Kongres Demokrat, Anas tak tahu ada uang transpor
Jum'at, 13 Desember 2013 - 18:50 WIB
Kongres Demokrat, Anas tak tahu ada uang transpor
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Umum Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), Anas Urbaningrum menceritakan, saat dirinya maju dalam Kongres Partai Demokrat, di Bandung tahun 2010.
Anas mengatakan, kepada tim relawan pendukungnya agar tidak menyerang lawan calon kandidat lain dengan cara politik kotor. Bahkan, Anas meminta kepada relawan untuk menghindari politik uang.
"Jangan pernah jual beli suara, karena itu bukan tindakan politik yang bertanggung jawab," kata Anas usai diskusi 'Pesan Konstitusi Tentang Demokrasi dan Kesejahteraan Rakyat' yang diselenggarakan Organisasi Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) di Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat (13/12/2013).
Disinggung soal uang transpor yang dibagi-bagikan kepada peserta kongres, Anas sendiri menampik itu. Menurutnya, saat itu dirinya sebagai calon kandidat yang tak mengurusi soal itu. Anas mengaku tak mengurusi hal-hal bersifat teknis. "Kalau calon urusin transpor berarti seksi transpor dong," ujarnya.
Sementara saat ditanya mengenai dugaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memberi restu membagi-bagikan uang transpor dari calon kepada peserta kongres, mantan Ketua Umum Partai Demokrat ini enggan berkomentar lebih detail. "Saya tidak tahu. Saya tidak tahu kalau SBY urusi transpor," jelasnya.
Seperti diketahui, isu bagi-bagi uang transpor yang konon mendapat restu dari SBY terungkap dari statmen anggota Dewan Pembina Demokrat, Ahmad Mubarok. Usai diperiksa sebagai saksi oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ikhwal kasus Hambalang, pria paruh baya yang terkenal dengan nada bicaranya yang 'ceplas-ceplos' ini mengungkapkan, saat kongres Demokrat semua calon membagi-bagikan uang berkisar antara Rp1 juta hingga Rp5 juta.
Isu itupun direspons Wakil Ketua Demokrat, Max Sopacua yang menyangkal Presiden SBY merestui bagi-bagi uang transportasi itu kepada peserta kongres di Bandung tiga tahun lalu.
SBY legalkan uang transpor di Kongres Demokrat Bandung
Anas mengatakan, kepada tim relawan pendukungnya agar tidak menyerang lawan calon kandidat lain dengan cara politik kotor. Bahkan, Anas meminta kepada relawan untuk menghindari politik uang.
"Jangan pernah jual beli suara, karena itu bukan tindakan politik yang bertanggung jawab," kata Anas usai diskusi 'Pesan Konstitusi Tentang Demokrasi dan Kesejahteraan Rakyat' yang diselenggarakan Organisasi Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) di Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat (13/12/2013).
Disinggung soal uang transpor yang dibagi-bagikan kepada peserta kongres, Anas sendiri menampik itu. Menurutnya, saat itu dirinya sebagai calon kandidat yang tak mengurusi soal itu. Anas mengaku tak mengurusi hal-hal bersifat teknis. "Kalau calon urusin transpor berarti seksi transpor dong," ujarnya.
Sementara saat ditanya mengenai dugaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memberi restu membagi-bagikan uang transpor dari calon kepada peserta kongres, mantan Ketua Umum Partai Demokrat ini enggan berkomentar lebih detail. "Saya tidak tahu. Saya tidak tahu kalau SBY urusi transpor," jelasnya.
Seperti diketahui, isu bagi-bagi uang transpor yang konon mendapat restu dari SBY terungkap dari statmen anggota Dewan Pembina Demokrat, Ahmad Mubarok. Usai diperiksa sebagai saksi oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ikhwal kasus Hambalang, pria paruh baya yang terkenal dengan nada bicaranya yang 'ceplas-ceplos' ini mengungkapkan, saat kongres Demokrat semua calon membagi-bagikan uang berkisar antara Rp1 juta hingga Rp5 juta.
Isu itupun direspons Wakil Ketua Demokrat, Max Sopacua yang menyangkal Presiden SBY merestui bagi-bagi uang transportasi itu kepada peserta kongres di Bandung tiga tahun lalu.
SBY legalkan uang transpor di Kongres Demokrat Bandung
(maf)