Tim FKIP UB Malang Siapkan Jaring Khusus
Selasa, 10 Februari 2015 - 10:22 WIB
Tim FKIP UB Malang Siapkan Jaring Khusus
A
A
A
MALANG - Tim penyelamat ikan hiu tutul (rhincodon typus ) Fakultas Kelautan dan Ilmu Perikanan (FKIP) Universitas Brawijaya (UB) Malang bekerja keras merancang jaring berukuran besar untuk menyelamatkan ikan hiu tutul yang terjebak dalam saluran air masuk (intake ) pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Koordinator tim penyelamat ikan hiu tutul FKIP UB Malang Sukandar menyebutkan, banyak kesulitan yang harus dihadapi dalam penyelamatan ikan itu mengingat arus air di saluran intake sangat deras. “Kecepatan arus air di permukaannya bisa mencapai tiga knot. Pada bagian bawahnya pasti arusnya jauh lebih kencang,” sebutnya.
Persoalan lain yang sangat menghambat proses penyelamatan ikan ini juga ada arus listrik tegangan tinggi di atas saluran air. Apabila arus air dihentikan, proses produksi listrik di PLTU itu bisa berhenti. Padahal, PLTU ini menyuplai listrik untuk masyarakat di Pulau Jawa dan Bali. “Kami juga tidak mampu memprediksi sampai kapan ikan tersebut mampu bertahan di saluran air dan tidak sampai tersedot masuk ke dalam pembangkit. Apabila ikan mati dan masuk ke pembangkit, proses produksi listrik juga akan terganggu,” tuturnya.
Ikan raksasa itu masuk ke dalam saluran intake hingga sejauh 1 kilometer dan sudah berada di kolam penampungan air terakhir sebelum masuk ke pembangkit. Ikan itu diperkirakan memiliki panjang 6 meter dan bobot sekitar 2 ton. Sukandar menyebutkan, proses penyelamatan tidak bisa menggunakan tenaga manusia di dalam saluran air tersebut karena memiliki kedalaman hingga 10 meter dan arusnya sangat deras.
Apabila manusia masuk, bisa langsung hilang terbawa arus air. Upaya yang sedang digagas bersama anggota timnya yang lain adalah menjaring ikan tersebut. Jaring akan coba dipasang dan ditarik dengan menggunakan katrol yang dipasang di atas saluran tersebut. Jaring yang sedang digagas memiliki lebar 25 meter dan panjang 40 meter. Jaring ini masih dirancang menggunakan tali plastik jenis polypropylen dengan diameter 10 milimeter (mm). Dibutuhkan waktu dua hari untuk membuat jaring tersebut.
“Jaring yang akan kami buat memiliki mata jaring selebar 40 sentimeter (cm) x 50 cm. Jaring dioperasionalkan dengan katrol yang dipasang di belakang dan depan ikan,” ungkapnya. Hasil kajian teknis pembuatan jaring dan upaya pengangkatan ikan hiu paus itu akan disampaikan pada rapat bersama tim gabungan di Paiton pada Rabu (11/2).
Apabila rencana proses pengangkatan ini disetujui dan bisa dilaksanakan, itu akan dilanjutkan dengan proses evakuasi ikan dari titik pengangkatan menuju ke laut. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Probolinggo Dedy Isfandi menyebutkan, proses penyelamatan ikan ini membutuhkan koordinasi yang matang antarsemua pihak. Ikan tersebut berada dalam objek vital negara.
“Ikan itu harus dievakuasi. Kalau dibiarkan, akan menyumbat saluran air dan bisa mengancam proses pembangkitan,” katanya.
Yuswantoro
Koordinator tim penyelamat ikan hiu tutul FKIP UB Malang Sukandar menyebutkan, banyak kesulitan yang harus dihadapi dalam penyelamatan ikan itu mengingat arus air di saluran intake sangat deras. “Kecepatan arus air di permukaannya bisa mencapai tiga knot. Pada bagian bawahnya pasti arusnya jauh lebih kencang,” sebutnya.
Persoalan lain yang sangat menghambat proses penyelamatan ikan ini juga ada arus listrik tegangan tinggi di atas saluran air. Apabila arus air dihentikan, proses produksi listrik di PLTU itu bisa berhenti. Padahal, PLTU ini menyuplai listrik untuk masyarakat di Pulau Jawa dan Bali. “Kami juga tidak mampu memprediksi sampai kapan ikan tersebut mampu bertahan di saluran air dan tidak sampai tersedot masuk ke dalam pembangkit. Apabila ikan mati dan masuk ke pembangkit, proses produksi listrik juga akan terganggu,” tuturnya.
Ikan raksasa itu masuk ke dalam saluran intake hingga sejauh 1 kilometer dan sudah berada di kolam penampungan air terakhir sebelum masuk ke pembangkit. Ikan itu diperkirakan memiliki panjang 6 meter dan bobot sekitar 2 ton. Sukandar menyebutkan, proses penyelamatan tidak bisa menggunakan tenaga manusia di dalam saluran air tersebut karena memiliki kedalaman hingga 10 meter dan arusnya sangat deras.
Apabila manusia masuk, bisa langsung hilang terbawa arus air. Upaya yang sedang digagas bersama anggota timnya yang lain adalah menjaring ikan tersebut. Jaring akan coba dipasang dan ditarik dengan menggunakan katrol yang dipasang di atas saluran tersebut. Jaring yang sedang digagas memiliki lebar 25 meter dan panjang 40 meter. Jaring ini masih dirancang menggunakan tali plastik jenis polypropylen dengan diameter 10 milimeter (mm). Dibutuhkan waktu dua hari untuk membuat jaring tersebut.
“Jaring yang akan kami buat memiliki mata jaring selebar 40 sentimeter (cm) x 50 cm. Jaring dioperasionalkan dengan katrol yang dipasang di belakang dan depan ikan,” ungkapnya. Hasil kajian teknis pembuatan jaring dan upaya pengangkatan ikan hiu paus itu akan disampaikan pada rapat bersama tim gabungan di Paiton pada Rabu (11/2).
Apabila rencana proses pengangkatan ini disetujui dan bisa dilaksanakan, itu akan dilanjutkan dengan proses evakuasi ikan dari titik pengangkatan menuju ke laut. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Probolinggo Dedy Isfandi menyebutkan, proses penyelamatan ikan ini membutuhkan koordinasi yang matang antarsemua pihak. Ikan tersebut berada dalam objek vital negara.
“Ikan itu harus dievakuasi. Kalau dibiarkan, akan menyumbat saluran air dan bisa mengancam proses pembangkitan,” katanya.
Yuswantoro
(ars)