Raup Rp4,8 Miliar per Tahun, ke Kantor Selepas Sekolah
Kamis, 26 Februari 2015 - 10:32 WIB
Raup Rp4,8 Miliar per Tahun, ke Kantor Selepas Sekolah
A
A
A
Seorang gadis remaja di Amerika Serikat (AS) bernama Noa Mintz, 15, meraup sukses besar melalui bisnisnya, yakni penyedia jasa pengasuh bayi.
Mintz enggan membuka berapa besar penghasilan dari bisnisnya itu. Namun berdasarkan perhitungan dari potongan 15% gaji kotor setiap pengasuh bayi, gadis berusia 15 tahun itu bisa meraup pendapatan hingga Rp4,8 miliar per tahun. Mintz membuka agen jasa pengasuh bayi Nannies by Noa sejak Agustus 2012.
Juli tahun lalu, dia merekrut Allison Johnson untuk mengisi posisi chief executive officer (CEO) agar operasi bisnisnya dapat terpantau. Maklum, Mintz tidak bisa sepenuhnya fokus sebab dia juga masih harus ke sekolah, mengikuti ujian, dan mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dari sekolahnya. Ketika kebanyakan gadis sibuk menghubungi pacarnya, gadis yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) itu sibuk menghubungi CEO bawahannya.
Dalam kondisi normal, sepulang sekolah, Mintz biasanya ke kantornya di Midtown Manhattan. “Saya suka menjadi pebisnis dan tetap mengikuti program akademik,” ujar Mintz, dikutip CNN . Sebagai seorang anak, Mintz tetap tidak bisa terlepas dari pengawasan orang tuanya. Ayahnya, yang juga membuka usaha ekuitas, merupakan pemilik resmi Nannies by Noa.
Dia menjadi penanggung urusan pajak. Namun demikian, suatu saat dia berharap anaknya dapat benarbenar mandiri dan ditantang dapat mengembalikan investasinya. Menurut ayah Mintz, Nannies by Noa murni gagasan anaknya. Awalnya rekan-rekan ibu Mintz, Meredith Berkman, sering meminta bantuan dicarikan pengasuh bayi. Mintz akhirnya membantu ibunya. “Saya merasa senang bisa mengetahui keluarga dan kebutuhan mereka. Saya tidak berharap banyak, tapi saya ingin mencoba,” tutur Mintz.
Jumlah klien Nannies by Noa saat ini mencapai 190 orang, naik tiga kali lipat dari tahun lalu. Tugas Mintz tentu semakin menumpuk. Dia perlu mengkaji kebutuhan setiap kliennya dan mencarikan pengasuh bayi yang paling cocok. Dari sekian banyak klien yang menghubungi Nannies by Noa, kebanyakan tidak sadar telah menelepon seorang gadis remaja berusia 15 tahun.
“Itu bukan sesuatu yang ingin saya sembunyikan,” ujar Mintz. “Namun, itu juga bukan sesuatu yang ingin saya samarkan di setiap komunikasi jarak jauh. Beberapa orang berkata, ’Kelihatannya kamu masih sangat muda. Berapa usia kamu?’ Saya yakinkan mereka bahwa saya anggota agen, dan saya seorang pebisnis,” tiru Mintz. Pada hari pertama, Mintz memasang tarif Rp1,2-2,5 juta per hari.
“Saya perlu membangun kepercayaan dengan para klien sebelum berbicara mengenai uang,” katanya. Kesuksesan ini lantas tidak menutup ambisi Mintz untuk membuka bisnis yang lain.
“Tapi, pertama, saya perlu menyelesaikan sekolah, dan barangkali sesudah itu saya akan membuka perusahaan yang lain. Kita lihat saja nanti,” kata Mintz. Kendati hebat dalam berbisnis, di sekolah, Mintz mengaku bukan tergolong siswa dengan nilai A+.
MUH SHAMIL
Mintz enggan membuka berapa besar penghasilan dari bisnisnya itu. Namun berdasarkan perhitungan dari potongan 15% gaji kotor setiap pengasuh bayi, gadis berusia 15 tahun itu bisa meraup pendapatan hingga Rp4,8 miliar per tahun. Mintz membuka agen jasa pengasuh bayi Nannies by Noa sejak Agustus 2012.
Juli tahun lalu, dia merekrut Allison Johnson untuk mengisi posisi chief executive officer (CEO) agar operasi bisnisnya dapat terpantau. Maklum, Mintz tidak bisa sepenuhnya fokus sebab dia juga masih harus ke sekolah, mengikuti ujian, dan mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dari sekolahnya. Ketika kebanyakan gadis sibuk menghubungi pacarnya, gadis yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) itu sibuk menghubungi CEO bawahannya.
Dalam kondisi normal, sepulang sekolah, Mintz biasanya ke kantornya di Midtown Manhattan. “Saya suka menjadi pebisnis dan tetap mengikuti program akademik,” ujar Mintz, dikutip CNN . Sebagai seorang anak, Mintz tetap tidak bisa terlepas dari pengawasan orang tuanya. Ayahnya, yang juga membuka usaha ekuitas, merupakan pemilik resmi Nannies by Noa.
Dia menjadi penanggung urusan pajak. Namun demikian, suatu saat dia berharap anaknya dapat benarbenar mandiri dan ditantang dapat mengembalikan investasinya. Menurut ayah Mintz, Nannies by Noa murni gagasan anaknya. Awalnya rekan-rekan ibu Mintz, Meredith Berkman, sering meminta bantuan dicarikan pengasuh bayi. Mintz akhirnya membantu ibunya. “Saya merasa senang bisa mengetahui keluarga dan kebutuhan mereka. Saya tidak berharap banyak, tapi saya ingin mencoba,” tutur Mintz.
Jumlah klien Nannies by Noa saat ini mencapai 190 orang, naik tiga kali lipat dari tahun lalu. Tugas Mintz tentu semakin menumpuk. Dia perlu mengkaji kebutuhan setiap kliennya dan mencarikan pengasuh bayi yang paling cocok. Dari sekian banyak klien yang menghubungi Nannies by Noa, kebanyakan tidak sadar telah menelepon seorang gadis remaja berusia 15 tahun.
“Itu bukan sesuatu yang ingin saya sembunyikan,” ujar Mintz. “Namun, itu juga bukan sesuatu yang ingin saya samarkan di setiap komunikasi jarak jauh. Beberapa orang berkata, ’Kelihatannya kamu masih sangat muda. Berapa usia kamu?’ Saya yakinkan mereka bahwa saya anggota agen, dan saya seorang pebisnis,” tiru Mintz. Pada hari pertama, Mintz memasang tarif Rp1,2-2,5 juta per hari.
“Saya perlu membangun kepercayaan dengan para klien sebelum berbicara mengenai uang,” katanya. Kesuksesan ini lantas tidak menutup ambisi Mintz untuk membuka bisnis yang lain.
“Tapi, pertama, saya perlu menyelesaikan sekolah, dan barangkali sesudah itu saya akan membuka perusahaan yang lain. Kita lihat saja nanti,” kata Mintz. Kendati hebat dalam berbisnis, di sekolah, Mintz mengaku bukan tergolong siswa dengan nilai A+.
MUH SHAMIL
(ars)