Aktivis pemilu kritik metode kampanye parpol
Sabtu, 15 Maret 2014 - 11:12 WIB
Aktivis pemilu kritik metode kampanye parpol
A
A
A
Sindonews.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) sejatinya telah memberikan ruang kampanye kepada 12 partai politik (parpol) peserta Pemilu 2014, tiga hari setelah ditetapkan sebagai peserta pemilu, meski harus dilakukan secara tertutup.
Mengomentari lamanya waktu kampanye, Direktur Eksekutif Perkumpulan Pemilu untuk Demokrasi (Perludem) Titi Angraini menilai, kampanye yang dilakukan peserta pemilu masih bersifat pencitraan.
"Saya rasa tidak ada kampanye di Pemilu 2014, karena kampanye visi dn misi program, dan mengajak memilih. Sudah ada belum sih, saya rasa masih pencitraan," kata Titi dalam diskusi Polemik Sindo Trijaya bertema Rakyat Memilih Siapa di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (15/3/2014).
Menurut Titi, langkah tersebut justru berdampak negatif terhadap pemilih karena mereka tidak mengetahui visi dan misi yang ditawarkan peserta pemilu. "Tidak ada alat peraga yang menampilkan visi dan misi. Kontraproduktif jelas buruk," tegasnya.
Hal senada juga disampaikan Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Daniel Zuchron. Kata dia, peserta pemilu kurang kreatif dalam melakukan kampanye selama ini.
"Banyak dimanfaatkan tidak maksimal oleh konstenstan. Harusnya mereka banyak kreasi, mau kampanye apa saja silahkan. Tetapi yang tidak dilarang," ucapnya di lokasi yang sama.
"Seperti alat peraga, kita tahu surat suara DPD ada fotonya, untuk caleg padahal surat suara tidak ada tetapi fotonya besar-besar, artinya ini akan membingungkan pemilih yang selama ini tahu fotonya," imbuhnya.
Mengomentari lamanya waktu kampanye, Direktur Eksekutif Perkumpulan Pemilu untuk Demokrasi (Perludem) Titi Angraini menilai, kampanye yang dilakukan peserta pemilu masih bersifat pencitraan.
"Saya rasa tidak ada kampanye di Pemilu 2014, karena kampanye visi dn misi program, dan mengajak memilih. Sudah ada belum sih, saya rasa masih pencitraan," kata Titi dalam diskusi Polemik Sindo Trijaya bertema Rakyat Memilih Siapa di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (15/3/2014).
Menurut Titi, langkah tersebut justru berdampak negatif terhadap pemilih karena mereka tidak mengetahui visi dan misi yang ditawarkan peserta pemilu. "Tidak ada alat peraga yang menampilkan visi dan misi. Kontraproduktif jelas buruk," tegasnya.
Hal senada juga disampaikan Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Daniel Zuchron. Kata dia, peserta pemilu kurang kreatif dalam melakukan kampanye selama ini.
"Banyak dimanfaatkan tidak maksimal oleh konstenstan. Harusnya mereka banyak kreasi, mau kampanye apa saja silahkan. Tetapi yang tidak dilarang," ucapnya di lokasi yang sama.
"Seperti alat peraga, kita tahu surat suara DPD ada fotonya, untuk caleg padahal surat suara tidak ada tetapi fotonya besar-besar, artinya ini akan membingungkan pemilih yang selama ini tahu fotonya," imbuhnya.
(maf)