wali kota gubernur itu adalah membantu pekerjaan bendahara," sambungnya.
Ia tidak menjelaskan lebih jauh terkait apa itu yang dimaksud membantu pekerjaan bendahara. Namun, ia menyatakan bendahara yang ia maksud terkait tim pemenangnya.
"Membantu pekerjaan bendahara dalam tim pemenangan, jadi saya ditugaskan sebagai membantu tugas atau pekerjaan bendahara tim pemenangan, dalam hal ini saya membantu Pak Prasetyo Edi Marsudi, kaitannya dengan 2012," ujarnya.
Baca juga: Beathor Suryadi Ungkap Ijazah Jokowi Dibuat di Pasar Pramuka, Libatkan Mantan Rektor?
Diketahui, Politikus Senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Beathor Suryadi mengungkap orang di balik pembuatan semua dokumen pencalonan Jokowi di Pilkada Jakarta 2012 di Pasar Pramuka Pojok, Jakarta Pusat. Beathor menceritakan bahwa semua dokumen persyaratan maju Pilkada Jakarta 2012 diatur oleh Deni Iskandar.
Dokumen itu kemudian dibawa oleh Widodo ke Pasar Pramuka untuk dibuat di kios milik Paiman. Menurutnya, Paiman bukan orang sembarangan karena merupakan mantan rektor perguruan tinggi swasta di Jakarta.
“Dulu PDI bisa menang 33,3 persen itu pakai akar bahar, pakai tato, jagoan semua. Yang sekarang sudah Doktor-doktor suaranya ngecil, enggak sebanyak orang itu, tapi orang itu enggak punya ijazah, bikinnya di situ,” kata Beathor dalam Podcast To the Point Aja yang tayang di YouTube SindoNews, Kamis (26/6/2025).
Dia mengaku ikut rombongan Tim Pembela Ulama dan Aktivis atau TPUA mendatangi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Selasa, 15 April 2025 dan kediaman Jokowi di Solo pada Rabu, 16 April 2025. “Roy Suryo dan Rismon Sianipar yakin itu bukan dari UGM,” tuturnya.
“Terus, saya bertanya, kalau bukan dari UGM, berarti ada suatu tempat, di mana ini, saya bertanya dalam diri saya,” sambungnya.
Setelah pulang dari Solo, dia membagikan berita-berita terkait ijazah Jokowi termasuk ke kader-kader PDIP. “Apa yang saya share itu berbalik kan, ada dari kader, ‘Bang Aku tahu itu bang’,” ucapnya menirukan kader kepadanya. Setelah itu, Beathor mengaku melacak.
“Ada pertemuan di Cikini itu, terus dipertajam untuk membuat dokumen. Nah dokumen itu langsung dibawalah sama Widodo ke Pasar Pramuka, nah di situlah kemudian dia ketemu sama Paiman,” ungkapnya.
“Tapi sebelumnya itu dilakukan oleh Deni, karena Deni ini yang paham persyaratan KPU Jakarta, harus ada surat ini, semuanya dirapihkan, dibikin legalisir itu sendiri,” tambahnya.
Dia mengatakan, warga Jakarta pasti paham mengenai kawasan Pramuka. “Jadi, anak-anak drop out (putus sekolah, red), bawa punya temannya, contohin, bikin, ditulis lulus juga,” katanya.
“Kan dari Cikini itu kan ada anak-anak Jakarta, ‘ini semua yang ngatur Deni Bang’. Yang bawa ke Pramuka, Widodo. Widodo kau cetaknya di mana, itu ada 50 kios, pasti dia jawab ya Paiman, selesai kan,” sambungnya.
Kemudian, Beathor mengungkapkan sosok Paiman tersebut. “Dia mulai dari nol di situ, jadi tukang sapu, jadi tukang apa, terus dia menjadi rektor Moestopo, dia Profesor Doktor, sekarang menjadi profesornya di internasional, orang hebat ini,” kata Beathor.
Namun, kata Beathor, Paiman memperoleh gelar Doktor dari Universitas Padjajaran (Unpad). “Nanti kita cek di Unpad, tapi yang lain-lainnya itu dia cetak sendiri juga bisa kan, orang dia bisa bikinin orang lain,” ujarnya.
Beathor mengaku ikut dalam kelompok relawan Bravo 5. “Saya orang kepercayaannya Luhut Binsar Pandjaitan, saya ikut di tim Bravo 5, ketuanya Jenderal (Purn) Fachrul Razi,” ujarnya.
(rca)
Lihat Juga :