Bersaksi melalui puisi esai
Rabu, 19 Maret 2014 - 23:27 WIB
Bersaksi melalui puisi esai
A
A
A
Sindonews.com - Apa jadinya jika para penyair memberikan kesaksian sosial melalui puisi esai. Para penyair itupun terkesan juga menjadi aktivis sosial, yang dengan data dan argumen melakukan protes.
Wadahnya bukan puisi, bukan esai, tapi puisi esai atau puisi panjang berbabak yang menggali sisi batin dalam sebuah konteks sosial. Tidak lupa dalam puisi itu berhamburan catatan kaki selayaknya makalah akademik atau esai para intelektual.
Aneka konflik batin aneka wilayah di Indonesia terlihat melalui lima buku puisi esai itu. Puisi tidak lagi hanya ekspresi batin, tapi kini juga bagian dari sosialisasi sebuah perjuangan sosial. Para penulis “kawakan” yang biasa menulis puisi lirik, penulis cerpen, atau esai kini bereksperimen menulis puisi esai. Hasilnya membuka dunia baru. Beberapa penyair yang selama hidupnya menulis puisi lirik, dengan puisi esai ternyata menggarap tema yang sama sekali berbeda dengan tema-tema yang biasa mereka tulis.
Ahmadun Y Herfanda yang biasa menulis puisi lirik relijius, dengan puisi esainya justru menggarap tema baru mengenai konflik sosial dan ideologi. Begitu juga dengan 22 penyair lainnya. Mereka kini fasih mengangkat tema sosial, mulai kisah pemberontakan komunisme, isu pelacuran, korupsi, diskriminasi sampai uraian seorang tokoh yang kini menjadi capres 2014 Jokowi.
Dalam jajaran penulis puisi esai itu, ada Sujiwo Tejo, Agus Noor, Chavchay Saefullah, Akidah Gauzillah, Anis Sholeh Ba'asyin, Dianing Widya, Ahmadun Yosi Herfanda, Anwar Putra Bayu, D. Kemalawati, Handry Tm, Mezra E. Pellondou, Salman Yoga S, Mustafa Ismail, Kurnia Effendi, Bambang Widiatmoko, Nia Samsihono, Anisa Afzal, Isbedy Stiawan ZS, Remmy Novaris, Sihar Ramses Simatupang, dan Rama Prabu.
Di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, 19 Maret 2014 mereka meluncurkan lima buku puisi esai dalam satu panggung yang tidak bisa. Peluncuran itu lebih mirip pertunjukan teater atau wayang modern. Masing-masing penyair membacakan secuplik saja dari puisinya. Sujiwo Tejo selaku dalang mencoba menjahit aneka penggalan puisi itu dalam satu kisah yang mengalir selama hampir dua jam. Format pertunjukan seperti menceritakan pewayangan dengan dalangnya.
Sejak puisi esai ditulis Denny JA dan diterbitkan dalam buku Atas Nama Cinta, istilah puisi esai pun menjadi perdebatan dimana-mana, terutama di kalangan para penulis puisi dan sastrawan. Ada pihak yang menolak dengan keras, ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang menyambut dengan gembira. Perdebatan menjadi lebih keras lagi setelah terbit buku 33 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sastra Indonesia terbitan Gramedia dan PDS HB Jassin.
Wadahnya bukan puisi, bukan esai, tapi puisi esai atau puisi panjang berbabak yang menggali sisi batin dalam sebuah konteks sosial. Tidak lupa dalam puisi itu berhamburan catatan kaki selayaknya makalah akademik atau esai para intelektual.
Aneka konflik batin aneka wilayah di Indonesia terlihat melalui lima buku puisi esai itu. Puisi tidak lagi hanya ekspresi batin, tapi kini juga bagian dari sosialisasi sebuah perjuangan sosial. Para penulis “kawakan” yang biasa menulis puisi lirik, penulis cerpen, atau esai kini bereksperimen menulis puisi esai. Hasilnya membuka dunia baru. Beberapa penyair yang selama hidupnya menulis puisi lirik, dengan puisi esai ternyata menggarap tema yang sama sekali berbeda dengan tema-tema yang biasa mereka tulis.
Ahmadun Y Herfanda yang biasa menulis puisi lirik relijius, dengan puisi esainya justru menggarap tema baru mengenai konflik sosial dan ideologi. Begitu juga dengan 22 penyair lainnya. Mereka kini fasih mengangkat tema sosial, mulai kisah pemberontakan komunisme, isu pelacuran, korupsi, diskriminasi sampai uraian seorang tokoh yang kini menjadi capres 2014 Jokowi.
Dalam jajaran penulis puisi esai itu, ada Sujiwo Tejo, Agus Noor, Chavchay Saefullah, Akidah Gauzillah, Anis Sholeh Ba'asyin, Dianing Widya, Ahmadun Yosi Herfanda, Anwar Putra Bayu, D. Kemalawati, Handry Tm, Mezra E. Pellondou, Salman Yoga S, Mustafa Ismail, Kurnia Effendi, Bambang Widiatmoko, Nia Samsihono, Anisa Afzal, Isbedy Stiawan ZS, Remmy Novaris, Sihar Ramses Simatupang, dan Rama Prabu.
Di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, 19 Maret 2014 mereka meluncurkan lima buku puisi esai dalam satu panggung yang tidak bisa. Peluncuran itu lebih mirip pertunjukan teater atau wayang modern. Masing-masing penyair membacakan secuplik saja dari puisinya. Sujiwo Tejo selaku dalang mencoba menjahit aneka penggalan puisi itu dalam satu kisah yang mengalir selama hampir dua jam. Format pertunjukan seperti menceritakan pewayangan dengan dalangnya.
Sejak puisi esai ditulis Denny JA dan diterbitkan dalam buku Atas Nama Cinta, istilah puisi esai pun menjadi perdebatan dimana-mana, terutama di kalangan para penulis puisi dan sastrawan. Ada pihak yang menolak dengan keras, ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang menyambut dengan gembira. Perdebatan menjadi lebih keras lagi setelah terbit buku 33 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sastra Indonesia terbitan Gramedia dan PDS HB Jassin.
(dam)