Bahasa Inggris jangan dihapus
Jum'at, 09 November 2012 - 01:01 WIB
Bahasa Inggris jangan dihapus
A
A
A
Sindonews.com - Pengamat Pendidikan Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen menyatakan, wacana dihapuskannya mata pelajaran Bahasa Inggris di jenjang Sekolah Dasar (SD) tidak perlu dilakukan.
"Ini mengingat kondisi global yang menuntut para kaum muda untuk fasih berbahasa Inggris dan melek teknologi,"ujarnya di Jakarta, Kamis (8/11/2012).
Disamping itu, lanjut dia, pembelajaran tentang sains juga perlu berdiri sendiri. Tim penyusun kurikulum yang baru ini harus memperhatikan jika ilmu sains memiliki pola pemikiran sendiri yang tidak dapat diinternalisasikan dengan pendidikan keagamaan dan Pancasila yang bersifat deduktif.
Lebih lanjut, Ketua Departemen Litbang PGRI itu mengatakan, pendidikan olahraga (Penjaskes), kesenian, dan keterampilan sebaiknya masuk ke dalam muatan lokal atau ekstarkulikuler. Alasannya, pendidikan tersebut terkait dengan bakat dan minat siswa.
Dengan demikian, pihak sekolah dapat melihat potensi-potensi yang terdapat dalam diri masing-masing siswa. "Bakat dari masing-masing anak itu berbeda-beda. Oleh karena itu, sekolah harus sungguh-sungguh dalam memberikan pembinaan dan menyiapkan fasilitas, sehingga bakat mereka benar-benar dapat dikembangkan," ucap Abduhzen.
Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud Khairil Anwar Notodiputro mengatakan, tiga semangat tersebut adalah penyederhanaan kurikulum sehingga tidak membebani siswa. Dia menjelaskan, penghapusan mata pelajaran IPA dan IPS merupakan isu yang belum diketahui kebenarannya.
Namun kurikulum yang baru nanti bisa jadi ada penyederhanaan isi, mata pelajaran atau kompetensi dasar. Implementasi kedua ialah peningkatan efektivitas belajar mengajar guru.
“Kalau anak belajar suatu kompetensi tertentu, bagaimana ke depannya supaya jamnya lebih singkat untuk mencapai kompetensi. Jadi bagaimana proses pembelajaran harus dibuat sedemikian rupa agar lebih efektif. Dan ini menyangkut guru maka guru harus diperbaiki. Sehingga dari itu pemerintah harus lakukan uji kompetensi guru,” katanya.
Selain itu kurikulum akan mengatasi berbagai persoalan yang belum teratasi sehingga ke depannya kurikulum akan mendeteksi berbagai persoalan apa yang terjadi didalam kelas. Dan implementasi ketiga ialah masalah kesinambungan yakni pemetaan seperti apa lulusan sekolah dasar itu nantinya dan peningkatan kemampuan mereka secara bertahap.
"Ini mengingat kondisi global yang menuntut para kaum muda untuk fasih berbahasa Inggris dan melek teknologi,"ujarnya di Jakarta, Kamis (8/11/2012).
Disamping itu, lanjut dia, pembelajaran tentang sains juga perlu berdiri sendiri. Tim penyusun kurikulum yang baru ini harus memperhatikan jika ilmu sains memiliki pola pemikiran sendiri yang tidak dapat diinternalisasikan dengan pendidikan keagamaan dan Pancasila yang bersifat deduktif.
Lebih lanjut, Ketua Departemen Litbang PGRI itu mengatakan, pendidikan olahraga (Penjaskes), kesenian, dan keterampilan sebaiknya masuk ke dalam muatan lokal atau ekstarkulikuler. Alasannya, pendidikan tersebut terkait dengan bakat dan minat siswa.
Dengan demikian, pihak sekolah dapat melihat potensi-potensi yang terdapat dalam diri masing-masing siswa. "Bakat dari masing-masing anak itu berbeda-beda. Oleh karena itu, sekolah harus sungguh-sungguh dalam memberikan pembinaan dan menyiapkan fasilitas, sehingga bakat mereka benar-benar dapat dikembangkan," ucap Abduhzen.
Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud Khairil Anwar Notodiputro mengatakan, tiga semangat tersebut adalah penyederhanaan kurikulum sehingga tidak membebani siswa. Dia menjelaskan, penghapusan mata pelajaran IPA dan IPS merupakan isu yang belum diketahui kebenarannya.
Namun kurikulum yang baru nanti bisa jadi ada penyederhanaan isi, mata pelajaran atau kompetensi dasar. Implementasi kedua ialah peningkatan efektivitas belajar mengajar guru.
“Kalau anak belajar suatu kompetensi tertentu, bagaimana ke depannya supaya jamnya lebih singkat untuk mencapai kompetensi. Jadi bagaimana proses pembelajaran harus dibuat sedemikian rupa agar lebih efektif. Dan ini menyangkut guru maka guru harus diperbaiki. Sehingga dari itu pemerintah harus lakukan uji kompetensi guru,” katanya.
Selain itu kurikulum akan mengatasi berbagai persoalan yang belum teratasi sehingga ke depannya kurikulum akan mendeteksi berbagai persoalan apa yang terjadi didalam kelas. Dan implementasi ketiga ialah masalah kesinambungan yakni pemetaan seperti apa lulusan sekolah dasar itu nantinya dan peningkatan kemampuan mereka secara bertahap.
(lns)