alexametrics

Periskop

Gagal SNMPTN, Coba Kembali Tahun Depan

loading...
Gagal SNMPTN, Coba Kembali Tahun Depan
Calon mahasiwa mengikuti seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). FOTO/DOK.SINDONEWS
A+ A-
ADWINTA Satya Virgininda,18, tahu apa yang menjadi keinginannya untuk kuliah. Meringankan beban orang tua dengan masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dan mengejar jurusan yang diidamkannya selama ini.

Ya, PTN memang menjanjikan biaya kuliah yang tidak menguras kantong. "Mikirnya kalau di swasta 4 tahun ke depan, orang tua harus keluar belasan juta buat semesteran. Belum lagi saya masih punya dua adik yang masih sekolah. Saya juga tidak enak kalau semaunya sendiri asal pilih universitas," ujar Ninda, begitu Virgininda biasa disapa.

Lulus SMA tahun 2015, Ninda mencoba SNMPTN ke IPB Jurusan Agrobisnis dan Statistika. Kemudian ikut SBMPTN dengan kampus dan pilihan jurusan yang sama. Terakhir jalur mandiri di UIN untuk Jurusan Agrobisnis. Namun hasilnya nihil, tidak ada satu tes pun yang lolos.



Tidak berputus asa, Ninda pun masih punya impian lolos ke PTN demi orang tua. Dia yakin untuk mencoba tahun depan. Anak kedua dari empat bersaudara ini pun mengikuti kursus intensif SBMPTN 2016. Memang dia menjadi seperti anak sekolah kembali, berkutat dengan soal-soal SMA kembali meskipun sudah lulus. Kursus lima hari dalam seminggu dilakukannya, tidak ketinggalan mencoba ikut setiap ada tryout SBMPTN.

"Jadi bareng adik kelas dulu deh sama-sama ikut tryout. Kadang ketemu temen yang sudah keterima di PTN, ngobrol-ngobrol, saling support satu sama lain. Jadi ya setahun nganggur tapi seperi kembali sekolah," kenang Ninda.

Tahun 2016 kembali dia mengikuti SBMPTN di IPB dengan Jurusan Agrobisnis dan Ekonomi di UNS. Sayang, tampaknya IPB dan Agrobisnis belum berjodoh dengannya. Padahal kedua hal itu menjadi impiannya sejak SMA. Tinggal di Bogor membuatnya merasa IPB tempat kuliah ternyaman. Dekat dengan rumah sehingga tidak harus kos dan sudah terbiasa dengan suasana sekitar IPB. Masalah kualitas tentu tidak perlu diragukan. Ninda memandang, IPB banyak bekerja sama dengan universitas luar negeri dan perusahaan sehingga memiliki prospek dan peluang bagus di masa depan.

"Biaya juga disesuaikan dengan gaji orang tua, tidak disamaratakan seperti swasta. Saya ingin sekali masuk Agrobisnis karena saya sebenarnya lebih condong ke ekonomi tapi karena dari jurusan IPA jadi jurusan yang diminati terbatas. Mau yang ada unsur ekonominya. Jadi Jurusan Agrobisnis IPB sudah paling cocok menurut kebutuhan dan minat saya," jelasnya.

Gagal masuk PTN yang sudah dicobanya selama dua tahun, Ninda pun merasa cukup usahanya. Orang tua Ninda juga ingin segera melihat anaknya kuliah sehingga akhirnya ikut turun tangan mencari universitas yang cocok dengan Ninda yang juga memiliki prospek cerah. Melihat situasi kondisi masyarakat sekarang yang senang berwisata membuat orang tua Ninda pun melihat bidang ini cukup berpotensi untuk digeluti. Mereka sempat ingin memasukkan Ninda ke sekolah perhotelan di Bogor, tetapi lagi-lagi orang tua Ninda tidak ingin asal-asalan.

Sekolah wisata ataupun perhotelan kembali diseleksi, dipilih dari segi akreditasi. Akhirnya kedua orang tua Ninda menemukan sekolah pariwisata yang menurut mereka terbaik. Kini Ninda sudah melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta, Jurusan Hospitality.

"Waktu itu daftarnya juga sambil nunggu pengumuman SBMPTN. Sewaktu pengumuman tidak diterima akhirnya langsung ke Yogyakarta mengurus persyaratannya. Alhamdulillah sekarang sudah semester 5, yang penting betah dan senang belajar di sini," ungkap Ninda bahagia.

Lain dengan Chika Husnul Hafifah,19, yang langsung lolos SNMPTN 2017 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Fakultas Ekonomi, Jurusan Pendidikan Administrasi Perkantoran. Rasa syukur dan bangga meliputinya kala itu.

"Alhamdulillah, tenang, sudah dapat kepastian dapat PTN karena kalau nggak lolos pasti bingung mau kuliah di mana. Cari-cari lagi belum terpikir," ucap Chika bersyukur.

Dia menambahkan, doa dari kedua orang tua dan kakak-kakaknya yang juga semua lulusan PTN selalu menyertainya mulai saat tes SNMPTN hingga pengumuman. Chika memang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia mengikuti SNMPTN karena mendapatkan kuota untuk mengikuti jalur tersebut sehingga lebih mudah untuk masuk PTN melalui nilai rapor.

"Jadi nilai rata-rata rapor saya yang ditentukan untuk dihitung, mulai dari semester 1 hingga 5 harus meningkat. Setiap semester siswa tidak boleh turun nilainya. Kemudian penyaringan kuota untuk mendapatkan kesempatan jalur tersebut sampai pada akhirnya pilihan jurusan dan tempat kuliah setiap siswa yang mendapatkan kesempatan tersebut dibimbing dan dibantu dengan arahan oleh guru BK (Bimbingan Konseling)," urai Chika.

Dia menambahkan, cara ini semakin membuatnya bangga karena apa yang diraihnya semasa SMA, yakni nilai-nilai yang terus stabil selama tiga tahun, berbuah manis. Chika dapat melanjutkan kuliah di PTN favorit.
(amm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak