KSAD Berdarah Batak, Nomor 1 Jenderal Bintang 5 Penyandang Gelar Pahlawan Nasional
Minggu, 14 Januari 2024 - 06:09 WIB
loading...
A
A
A
Abdul Haris Nasution meninggal dunia pada 6 September 2000 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Ia kemudia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2002 berdasarkan S.K. Presiden No.073/TK/2002.
![KSAD Berdarah Batak, Nomor 1 Jenderal Bintang 5 Penyandang Gelar Pahlawan Nasional]()
FOTO/BUKU Djawatan Topografi AD
Selanjutnya ada Zulkifli Lubis, KSAD berdarah Batak. Tentara kelahiran Banda Aceh, Hindia Belanda, 26 Desember 1923 itu menjabat KSAD cukup singkat dari 8 Mei hingga 26 Juni 1955.
Lubis di akhir namanya menunjukkan bahwa Zulkifli berasal dari Suku Batak. Lubis banyak dipakai orang dari kelompok marga Batak Angkola, Mandailing, dan Toba.
Zulkifli Lubis awalnya tak sengaja masuk tentara. Setelah menyelesaikan pendidikan Algemeene Middlebare School (AMS) B di Yogyakarta, ia diajak temannya ikut latihan yang digelar oleh tentara Jepang bagi pemuda Indonesia. Dua bulan dia latihan di Seinen Kurensho. Selanjutnya Zulkifli ditawari masuk pendidikan perwira militer di Seinen Dojo. Rampung pendidikan, Zulkifli berpangkat Letnan Dua (Letda).
Bersama rekan-rekannya, seperti Kemal Idris, Daan Mogot, dan Sabirin Mochtar, Zulkifli Hasan dilibatkan dalam pembetukan pasukan Pembela Tanah Air (PETA). Zulkifli kemudian mendapat kesempatan belajar intelijen di luar negeri.
Pulang ke Tanah Air, Zulkifli kemudian terlibat dalam pembentukan kelompok intelijen di berbagai tempat di Jawa. Namun setelah Jepang dinyatakan menyerah dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, ia mempersiapkan pembentukan intelijen bernama Badan Istimewa.
Ia juga membentuk Penyelidikan Militer Chusus (PMC) yang bertanggung jawab langsung ke Presiden Soekarno. Namun PMC kemudian dibubarkan karena Mabes TKR karena dianggap melakukan penangkapan dan penyitaan semena-mena.
Konflik internal di TNI AD membawa Zulkifli ke jajaran elite tentara. Ia ditunjuk menjadi Wakil KSAD oleh Menteri Pertahanan Iwa Kusumasumantri pada Desember 1953. Ia kemudian diangkat menjadi penjabat (Pj) KSAD pada Mei 1955 menggantikan Bambang Sugeng yang mengundurkan diri. Namun satu setengah bulan kemudian, ia digantikan Bambang Utoyo karena dinilai lebih intelijen dibanding militer dan pro-Barat.
Zulkifli Lubis meninggal dunia di Jakarta pada 23 Juni 1993 dan dimakamkan di Pusaka Makam Pahlawan Dreded, Kota Bogor, Jawa Barat.
![KSAD Berdarah Batak, Nomor 1 Jenderal Bintang 5 Penyandang Gelar Pahlawan Nasional]()
FOTO/BUKU Irian Barat dari Masa ke Masa
Ada juga nama Maraden Saur Halomoan Panggaeban dalam daftar KSAD berdarah Batak. Tentara kelahiran Pansur Napitu, Tarutung, Keresidenan Tapanuli, Hindia Belanda, 29 Juni 1922 itu menjabat KSAD pada periode 1 Mei 1967-25 November 1969.
Panggabean di akhir namanya merupakan marga dari kelompok Batak Toba. Marga-marga ternama lainnya dari kelompok Batak Toba adalah Panjaitan, Batubara, dan Simanjuntak.
Maraden Panggabean mengawali karier militernya dengan bergabung Organisasi Kelaskaran Pemuda Sosialis Indonesia sebagai Komandan Pasukan. Setelah itu, ia diangkat menjadi Kepala Staf Batalyon I Resimen IV Tentara Republik Indonesia (TRI) Divisi X, Kepala Staf Resimen I TRI Divisi VI Komandemen Sumatera, dan Komandan Resimen I TNI Divisi VI Komandemen Sumatera.
Pada 1957, ia dimutasi menjadi Pamen diperbantukan Itjen Pendidikan Umum Angkatan Darat. Lalu dipindah menjadi Asisten Inspektur Jenderal Pendidikan Umum AD Bidang Diklat, Komandan RTP III Kodam Sulawesi Selatan dan Tenggara (Komando Daerah Militer XIV/Hasanuddin), Kepala Staf Komando Antar Daerah Indonesia Timur.
Pada 1966, Maraden Panggabean diangkat menjadi Wakil Panglima Angkatan Darat. Setahun kemudian dipromosikan menjadi Panglima Angkatan Darat, lalu Panglima Kopkamtib.
2. Kolonel Inf (Purn) Zulkifli Lubis

FOTO/BUKU Djawatan Topografi AD
Selanjutnya ada Zulkifli Lubis, KSAD berdarah Batak. Tentara kelahiran Banda Aceh, Hindia Belanda, 26 Desember 1923 itu menjabat KSAD cukup singkat dari 8 Mei hingga 26 Juni 1955.
Lubis di akhir namanya menunjukkan bahwa Zulkifli berasal dari Suku Batak. Lubis banyak dipakai orang dari kelompok marga Batak Angkola, Mandailing, dan Toba.
Zulkifli Lubis awalnya tak sengaja masuk tentara. Setelah menyelesaikan pendidikan Algemeene Middlebare School (AMS) B di Yogyakarta, ia diajak temannya ikut latihan yang digelar oleh tentara Jepang bagi pemuda Indonesia. Dua bulan dia latihan di Seinen Kurensho. Selanjutnya Zulkifli ditawari masuk pendidikan perwira militer di Seinen Dojo. Rampung pendidikan, Zulkifli berpangkat Letnan Dua (Letda).
Bersama rekan-rekannya, seperti Kemal Idris, Daan Mogot, dan Sabirin Mochtar, Zulkifli Hasan dilibatkan dalam pembetukan pasukan Pembela Tanah Air (PETA). Zulkifli kemudian mendapat kesempatan belajar intelijen di luar negeri.
Pulang ke Tanah Air, Zulkifli kemudian terlibat dalam pembentukan kelompok intelijen di berbagai tempat di Jawa. Namun setelah Jepang dinyatakan menyerah dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, ia mempersiapkan pembentukan intelijen bernama Badan Istimewa.
Ia juga membentuk Penyelidikan Militer Chusus (PMC) yang bertanggung jawab langsung ke Presiden Soekarno. Namun PMC kemudian dibubarkan karena Mabes TKR karena dianggap melakukan penangkapan dan penyitaan semena-mena.
Konflik internal di TNI AD membawa Zulkifli ke jajaran elite tentara. Ia ditunjuk menjadi Wakil KSAD oleh Menteri Pertahanan Iwa Kusumasumantri pada Desember 1953. Ia kemudian diangkat menjadi penjabat (Pj) KSAD pada Mei 1955 menggantikan Bambang Sugeng yang mengundurkan diri. Namun satu setengah bulan kemudian, ia digantikan Bambang Utoyo karena dinilai lebih intelijen dibanding militer dan pro-Barat.
Zulkifli Lubis meninggal dunia di Jakarta pada 23 Juni 1993 dan dimakamkan di Pusaka Makam Pahlawan Dreded, Kota Bogor, Jawa Barat.
3. Jenderal TNI (Purn) Maraden Saur Halomoan Panggabean

FOTO/BUKU Irian Barat dari Masa ke Masa
Ada juga nama Maraden Saur Halomoan Panggaeban dalam daftar KSAD berdarah Batak. Tentara kelahiran Pansur Napitu, Tarutung, Keresidenan Tapanuli, Hindia Belanda, 29 Juni 1922 itu menjabat KSAD pada periode 1 Mei 1967-25 November 1969.
Panggabean di akhir namanya merupakan marga dari kelompok Batak Toba. Marga-marga ternama lainnya dari kelompok Batak Toba adalah Panjaitan, Batubara, dan Simanjuntak.
Maraden Panggabean mengawali karier militernya dengan bergabung Organisasi Kelaskaran Pemuda Sosialis Indonesia sebagai Komandan Pasukan. Setelah itu, ia diangkat menjadi Kepala Staf Batalyon I Resimen IV Tentara Republik Indonesia (TRI) Divisi X, Kepala Staf Resimen I TRI Divisi VI Komandemen Sumatera, dan Komandan Resimen I TNI Divisi VI Komandemen Sumatera.
Pada 1957, ia dimutasi menjadi Pamen diperbantukan Itjen Pendidikan Umum Angkatan Darat. Lalu dipindah menjadi Asisten Inspektur Jenderal Pendidikan Umum AD Bidang Diklat, Komandan RTP III Kodam Sulawesi Selatan dan Tenggara (Komando Daerah Militer XIV/Hasanuddin), Kepala Staf Komando Antar Daerah Indonesia Timur.
Pada 1966, Maraden Panggabean diangkat menjadi Wakil Panglima Angkatan Darat. Setahun kemudian dipromosikan menjadi Panglima Angkatan Darat, lalu Panglima Kopkamtib.
Lihat Juga :