alexametrics

Ubah Limbah Jadi Beton, ITS Jawara Kompetisi Rancang Bangun 2018

loading...
Ubah Limbah Jadi Beton, ITS Jawara Kompetisi Rancang Bangun 2018
Tiga mahasiswa ITS, Reza Syihabul Millah, Andini Dwi Agustin dan Jonathan Febryan menyabet juara dalam Kompetisi Rancang Bangun (KRB) 2018. Mereka mengubah B3 menjadi beton berkualitas tinggi. FOTO/IST
A+ A-
SURABAYA - Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) selama ini selalu dihindari masyarakat. Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mencoba langkah berani dengan mengubah limbah B3 menjadi beton berkualitas tinggi. Hasilnya, beton yang dibuatnya menjadi pemenang dalam Kompetisi Rancang Bangun (KRB) 2018.

Dalam lomba beton nasional ini, ITS yang diwakili tim Senanjaya 79 dari Departemen Teknik Sipil berhasil menjadi jawara dan mengalahkan 63 peserta dari 53 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Karya mereka dianggap unik dan memiliki kekuatan yang tinggi dalam pemanfaatannya.



Anggota tim Senanjaya 79, Reza Syihabul Millah menuturkan, pihaknya sengaja mengambil fokus High Early Strength and Low Cost Concrete Competition dalam pengembangan beton pada masa mendatang. Dalam kompetisi ini memang menantang para peserta untuk membuat beton bermutu tinggi dalam waktu tujuh hari dengan biaya yang relatif murah.

"Pada umumnya beton dengan rancangan kuat tekan dalam 28 hari menghasilkan 60 mpa. Namun, berkat kerja keras dari tim ini, inovasi beton mampu menghasilkan kuat tekan 62,3 mpa dalam waktu tujuh hari," ujar Reza, Selasa (6/2/2018).

Bersama dengan Andini Dwi Agustin dan Jonathan Febryan, dirinya menamakan beton tersebut As Crete (Alumn and Sugar Concrete). Timnya kemudian membuat inovasi beton dengan menggunakan fly ash atau sisa pembakaran batu bara pada pembangkit listrik sebagai pengganti semen dan tawas yang selama ini didaulat menjadi campurannya.

Proses penemuan ini, katanya, dilalui dengan jalan yang terjal. Tim Senanjaya 79 ini sempat mengalami kesulitan dalam mencari material sebab fly ash merupakan limbah bahan berbahaya dan beracun sehingga perlu ada penanganan khusus dan surat pengantar untuk memperolehnya.

"Selain dari referensi jurnal asing, kami juga melakukan penelitian kurang lebih satu sampai dua bulan sehingga ide tersebut benar-benar matang," jelas mahasiswa angkatan 2016 ini.

Meski mengaku persaingan yang terjadi antarpeserta cukup ketat, tim ini tetap optimistis untuk membawa pulang juara pertama. Inovasi dengan memanfaatkan limbah B3 menjadi beton bisa berguna pada masa depan. "Kami merasa yakin karena penelitian ini baru pertama kali dilakukan di Indonesia," sahut Jonathan Febryan, salah satu anggota tim Senanjaya 79 lainnya.
(amm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak