Sejarah dan Tugas Kopassus, Pasukan Elite Kebanggaan Angkatan Darat
Senin, 06 Mei 2024 - 16:29 WIB
loading...
Kopassus merupakan salah satu pasukan tempur kebanggaan TNI Angkatan Darat. FOTO/DOK.KOPASSUS
A
A
A
JAKARTA - Kopassus merupakan salah satu pasukan tempur kebanggaan TNI Angkatan Darat. Komando Utama Tempur yang memiliki julukan Korps Baret Merah ini memiliki sejarah panjang dan sempat beberapa kali berganti nama.
Tidak hanya punya sejarah panjang, Kopassus juga memiliki tugas khususnya tersendiri, dari mulai tugas operasi militer, hingga melaksanakan berbagai bantuan kemanusiaan.
Baca juga: 2 Letnan Jenderal Lulusan Akmil 1992, Salah Satunya Peraih Adhi Makayasa
Pada saat itu Kawilarang membentuk operasi tempur yang dikomandani Letkol Slamet Riyadi. Meski berhasil meredam perlawanan RMS, kesuksesan ini harus dibayar mahal dengan banyaknya korban yang berjatuhan dari pihak militer.
Dari situlah dilakukan analisis dan disimpulkan jika kekuatan musuh bukan terletak pada perlengkapan yang memadai, tetapi pada pengalaman, kemampuan tembak tepat, dan gerakan perorangan.
Peristiwa itu menginspirasi Kolonel Slamet Riyadi untuk membentuk satuan pemukul yang dapat digerakkan cepat dan tepat guna menghadapi pertempuran di medan berat. Setelah Slamet Riyadi meninggal di pertempuran Ambon, gagasan tersebut lantas diteruskan oleh Kawilarang.
Tidak hanya punya sejarah panjang, Kopassus juga memiliki tugas khususnya tersendiri, dari mulai tugas operasi militer, hingga melaksanakan berbagai bantuan kemanusiaan.
Sejarah Kopassus
Tanggal 16 April 1952 menjadi hari cikal bakal terbentuknya Kopassus (Komando Pasukan Khusus). Awalnya Panglima Tentara Territorium III/Siliwangi Kolonel AE Kawilarang mendirikan Kesatuan Komando Tentara Territorium III/Siliwangi (Kesko TT). Terbentuknya Kesko TT ini didasari pengalamannya bertempur menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada 1950.Baca juga: 2 Letnan Jenderal Lulusan Akmil 1992, Salah Satunya Peraih Adhi Makayasa
Pada saat itu Kawilarang membentuk operasi tempur yang dikomandani Letkol Slamet Riyadi. Meski berhasil meredam perlawanan RMS, kesuksesan ini harus dibayar mahal dengan banyaknya korban yang berjatuhan dari pihak militer.
Dari situlah dilakukan analisis dan disimpulkan jika kekuatan musuh bukan terletak pada perlengkapan yang memadai, tetapi pada pengalaman, kemampuan tembak tepat, dan gerakan perorangan.
Peristiwa itu menginspirasi Kolonel Slamet Riyadi untuk membentuk satuan pemukul yang dapat digerakkan cepat dan tepat guna menghadapi pertempuran di medan berat. Setelah Slamet Riyadi meninggal di pertempuran Ambon, gagasan tersebut lantas diteruskan oleh Kawilarang.
Lihat Juga :