Puncak Musim Kemarau Diprediksi Agustus 2025, BMKG: Berlangsung Lebih Singkat
Senin, 19 Mei 2025 - 11:22 WIB
loading...
A
A
A
Kondisi atmosfer yang labil pada masa transisi ini berpotensi memicu terbentuknya awan konvektif seperti Cumulonimbus (CB), yang dapat menyebabkan cuaca ekstrem seperti hujan lebat, petir, angin kencang, bahkan hujan es.
Dalam sepekan terakhir, hujan dengan intensitas sangat lebat tercatat di beberapa wilayah, seperti pada 9 Mei 2025 di Jembrana, Bali (121,4 mm/hari), 10 Mei di Tangerang Selatan, Banten (103,0 mm/hari).
Selanjutnya pada 11 Mei di Sleman, DIY (115,3 mm/hari), 12 Mei di Merauke, Papua Selatan (118,0 mm/hari), dan 14 Mei di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah (105,7 mm/hari).
“Keadaan dinamika atmosfer yang fluktuatif dan dapat berubah secara tiba-tiba pada periode ini, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Kondisi seperti hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang masih mungkin terjadi,” imbau BMKG.
Dalam sepekan terakhir, hujan dengan intensitas sangat lebat tercatat di beberapa wilayah, seperti pada 9 Mei 2025 di Jembrana, Bali (121,4 mm/hari), 10 Mei di Tangerang Selatan, Banten (103,0 mm/hari).
Selanjutnya pada 11 Mei di Sleman, DIY (115,3 mm/hari), 12 Mei di Merauke, Papua Selatan (118,0 mm/hari), dan 14 Mei di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah (105,7 mm/hari).
“Keadaan dinamika atmosfer yang fluktuatif dan dapat berubah secara tiba-tiba pada periode ini, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Kondisi seperti hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang masih mungkin terjadi,” imbau BMKG.
(shf)
Lihat Juga :