Menelisik 100 Hari Kinerja Kabinet Prabowo-Gibran Bidang Pendidikan dan Pertahanan
Senin, 27 Januari 2025 - 09:52 WIB
loading...
Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka genap bekerja 100 hari pada Selasa, 28 Januari 2025. Foto/Binti Mufarida
A
A
A
JAKARTA - Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka genap bekerja 100 hari pada Selasa, 28 Januari 2025. Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul M. Jamiluddin Ritonga mengakui kinerja 100 hari Kabinet Prabowo - Gibran secara umum menunjukkan kontradiksi.
“Setidaknya bila hal itu mengacu pada hasil survei Litbang Kompas dan Center of Economic and Law Studies (Celios),” kata Jamiluddin dalam keterangan tertulisnya, Senin (27/1/2025).
Dia mengatakan, survei Litbang Kompas menemukan mayoritas (80,9%) responden mengaku puas terhadap kinerja kabinet Prabowo-Gibran. “Sementara hasil survei Celios justru menunjukkan sebaliknya,” tuturnya.
Baca juga: Gara-gara Dadan Hindayana, Pejabat Kabinet Prabowo-Gibran Diminta Makan Serangga
Menurut dia, perbedaan dua hasil survei itu wajar karena berbeda metode dan sampel yang diteliti. Karena itu, lanjut dia, dua survei itu pada dasarnya saling mengisi.
Baca juga: Sentilan Menohok Usman Hamid soal Polemik Mobil Dinas RI 36 Raffi Ahmad
“Artinya, kepuasan masyarakat terhadap kinerja kabinet Prabowo-Gibran memang ada. Penilaian itu cenderung tertuju pada program-program populis yang memang banyak dirilis pada 100 hari Pemerintahan Prabowo-Gibran,” imbuhnya.
Baca juga: Mahfud MD Kritik Omongan Menteri Hukum soal Wacana Denda Damai Ampuni Koruptor: Salah Beneran
Dia menambahkan, survei Celios lebih komprehensif dengan membedah program keseluruhan kementerian pada 100 hari pertama. Karena itu, dia menilai wajar ditemukan ketidakpuasan responden terhadap kinerja kabinet Prabowo-GIbran.
Baca juga: Mengaca Hinaan Gus Miftah ke Penjual Es Teh, DPR: Jangan Undang Dai Tanpa Kapasitas Agama
“Jadi, hasil dua survei dipermukaan tampak bertentangan, namun sesungguhnya saling mengisi. Untuk program populis, masyarakat memang puas karena program ini memang dapat segera diwujudkan. Hal itu segera dapat dirasakan masyarakat dan berpengaruh terhadap penilaian baik terhadap kinerja Prabowo-Gibran,” ungkapnya.
Baca juga: Waduh! Puluhan Siswa SD di Sukoharjo Diduga Keracunan usai Santap Makan Bergizi Gratis
Namun, dia berpendapat bahwa untuk program nonpopulis, tentu pencapaiannya perlu proses waktu dan sulit dicapai 100 hari kerja. “Karena itu, peluang mendapat penilaian buruk sangat terbuka. Hal itu kiranya juga terjadi di bidang pendidikan dan pertahanan,” jelasnya.
Di bidang pendidikan, dia menuturkan, khususnya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, kinerja menterinya mendapat penilaian terbaik. Hal itu terjadi karena salah satu Program 100 hari Prabowo-Gibran berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan guru.
Baca juga: Satryo Brodjonegoro Bikin Gaduh, Prabowo Layak Mencopot
“Program ini mendapat penilaian baik oleh masyarakat, khususnya para guru baik guru negeri maupun guru swasta. Namun demikian, penilaian masyarakat berbeda terhadap Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Satryo Soemantri Brodjonegoro. Menteri satu ini dinilai negatif setelah didemo pegawainya,” ucapnya.
Baca juga: Blunder Pakai Kop Surat Kementerian untuk Acara Keluarga, Yandri Susanto Bersumpah Tak Ambil Untung
Hanya saja, ujar dia, penilaian negatif terhadap Satryo bukan terkait kinerjanya sebagai menteri. Penilaian itu terkait adab seorang menteri terhadap pegawainya.
“Persoalan adab menjadi urgent karena Satryo sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Tekonologi, yang seharusnya menjaganya dalam bersikap dan bertindak. Satryo seharusnya terdepan menjadi teladan dalam menjaga adab,” kata dia.
Dia mengatakan, kalau Satryo tak bisa menjaga adab, maka akan menjadi menteri kontroversial. Hal ini akan bisa menjadi beban bagi Presiden Prabowo.
“Bidang pendidikan, seharusnya fokus pada peningkatan kualitas pendidikan. Hal itu dimungkinkan karena anggaran di bidang pendidikan pada 2025 sebesar Rp724,3 triliun,” ujarnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, anggaran sebesar itu cukup untuk meningkatkan kualitas guru atau dosen, mempertajam kurikulum, meningkatkan prasarana dan prasarana pendidikan (gedung belajar/kuliah, laboratorium, dan perpustakaan), dan update sistem pendidikan.
Untuk itu, dia mendorong bidang pendidikan dapat mengalokasikan anggaran berdasarkan skala prioritas. Anggaran tersebut tidak sekadar untuk pemerataan pendidikan, tapi sudah pada peningkatan kualitas pendidikan untuk mencapai generasi emas 2045.
“Berbeda halnya di bidang pertahanan, tidak ada program populis yang masuk pada 100 hari. Hal ini terjadi bisa saja karena tidak ada program di bidang pertahanan yang dapat diwujudkan dalam waktu 100 hari,” katanya.
Dia mengungkapkan hal itu kiranya menjadi penyebab pimpinan tertinggi di bidang pertahanan tidak mendapat penilaian terbaik kinerjanya dalam 100 hari kerjanya. Selain itu, anggaran di bidang pertahanan juga relatif kecil. Anggaran 2025 hanya Rp165,16 triliun.
Padahal, ujar dia, bidang pertahanan membutuhkan anggaran Rp353,52 trilun. Jadi anggaran bidang pertahanan tidak sampai 50 persen dari yang dibutuhkan pada 2025.
Padahal, lanjut dia, bidang pertahanan memerlukan anggaran yang besar untuk pengadaan alutsista, pemeliharaan alutsista, pembangunan rumah dinas prajurit, dan pembangunan sarana prasarana pertahanan. Bahkan yang lebih penting peningkatan gaji prajurit yang masih memprihatinkan.
“Jadi, kalau bidang pertahanan ingin dapat dibanggakan, maka setidaknya kesejahteraan prajurit dapat ditingkatkan. Hal ini akan dapat meningkatkan moral prajurit sehingga dapat menutupi kekurangcanggihan alutsista yang dimiliki,” ungkapnya.
Selain itu, Mantan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta ini mengatakan, TNI harus terdepan dalam menjaga demokrasi di Tanah Air. Untuk itu, TNI idealnya tidak menyentuh kehidupan sipil, sebagaimana ditanamkan sebagai prajurit profesional.
“Karena itu, sudah seharusnya TNI menolak untuk mengisi pos-pos yang berkaitan dengan tugas dan fungsi (tupoksi) sipil. Dengan begitu TNI sudah menjaga dan tidak masuk ke ranah sipil,” pungkasnya.
“Setidaknya bila hal itu mengacu pada hasil survei Litbang Kompas dan Center of Economic and Law Studies (Celios),” kata Jamiluddin dalam keterangan tertulisnya, Senin (27/1/2025).
Dia mengatakan, survei Litbang Kompas menemukan mayoritas (80,9%) responden mengaku puas terhadap kinerja kabinet Prabowo-Gibran. “Sementara hasil survei Celios justru menunjukkan sebaliknya,” tuturnya.
Baca juga: Gara-gara Dadan Hindayana, Pejabat Kabinet Prabowo-Gibran Diminta Makan Serangga
Menurut dia, perbedaan dua hasil survei itu wajar karena berbeda metode dan sampel yang diteliti. Karena itu, lanjut dia, dua survei itu pada dasarnya saling mengisi.
Baca juga: Sentilan Menohok Usman Hamid soal Polemik Mobil Dinas RI 36 Raffi Ahmad
“Artinya, kepuasan masyarakat terhadap kinerja kabinet Prabowo-Gibran memang ada. Penilaian itu cenderung tertuju pada program-program populis yang memang banyak dirilis pada 100 hari Pemerintahan Prabowo-Gibran,” imbuhnya.
Baca juga: Mahfud MD Kritik Omongan Menteri Hukum soal Wacana Denda Damai Ampuni Koruptor: Salah Beneran
Dia menambahkan, survei Celios lebih komprehensif dengan membedah program keseluruhan kementerian pada 100 hari pertama. Karena itu, dia menilai wajar ditemukan ketidakpuasan responden terhadap kinerja kabinet Prabowo-GIbran.
Baca juga: Mengaca Hinaan Gus Miftah ke Penjual Es Teh, DPR: Jangan Undang Dai Tanpa Kapasitas Agama
“Jadi, hasil dua survei dipermukaan tampak bertentangan, namun sesungguhnya saling mengisi. Untuk program populis, masyarakat memang puas karena program ini memang dapat segera diwujudkan. Hal itu segera dapat dirasakan masyarakat dan berpengaruh terhadap penilaian baik terhadap kinerja Prabowo-Gibran,” ungkapnya.
Baca juga: Waduh! Puluhan Siswa SD di Sukoharjo Diduga Keracunan usai Santap Makan Bergizi Gratis
Namun, dia berpendapat bahwa untuk program nonpopulis, tentu pencapaiannya perlu proses waktu dan sulit dicapai 100 hari kerja. “Karena itu, peluang mendapat penilaian buruk sangat terbuka. Hal itu kiranya juga terjadi di bidang pendidikan dan pertahanan,” jelasnya.
Di bidang pendidikan, dia menuturkan, khususnya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, kinerja menterinya mendapat penilaian terbaik. Hal itu terjadi karena salah satu Program 100 hari Prabowo-Gibran berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan guru.
Baca juga: Satryo Brodjonegoro Bikin Gaduh, Prabowo Layak Mencopot
“Program ini mendapat penilaian baik oleh masyarakat, khususnya para guru baik guru negeri maupun guru swasta. Namun demikian, penilaian masyarakat berbeda terhadap Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Satryo Soemantri Brodjonegoro. Menteri satu ini dinilai negatif setelah didemo pegawainya,” ucapnya.
Baca juga: Blunder Pakai Kop Surat Kementerian untuk Acara Keluarga, Yandri Susanto Bersumpah Tak Ambil Untung
Hanya saja, ujar dia, penilaian negatif terhadap Satryo bukan terkait kinerjanya sebagai menteri. Penilaian itu terkait adab seorang menteri terhadap pegawainya.
“Persoalan adab menjadi urgent karena Satryo sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Tekonologi, yang seharusnya menjaganya dalam bersikap dan bertindak. Satryo seharusnya terdepan menjadi teladan dalam menjaga adab,” kata dia.
Dia mengatakan, kalau Satryo tak bisa menjaga adab, maka akan menjadi menteri kontroversial. Hal ini akan bisa menjadi beban bagi Presiden Prabowo.
“Bidang pendidikan, seharusnya fokus pada peningkatan kualitas pendidikan. Hal itu dimungkinkan karena anggaran di bidang pendidikan pada 2025 sebesar Rp724,3 triliun,” ujarnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, anggaran sebesar itu cukup untuk meningkatkan kualitas guru atau dosen, mempertajam kurikulum, meningkatkan prasarana dan prasarana pendidikan (gedung belajar/kuliah, laboratorium, dan perpustakaan), dan update sistem pendidikan.
Untuk itu, dia mendorong bidang pendidikan dapat mengalokasikan anggaran berdasarkan skala prioritas. Anggaran tersebut tidak sekadar untuk pemerataan pendidikan, tapi sudah pada peningkatan kualitas pendidikan untuk mencapai generasi emas 2045.
“Berbeda halnya di bidang pertahanan, tidak ada program populis yang masuk pada 100 hari. Hal ini terjadi bisa saja karena tidak ada program di bidang pertahanan yang dapat diwujudkan dalam waktu 100 hari,” katanya.
Dia mengungkapkan hal itu kiranya menjadi penyebab pimpinan tertinggi di bidang pertahanan tidak mendapat penilaian terbaik kinerjanya dalam 100 hari kerjanya. Selain itu, anggaran di bidang pertahanan juga relatif kecil. Anggaran 2025 hanya Rp165,16 triliun.
Padahal, ujar dia, bidang pertahanan membutuhkan anggaran Rp353,52 trilun. Jadi anggaran bidang pertahanan tidak sampai 50 persen dari yang dibutuhkan pada 2025.
Padahal, lanjut dia, bidang pertahanan memerlukan anggaran yang besar untuk pengadaan alutsista, pemeliharaan alutsista, pembangunan rumah dinas prajurit, dan pembangunan sarana prasarana pertahanan. Bahkan yang lebih penting peningkatan gaji prajurit yang masih memprihatinkan.
“Jadi, kalau bidang pertahanan ingin dapat dibanggakan, maka setidaknya kesejahteraan prajurit dapat ditingkatkan. Hal ini akan dapat meningkatkan moral prajurit sehingga dapat menutupi kekurangcanggihan alutsista yang dimiliki,” ungkapnya.
Selain itu, Mantan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta ini mengatakan, TNI harus terdepan dalam menjaga demokrasi di Tanah Air. Untuk itu, TNI idealnya tidak menyentuh kehidupan sipil, sebagaimana ditanamkan sebagai prajurit profesional.
“Karena itu, sudah seharusnya TNI menolak untuk mengisi pos-pos yang berkaitan dengan tugas dan fungsi (tupoksi) sipil. Dengan begitu TNI sudah menjaga dan tidak masuk ke ranah sipil,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :