Tarawih dan Tadarus Pakai Speaker Dalam, Imam Besar Masjid Istiqlal: Ambil Positifnya
Selasa, 12 Maret 2024 - 20:37 WIB
loading...
Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar meminta masyarakat untuk mengambil sisi positif terkait penggunaan pengeras suara di masjid dan musala. Foto/Widya Michella/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Imam Besar Masjid Istiqlal , Nasaruddin Umar meminta masyarakat untuk mengambil sisi positif dalam Surat Edaran Menteri Agama Nomor 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Bahwa pelaksanaan ibadah tarawih dan tadarus menggunakan speaker dalam .
"Kita mendapatkan informasi ada edaran sebagai suatu imbauan bukan sebagai satu kewajiban yang mutlak dilakukan. Biasanya pemerintah mengimbau ada hal-hal yang diperhatikan secara makro, bagi saya memang kemaslahatan umat saya kira itu kita ambil sisi positifnya," kata Nasaruddin di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2024).
Dia meminta, agar seluruh umat dapat mengambil hikmah dari surat edaran tersebut. Misalnya dapat dibayangkan bahwa ada masjid yang sampai 24 jam atas nama Ramadan tidak pernah tidur, padahal banyak orang yang ingin beristirahat.
"Saya kira ada waktu tertentu lah ditetapkan jangan sampai nanti 24 jam itu menggaung ada anak-anak kecil yang baru lahir, ada orang sakit yang perlu istirahat ada juga pekerja siang yang memerlukan istirahat malam kemudian juga mungkin ada rumah sakit di sampingnya. Kalau 24 jam kan rekaman bisa terganggu padahal syiar nya itu penting untuk menghadirkan orang itu datang ke masjid," ucapnya.
Baca juga: Gus Miftah Bandingkan Speaker Masjid dengan Dangdutan, Kemenag: Asbun dan Gagal Paham
Sebelumnya, Kementerian Agama (Kemenag) telah menerbitkan edaran penyelenggaraan ibadah Ramadan dan Idulfitri 1445 H pada 26 Februari 2024 lalu. Dimana dalam edaran ini juga memuat aturan penggunaan pengeras suara di masjid dan musala.
Aturan itu dalam Surat Edaran Menteri Agama RI Nomor SE 1 Tahun 2024 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah Ramadan dan Hari Raya Idulfitri Tahun 1445 Hijriah/2024 Masehi
"Kita mendapatkan informasi ada edaran sebagai suatu imbauan bukan sebagai satu kewajiban yang mutlak dilakukan. Biasanya pemerintah mengimbau ada hal-hal yang diperhatikan secara makro, bagi saya memang kemaslahatan umat saya kira itu kita ambil sisi positifnya," kata Nasaruddin di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2024).
Dia meminta, agar seluruh umat dapat mengambil hikmah dari surat edaran tersebut. Misalnya dapat dibayangkan bahwa ada masjid yang sampai 24 jam atas nama Ramadan tidak pernah tidur, padahal banyak orang yang ingin beristirahat.
"Saya kira ada waktu tertentu lah ditetapkan jangan sampai nanti 24 jam itu menggaung ada anak-anak kecil yang baru lahir, ada orang sakit yang perlu istirahat ada juga pekerja siang yang memerlukan istirahat malam kemudian juga mungkin ada rumah sakit di sampingnya. Kalau 24 jam kan rekaman bisa terganggu padahal syiar nya itu penting untuk menghadirkan orang itu datang ke masjid," ucapnya.
Baca juga: Gus Miftah Bandingkan Speaker Masjid dengan Dangdutan, Kemenag: Asbun dan Gagal Paham
Sebelumnya, Kementerian Agama (Kemenag) telah menerbitkan edaran penyelenggaraan ibadah Ramadan dan Idulfitri 1445 H pada 26 Februari 2024 lalu. Dimana dalam edaran ini juga memuat aturan penggunaan pengeras suara di masjid dan musala.
Aturan itu dalam Surat Edaran Menteri Agama RI Nomor SE 1 Tahun 2024 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah Ramadan dan Hari Raya Idulfitri Tahun 1445 Hijriah/2024 Masehi
Lihat Juga :