Wapres Boediono setujui draf kurikulum baru

Kamis, 15 November 2012 - 02:41 WIB
Wapres Boediono setujui...
Wapres Boediono setujui draf kurikulum baru
A A A
Sindonews.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan, pada Selasa 13 Nopember 2012, pihaknya sudah mengajukan draf revisi kurikulum pendidikan baru ke Wakil Presiden (Wapres) Boediono dan isinya sudah disetujui.

Bahkan, wapres meminta draf itu dipresentasikan juga disidang kabinet. Hal itu dimaksudkan agar sehingga mendapat masukan dari kementerian lain, terutama pada Kementerian Agama yang membawahi pendidikan agama.

Lebih lanjut, dia menambahkan, kementerian akan meminta masukan dari masyarakat selama dua hingga tiga minggu, agar pada tahun ajaran baru 2013 nanti, kurikulum baru tersebut sudah dapat diterapkan. Dalam uji publik ini, masyarakat dapat memberikan pandangan tentang bagaimana implementasinya.

Uji publik juga menumbuhkan partisipasi aktif masyarakat, sehingga masyarakat mempunyai rasa memiliki yang kuat.

Untuk itu, pemerintah akan mencari pilihan dari beberapa alternatif penerapan, yakni apakah akan dipilih beberapa kelas di seluruh Indonesia sebagai pilot project, atau hanya dibeberapa sekolah, atau hanya dijenjang tertentu, namun secara merata di seluruh Indonesia.

“2016, kurikulum baru ini bisa diterapkan secara utuh (nasional),” ujar M Nuh di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Rabu (14/11/2012).

Dia menambahkan, revisi kurikulum yang paling menjadi perdebatan panjang ialah di jenjang SD. Namun tim penyusun menetapkan, pelajaran di SD akan menggunakan tematik integratif dalam setiap pelajaran, dalam artian pelajaran akan didasarkan atas tema-tema yang mengikat, dan terintegrasi dibeberapa mata pelajaran.

Dia mencontohkan, di pelajaran Bahasa Indonesia, saat guru menjelaskan tema sungai, maka akan dijelaskan mengapa sungai mengalir. Tema sungai mengalir ini, masuk mata pelajaran IPA. Lalu apakah air ini dapat dipakai untuk berwudhu, maka itu masuk ke pelajaran agama.

Selain itu, mengenai penambahan jam pelajaran juga akan dilakukan mengingat metode pembelajarannya bergeser dari semula siswa hanya diberi tahu akan sesuatu, akan menjadi siswa harus aktif mencari tahu. Sistem penilaian juga akan berubah, dimana sistem pilihan ganda sudah akan menjadi masa lalu, karena pemerintah mementingkan penilaian proses.

“Banyak Negara sudah menambah jam pelajarannya seperti Amerika dan Korea. Indonesia termasuk negara dengan jam pelajaran tersingkat. Di Finlandia juga singkat, namun mereka ditambah guru pendamping,” terangnya.
(san)
Berita Terkait
Tingkatkan Kualitas...
Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Pemkab Langkat Hadirkan Smartboard untuk Siswa
Pendidikan Mahal, Orang...
Pendidikan Mahal, Orang Miskin Dilarang Sekolah
Momogi Berbagi Hadirkan...
Momogi Berbagi Hadirkan Edukasi dan Keceriaan bagi Siswa Sekolah Kami
Meningkatkan Literasi...
Meningkatkan Literasi di Dunia Pendidikan
OREO Berbagi Seru Hadirkan...
OREO Berbagi Seru Hadirkan Pembelajaran Berbasis Bermain untuk Siswa Purworejo
Tingkatkan Mutu Perguruan...
Tingkatkan Mutu Perguruan Tinggi, DPD Perkindo DKI Jakarta Gandeng 3 Universitas
Berita Terkini
MAKI Sebut Pelimpahan...
MAKI Sebut Pelimpahan Penanganan Perkara Febrie Ardiansyah Tabrak KUHAP Baru
Lantik Pengurus Golkar...
Lantik Pengurus Golkar Aceh, Bahlil Instruksikan Konsolidasi dan Tambah Kursi Legislatif
Belum Ditahan, di Mana...
Belum Ditahan, di Mana Febrie Adriansyah usai Jadi Tersangka Korupsi?
ASN Diizinkan Antar...
ASN Diizinkan Antar Anak di Hari Pertama Sekolah, Menteri PANRB: Tak Boleh Mengurangi Kualitas Pelayanan Publik
30 Pati TNI AU Naik...
30 Pati TNI AU Naik Pangkat, Danlanud Sultan Hasanuddin Pecah Bintang
Kejagung Janji Profesional...
Kejagung Janji Profesional Usut Kasus Dugaan Korupsi Febrie Adriansyah
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved