8 Alasan Budi Gunawan Dianggap Layak Gantikan Sutarman
Rabu, 07 Januari 2015 - 12:00 WIB
8 Alasan Budi Gunawan Dianggap Layak Gantikan Sutarman
A
A
A
JAKARTA - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menilai sosok Komjen Pol Budi Gunawan layak menggantikan Sutarman sebagai Kepala Kepolisian RI (Kapolri).
Delapan alasan dipaparkan IPW untuk menilai kepantasan jenderal bintang tiga ini. Pertama, kata dia, percepatan pergantian jabatan Kapolri dianggap hal yang wajar.
Dia mencontohkan, sejumlah contoh seperti mantan Kapolri Dai Bachtiar, yang berhenti meskipun masa jabatannya masih empat tahun lagi.
Kemudian Timur Pradopo, yang dianggap masa pensiunnya kurang dari tiga bulan lagi. "Sehingga percepatan penggantian Sutarman adalah wajar," kata Neta kepada Sindonews di Jakarta, Rabu (7/1/2014).
Kedua, lanjut Neta, Budi Gunawan dianggap mewakili Komjen Senior Akpol angkatan 83. Sementara angkatan 81 dan 82 sudah diwakili oleh Kapolri dan Wakapolri yang sekarang. Ketiga, Budi Gunawan dianggap mempunyai ide-ide baru untuk merubah lembaga kepolisian.
"Keempat, Budi dikenal sebagai Pati yang mudah bergaul, baik di internal maupun eksternal Polri," ujarnya.
Kelima, lanjut Neta, tipikal Budi sebagai jenderal Polri yang mau mendengar saran dan masukan orang. Khususnya dalam memperbaiki intitusi Polri.
Keenam, Budi dianggap memiliki kedekatan dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan dekat dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Sehingga dipastikan lebih bisa memahami konsep revolusi mental untuk membenahi Polri," ketusnya.
Kemudian alasan ketujuh, selama lima tahun menjabat Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Kalemdikpol), Budi dianggap paham arah pendidikan dan pembenahan Polri. Kata dia, saat ini pembenahan di tubuh Polri kerap bingung akan dimulai dari mana.
Yang kedelapan, Budi dikenal bukan pribadi yang pengkhianat. Menurut Neta, selama 'dipendam' di Kalemdikpol, Budi tetap berkarya untuk membenahi pendidikan Polri, meskipun dia sebelumnya pantas mendapat jabatan Wakapolri atau Irwasum.
"Dengan kedelapan alasan ini, tidak ada alasan bagi segelintir kalangan untuk menolak Budi Gunawan jadi Kapolri," pungkasnya.
Delapan alasan dipaparkan IPW untuk menilai kepantasan jenderal bintang tiga ini. Pertama, kata dia, percepatan pergantian jabatan Kapolri dianggap hal yang wajar.
Dia mencontohkan, sejumlah contoh seperti mantan Kapolri Dai Bachtiar, yang berhenti meskipun masa jabatannya masih empat tahun lagi.
Kemudian Timur Pradopo, yang dianggap masa pensiunnya kurang dari tiga bulan lagi. "Sehingga percepatan penggantian Sutarman adalah wajar," kata Neta kepada Sindonews di Jakarta, Rabu (7/1/2014).
Kedua, lanjut Neta, Budi Gunawan dianggap mewakili Komjen Senior Akpol angkatan 83. Sementara angkatan 81 dan 82 sudah diwakili oleh Kapolri dan Wakapolri yang sekarang. Ketiga, Budi Gunawan dianggap mempunyai ide-ide baru untuk merubah lembaga kepolisian.
"Keempat, Budi dikenal sebagai Pati yang mudah bergaul, baik di internal maupun eksternal Polri," ujarnya.
Kelima, lanjut Neta, tipikal Budi sebagai jenderal Polri yang mau mendengar saran dan masukan orang. Khususnya dalam memperbaiki intitusi Polri.
Keenam, Budi dianggap memiliki kedekatan dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan dekat dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Sehingga dipastikan lebih bisa memahami konsep revolusi mental untuk membenahi Polri," ketusnya.
Kemudian alasan ketujuh, selama lima tahun menjabat Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Kalemdikpol), Budi dianggap paham arah pendidikan dan pembenahan Polri. Kata dia, saat ini pembenahan di tubuh Polri kerap bingung akan dimulai dari mana.
Yang kedelapan, Budi dikenal bukan pribadi yang pengkhianat. Menurut Neta, selama 'dipendam' di Kalemdikpol, Budi tetap berkarya untuk membenahi pendidikan Polri, meskipun dia sebelumnya pantas mendapat jabatan Wakapolri atau Irwasum.
"Dengan kedelapan alasan ini, tidak ada alasan bagi segelintir kalangan untuk menolak Budi Gunawan jadi Kapolri," pungkasnya.
(kri)