Ahmad Tohari, Esther Haluk, dan Murdiono Mokoginta Terima Penghargaan Penulis 2024
Senin, 09 Desember 2024 - 13:53 WIB
loading...
A
A
A
Lantas, apa alasan Ahmad Tohari, Esther Haluk, dan Murdiono Mokoginta menerima penghargaan ini?
Ahmad Tohari dinilai layak menerima Lifetime Achievement Award 2024 berkat karya-karya yang mengangkat suara masyarakat desa dan keadilan sosial. Melalui trilogi Ronggeng Dukuh Paruk dan karya lainnya, Tohari menjadikan desa sebagai ruang hidup yang penuh makna, dan mencatat ketimpangan sosial melalui narasi yang mendalam. Karyanya tak hanya mencerminkan kehidupan, tetapi juga berani menantang ketidakadilan dan mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan serta spiritualitas.
Esther Haluk menerima Dermakata Award kategori Fiksi atas karyanya Nyanyian Sunyi (2021), yang menggugah pembaca tentang ketidakadilan sosial dan perjuangan perempuan Papua. Melalui karya ini, Esther menyuarakan hak-hak perempuan, kekerasan dalam konflik, serta perjuangan identitas budaya Papua. Keberaniannya dalam menghadapi tantangan struktural dan stigma menjadikannya sebagai simbol keteguhan hati dan integritas dalam dunia sastra.
Sementara, Murdiono Mokoginta melalui karyanya Abad Transisi: Bolaang Mongondow dalam Catatan Kolonial Abad XIX-XX, mempersembahkan karya yang menghidupkan sejarah lokal dengan bahasa yang ringan namun kaya makna. Dion berhasil memperkenalkan sejarah Bolaang Mongondow secara mendalam kepada masyarakat luas, menekankan pentingnya memahami masa lalu untuk membangun masa depan yang lebih berdaya. Penghargaan ini mengakui dedikasinya untuk mendokumentasikan sejarah lokal yang relevan hingga saat ini.
Ahmad Tohari dinilai layak menerima Lifetime Achievement Award 2024 berkat karya-karya yang mengangkat suara masyarakat desa dan keadilan sosial. Melalui trilogi Ronggeng Dukuh Paruk dan karya lainnya, Tohari menjadikan desa sebagai ruang hidup yang penuh makna, dan mencatat ketimpangan sosial melalui narasi yang mendalam. Karyanya tak hanya mencerminkan kehidupan, tetapi juga berani menantang ketidakadilan dan mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan serta spiritualitas.
Esther Haluk menerima Dermakata Award kategori Fiksi atas karyanya Nyanyian Sunyi (2021), yang menggugah pembaca tentang ketidakadilan sosial dan perjuangan perempuan Papua. Melalui karya ini, Esther menyuarakan hak-hak perempuan, kekerasan dalam konflik, serta perjuangan identitas budaya Papua. Keberaniannya dalam menghadapi tantangan struktural dan stigma menjadikannya sebagai simbol keteguhan hati dan integritas dalam dunia sastra.
Sementara, Murdiono Mokoginta melalui karyanya Abad Transisi: Bolaang Mongondow dalam Catatan Kolonial Abad XIX-XX, mempersembahkan karya yang menghidupkan sejarah lokal dengan bahasa yang ringan namun kaya makna. Dion berhasil memperkenalkan sejarah Bolaang Mongondow secara mendalam kepada masyarakat luas, menekankan pentingnya memahami masa lalu untuk membangun masa depan yang lebih berdaya. Penghargaan ini mengakui dedikasinya untuk mendokumentasikan sejarah lokal yang relevan hingga saat ini.
(abd)
Lihat Juga :