Membedah Pemikiran Denny JA soal Agama Mendorong Pencerahan
Selasa, 18 Juli 2023 - 12:00 WIB
loading...
A
A
A
“Gagasan Denny JA seperti yang ditulis oleh Gaus dalam buku ini sarat dengan ide-ide kebebasan dan hak asasi manusia. Itulah yang saya sebut pencerahan,” kata Afif.
Mantan Aktivis HMI yang berprofesi sebagai wartawan dan penyiar televisi ini mengatakan perlu melihat agama sebagai penggerak perkembangan budaya dan peradaban manusia. Agama dan kebudayaan serta bentuknya yang tertinggi yakni peradaban senantiasa bersimbiosis mutualisme.
“Alangkah ruginya kalau agama diperlakukan semata-mata sebagai dogma yang tertutup. Ia hanya melayani umatnya saja. Sedangkan, rahmat Tuhan seperti yang diajarkan oleh agama apa pun adalah untuk semua. Melampaui batas,” tuturnya.
Ahmad Gaus selaku penulis buku menyoroti hal yang sama. Baginya, ukuran sesuatu itu mencerahkan atau membutakan mudah saja. Jika sesuatu itu membawa ke tempat tertutup dan melahirkan fanatisme maka ia membutakan. Sebaliknya, jika mendorong keterbukaan maka ia mencerahkan.
Gaus mengutip hadis Nabi yang dipopularkan oleh Cendekiawan Nurcholish Madjid, yakni ahabbu ‘din ilallah al-hanifiyyat as-samhah. Artinya, sebaik-baik cara beragama di sisi Allah ialah yang lapang dada, tidak membelenggu jiwa, dan bersikap toleran.
“Nah, gagasan Denny JA ini bisa dibilang merebut monopoli tafsir agama dari kaum fanatik dan mengajak orang beragama untuk bersikap terbuka dan toleran. Itu yang dimaksud dengan pencerahan dalam beragama. Dan itulah ajaran Nabi,” tegasnya.
Menurut Gaus, buku yang ditulisnya itu mengelaborasi pemikiran Denny JA bahwa agama merupakan warisan budaya yang mengandung harta karun kebaikan, moral, dan spiritualitas yang berlimpah, teramat sayang jika dikunci di dalam gudang masing-masing.
Mantan Aktivis HMI yang berprofesi sebagai wartawan dan penyiar televisi ini mengatakan perlu melihat agama sebagai penggerak perkembangan budaya dan peradaban manusia. Agama dan kebudayaan serta bentuknya yang tertinggi yakni peradaban senantiasa bersimbiosis mutualisme.
“Alangkah ruginya kalau agama diperlakukan semata-mata sebagai dogma yang tertutup. Ia hanya melayani umatnya saja. Sedangkan, rahmat Tuhan seperti yang diajarkan oleh agama apa pun adalah untuk semua. Melampaui batas,” tuturnya.
Ahmad Gaus selaku penulis buku menyoroti hal yang sama. Baginya, ukuran sesuatu itu mencerahkan atau membutakan mudah saja. Jika sesuatu itu membawa ke tempat tertutup dan melahirkan fanatisme maka ia membutakan. Sebaliknya, jika mendorong keterbukaan maka ia mencerahkan.
Gaus mengutip hadis Nabi yang dipopularkan oleh Cendekiawan Nurcholish Madjid, yakni ahabbu ‘din ilallah al-hanifiyyat as-samhah. Artinya, sebaik-baik cara beragama di sisi Allah ialah yang lapang dada, tidak membelenggu jiwa, dan bersikap toleran.
“Nah, gagasan Denny JA ini bisa dibilang merebut monopoli tafsir agama dari kaum fanatik dan mengajak orang beragama untuk bersikap terbuka dan toleran. Itu yang dimaksud dengan pencerahan dalam beragama. Dan itulah ajaran Nabi,” tegasnya.
Menurut Gaus, buku yang ditulisnya itu mengelaborasi pemikiran Denny JA bahwa agama merupakan warisan budaya yang mengandung harta karun kebaikan, moral, dan spiritualitas yang berlimpah, teramat sayang jika dikunci di dalam gudang masing-masing.
Lihat Juga :