Fakta-fakta Jenderal TNI (Purn) Mulyono, Nomor 3 Buang Pangkat Bintang Empat
Kamis, 29 Juni 2023 - 06:07 WIB
loading...
Fakta-fakta mengenai Jenderal TNI (Purn) Mulyono yang diulas dalam artikel ini menarik untuk diketahui. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Fakta-fakta mengenai Jenderal TNI (Purn) Mulyono yang diulas dalam artikel ini menarik untuk diketahui. Jabatan terakhir purnawirawan TNI AD ini adalah Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD).
Lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) 1983 ini memasuki masa pensiun atau purnatugas dari TNI AD pada 12 Januari 2019. Berikut fakta-fakta mengenai Jenderal TNI (Purn) Mulyono:
Mulyono lahir di Desa Cepokosawit, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada 12 Januari 1961. Dia anak ketiga dari tujuh bersaudara.
Ayahnya bernama Suyatno Yatno Wiyoto yang bekerja sehari-hari sebagai pegawai Dinas Pekerjaan Umum bagian pengairan.
Sedangkan ibunya, Pardinah merupakan ibu rumah tangga, karena memang juga tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Kelahiran Mulyono merupakan dambaan hati dan kebahagiaan tersendiri bagi keluarga.
![Fakta-fakta Jenderal TNI (Purn) Mulyono, Nomor 3 Buang Pangkat Bintang Empat]()
“Pemberian nama Mulyono yang merupakan anak ketiga mengandung maksud agar nantinya anak yang dilahirkan ini mempunyai sifat yang mulia atau membawa kemuliaan,” bunyi kalimat dikutip dari Buku Biografi Mulyono "Sosok Jenderal, Sang Pembeda" yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat, Bandung, 2018.
![Fakta-fakta Jenderal TNI (Purn) Mulyono, Nomor 3 Buang Pangkat Bintang Empat]()
Baca juga: Dicemooh saat Daftar Akmil, Keajaiban Tahajud dan Dhuha Jadikan Sosok Ini Jenderal TNI Paling Dihormati
Keluarga Suyatno merupakan keluarga sederhana. Penugasan Suyatno di Dinas Pekerjaan Umum sebagai penjaga pintu air termasuk sebagai petugas kebersihan dan mengatur air.
Niat Suyatno untuk mengabdi kepada negara tidak pernah surut meski sebagai pegawai golongan rendah, hanya berbekal pendidikan Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar atau SD), itu juga tak lulus. Sehingga hanya memiliki surat keterangan pernah sekolah SR di sekolah tersebut.
Pada saat mendaftar pekerjaan, yang digunakan bukan ijazah, tetapi surat keterangan tersebut. Suyatno juga bertani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selain bekerja sebagai pegawai negeri.
Baca juga: Setelah Pensiun, Jenderal Mulyono Belum Terfikir Masuk Politik
Nah, Mulyono sekolah di SD Negeri Cepokosawit, terletak di ujung Desa Cepokosawit berdampingan dengan Kantor Kepala Desa. Di masa SD, Mulyono diasuh oleh sang kakek.
Selama diasuh sang kakek, Mulyono tidak ada waktu untuk belajar dan bermain seperti anak-anak yang lain. Sebab, selepas pulang sekolah, Mulyono harus membantu pekerjaan sehari-hari kakeknya yang merupakan seorang petani kolot atau tulen.
Kondisi tersebut dirasakannya sampai saat sekolah di SMP. Setelah tamat SD, Mulyono melanjutkan ke SMP Negeri Sawit, satu-satunya sekolah lanjutan pertama yang ada di Kecamatan Sawit.
Bagi Mulyono, meneruskan pendidikan yang lebih tinggi merupakan satu keharusan. Dia menyadari sepenuhnya bahwa untuk mencapai cita-cita yang lebih tinggi, maka pendidikan merupakan prasyarat mutiak yang harus ditempuh.
Lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) 1983 ini memasuki masa pensiun atau purnatugas dari TNI AD pada 12 Januari 2019. Berikut fakta-fakta mengenai Jenderal TNI (Purn) Mulyono:
1. Dari Keluarga Sederhana
Mulyono lahir di Desa Cepokosawit, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada 12 Januari 1961. Dia anak ketiga dari tujuh bersaudara.
Ayahnya bernama Suyatno Yatno Wiyoto yang bekerja sehari-hari sebagai pegawai Dinas Pekerjaan Umum bagian pengairan.
Sedangkan ibunya, Pardinah merupakan ibu rumah tangga, karena memang juga tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Kelahiran Mulyono merupakan dambaan hati dan kebahagiaan tersendiri bagi keluarga.

“Pemberian nama Mulyono yang merupakan anak ketiga mengandung maksud agar nantinya anak yang dilahirkan ini mempunyai sifat yang mulia atau membawa kemuliaan,” bunyi kalimat dikutip dari Buku Biografi Mulyono "Sosok Jenderal, Sang Pembeda" yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat, Bandung, 2018.

Baca juga: Dicemooh saat Daftar Akmil, Keajaiban Tahajud dan Dhuha Jadikan Sosok Ini Jenderal TNI Paling Dihormati
Keluarga Suyatno merupakan keluarga sederhana. Penugasan Suyatno di Dinas Pekerjaan Umum sebagai penjaga pintu air termasuk sebagai petugas kebersihan dan mengatur air.
Niat Suyatno untuk mengabdi kepada negara tidak pernah surut meski sebagai pegawai golongan rendah, hanya berbekal pendidikan Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar atau SD), itu juga tak lulus. Sehingga hanya memiliki surat keterangan pernah sekolah SR di sekolah tersebut.
Pada saat mendaftar pekerjaan, yang digunakan bukan ijazah, tetapi surat keterangan tersebut. Suyatno juga bertani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selain bekerja sebagai pegawai negeri.
Baca juga: Setelah Pensiun, Jenderal Mulyono Belum Terfikir Masuk Politik
Nah, Mulyono sekolah di SD Negeri Cepokosawit, terletak di ujung Desa Cepokosawit berdampingan dengan Kantor Kepala Desa. Di masa SD, Mulyono diasuh oleh sang kakek.

Selama diasuh sang kakek, Mulyono tidak ada waktu untuk belajar dan bermain seperti anak-anak yang lain. Sebab, selepas pulang sekolah, Mulyono harus membantu pekerjaan sehari-hari kakeknya yang merupakan seorang petani kolot atau tulen.
Kondisi tersebut dirasakannya sampai saat sekolah di SMP. Setelah tamat SD, Mulyono melanjutkan ke SMP Negeri Sawit, satu-satunya sekolah lanjutan pertama yang ada di Kecamatan Sawit.
Bagi Mulyono, meneruskan pendidikan yang lebih tinggi merupakan satu keharusan. Dia menyadari sepenuhnya bahwa untuk mencapai cita-cita yang lebih tinggi, maka pendidikan merupakan prasyarat mutiak yang harus ditempuh.
Lihat Juga :