Sowan Buya Syakur di Ponpes Cadangpinggan, GAMKI Harap Pemilu 2024 Berlangsung Damai
Senin, 09 Oktober 2023 - 17:56 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Dikukuhkan Presiden Jokowi, GAMKI Siap Wujudkan Indonesia Emas
"Indonesia tercipta juga atas kerja dan keringat kalian yang sering disebut minoritas. Oleh karena itu jangan kalian malu atau takut untuk beribadah dan menjalankan keyakinan beragama," kata Buya Syakur yang sampai saat ini aktif menulis dan menerbitkan buku.
Buya Syakur yang pernah menjadi Ketua PPI Kairo menekankan, keberagaman akan menjadi indah bila satu dengan yang lain tidak saling mendominasi serta mewajarkan istilah mayoritas dan minoritas.
"Saya berharap anak muda selalu bersatu, bekerja sama lintas agama, sehingga bisa mewujudkan Indonesia Emas 2045," katanya.
Menurut Buya Syakur, Indonesia terbentuk sebagai sebuah mukjizat yang diberikan Tuhan dengan aneka ragam budaya, bahasa, agama, suku. "Manusia mungkin tidak menyembah berhala, namun sikap dan perilaku manusia itu yang sering melakukan penghakiman terhadap seorang atau kelompok dengan mengatakan yang berbeda dengan mereka akan masuk neraka. Yang menjadi berhala bukan agama tetapi diri sendiri," ujarnya.
Buya Syakur meminta komitmen para pemuda untuk menjaga negara Indonesia tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan lain-lain. "Jangan mudah terprovokasi oleh oknum-oknum tertentu. Tidak ada warga negara kelas dua dan kelas tiga di Indonesia. Semua setara di negeri kita," katanya.
Karena itu, Buya Syakur meminta agar calon pemimpin pada Pemilu Legislatif dan Pemiihan Presiden dilihat dari gagasan, kapasitas, rekam jejak dan program kerja. Bukan berdasarkan politik identitas atas kesamaan suku, agama, dan ras.
Pada momen Silahturahmi Kebangsaan yang dilakukan GAMKI, Buya Syakur juga melakukan talkshow bersama Ketua Umum GAMKI Sahat Sinurat dan Ketua Umum DPP Forum Komunikasi Santri Indonesia (FOKSI) Muhammad Natsir Sahib, yang berbicara banyak mengenai pemuda dan persatuan.
"Indonesia tercipta juga atas kerja dan keringat kalian yang sering disebut minoritas. Oleh karena itu jangan kalian malu atau takut untuk beribadah dan menjalankan keyakinan beragama," kata Buya Syakur yang sampai saat ini aktif menulis dan menerbitkan buku.
Buya Syakur yang pernah menjadi Ketua PPI Kairo menekankan, keberagaman akan menjadi indah bila satu dengan yang lain tidak saling mendominasi serta mewajarkan istilah mayoritas dan minoritas.
"Saya berharap anak muda selalu bersatu, bekerja sama lintas agama, sehingga bisa mewujudkan Indonesia Emas 2045," katanya.
Menurut Buya Syakur, Indonesia terbentuk sebagai sebuah mukjizat yang diberikan Tuhan dengan aneka ragam budaya, bahasa, agama, suku. "Manusia mungkin tidak menyembah berhala, namun sikap dan perilaku manusia itu yang sering melakukan penghakiman terhadap seorang atau kelompok dengan mengatakan yang berbeda dengan mereka akan masuk neraka. Yang menjadi berhala bukan agama tetapi diri sendiri," ujarnya.
Buya Syakur meminta komitmen para pemuda untuk menjaga negara Indonesia tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan lain-lain. "Jangan mudah terprovokasi oleh oknum-oknum tertentu. Tidak ada warga negara kelas dua dan kelas tiga di Indonesia. Semua setara di negeri kita," katanya.
Karena itu, Buya Syakur meminta agar calon pemimpin pada Pemilu Legislatif dan Pemiihan Presiden dilihat dari gagasan, kapasitas, rekam jejak dan program kerja. Bukan berdasarkan politik identitas atas kesamaan suku, agama, dan ras.
Pada momen Silahturahmi Kebangsaan yang dilakukan GAMKI, Buya Syakur juga melakukan talkshow bersama Ketua Umum GAMKI Sahat Sinurat dan Ketua Umum DPP Forum Komunikasi Santri Indonesia (FOKSI) Muhammad Natsir Sahib, yang berbicara banyak mengenai pemuda dan persatuan.
Lihat Juga :