Pemimpin Indonesia tak cuma modal pencitraan
Jum'at, 14 Maret 2014 - 19:07 WIB
Pemimpin Indonesia tak cuma modal pencitraan
A
A
A
Sindonews.com - Pemilu 2014 banyak diisi tokoh muda termasuk calon presiden (capres), akan tetapi untuk menjadi kepala negara tidak bisa hanya bermodalkan pencitraan.
"Jadi tidak sekadar berfoto, pencitraan, tapi memberikan nilai tambah bagi rakyat," kata peserta Konvensi Capres Partai Demokrat, Dino Patti Djalal dalam diskusi bertema Tokoh Muda di Pentas Politik 2014 di Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (14/3/2014).
Kata dia, untuk saat ini pemilih Indonesia membutuhkan pemimpin yang bisa memberikan solusi terhadap persoalan bangsa saat ini, sehingga tidak hanya bermodalkan pencitraan.
"Sekarang ingin pemimpin yang berpijak dibumi, mungkin orang biasa dan tahu masalah orang biasa, dan punya solusi solutif. Jadi bukan sekadar berpidato berjam-jam," terangnya.
Karenanya, pesta demokrasi tahun ini mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat ini berharap pemimpin Indonesia bisa memahami keinginan rakyatnya.
"Ini momentum baik bagi pemimpin Indonesia untuk meredefinisikan, apa itu populisme. Saya kira salah satu tantangan pemimpin Indonesia ke 2014 untuk meredefinisi populisme," pungkasnya.
"Jadi tidak sekadar berfoto, pencitraan, tapi memberikan nilai tambah bagi rakyat," kata peserta Konvensi Capres Partai Demokrat, Dino Patti Djalal dalam diskusi bertema Tokoh Muda di Pentas Politik 2014 di Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (14/3/2014).
Kata dia, untuk saat ini pemilih Indonesia membutuhkan pemimpin yang bisa memberikan solusi terhadap persoalan bangsa saat ini, sehingga tidak hanya bermodalkan pencitraan.
"Sekarang ingin pemimpin yang berpijak dibumi, mungkin orang biasa dan tahu masalah orang biasa, dan punya solusi solutif. Jadi bukan sekadar berpidato berjam-jam," terangnya.
Karenanya, pesta demokrasi tahun ini mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat ini berharap pemimpin Indonesia bisa memahami keinginan rakyatnya.
"Ini momentum baik bagi pemimpin Indonesia untuk meredefinisikan, apa itu populisme. Saya kira salah satu tantangan pemimpin Indonesia ke 2014 untuk meredefinisi populisme," pungkasnya.
(kri)