Perubahan kurikulum harus disesuaikan zaman
Jum'at, 09 November 2012 - 00:01 WIB
Perubahan kurikulum harus disesuaikan zaman
A
A
A
Sindonews.com - Revisi kurikulum yang sedang dibahas pemerintah harus disesuaikan dengan perkembangan zaman agar membawa perubahan dalam sistem pendidikan.
Menurut mantan Menteri Pendidikan Nasional ke-19 (1993-1998) Wardiman Djojonegoro, kurikulum pendidikan nasional harus dievaluasi secara berkala, mengingat zaman yang terus berkembang. Dan perubahan kurikulum semestinya dilakukan setiap lima tahun sekali.
Karena tujuan utama dari pendidikan adalah untuk menyiapkan masa depan generasi muda. "Sehingga, apa yang dididik sekarang dapat dipakai untuk mereka menuju masa depan. Oleh karena itu, perubahan kurikulum itu tantangan zaman yang harus dijawab," katanya di Kongres Kebudayaan Pemuda Indonesia di Jakarta, Kamis (8/11/2012).
Wardiman menyatakan, hal dasar dari pendidikan itu sendiri ialah untuk mendidik anak-anak supaya mereka bisa menyiapkan masa depan mereka. Sehingga apa yang dididik sekarang dapat dipakai untuk dia menuju masa depan.
Sementara Pengamat Pendidikan Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen juga menyatakan hal serupa. Menurutnya, kurikulum itu semestinya dinamis. Namun demikian pemerintah harus menjamin ada nilai-nilai keagamaan, kebudayaan dan nasionalisme yang tertanam dalam kurikulum yang baru tersebut.
Menurutnya, perkembangan dunia pendidikan di Indonesia harus merujuk kepada dua hal, yaitu pembangunan ekonomi dan kebudayaan. Setelah kedua hal tersebut memiliki konsep yang jelas, baru kurikulum dan sistem pendidikan bisa diarahkan.
Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta keselarasan antara dunia pendidikan dengan kontribusi
generasi muda terhadap pembangunan bangsa. Oleh karenanya, pendidikan harus sesuai dengan situasi dan kondisi kebangsaan saat ini.
"Yang harus dijawab pertama, mau dibawa kemana ekonomi dan kebudayaan dari bangsa ini. Setelah kedua hal itu jelas, baru pendidikan di Indonesia bisa diarahkan, sehingga dapat tercipta keselarasan. Masalahnya, ekonomi dan kebudayaan Indonesia ini belum jelas arahnya," ungkap Abduhzen.
Menurut mantan Menteri Pendidikan Nasional ke-19 (1993-1998) Wardiman Djojonegoro, kurikulum pendidikan nasional harus dievaluasi secara berkala, mengingat zaman yang terus berkembang. Dan perubahan kurikulum semestinya dilakukan setiap lima tahun sekali.
Karena tujuan utama dari pendidikan adalah untuk menyiapkan masa depan generasi muda. "Sehingga, apa yang dididik sekarang dapat dipakai untuk mereka menuju masa depan. Oleh karena itu, perubahan kurikulum itu tantangan zaman yang harus dijawab," katanya di Kongres Kebudayaan Pemuda Indonesia di Jakarta, Kamis (8/11/2012).
Wardiman menyatakan, hal dasar dari pendidikan itu sendiri ialah untuk mendidik anak-anak supaya mereka bisa menyiapkan masa depan mereka. Sehingga apa yang dididik sekarang dapat dipakai untuk dia menuju masa depan.
Sementara Pengamat Pendidikan Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen juga menyatakan hal serupa. Menurutnya, kurikulum itu semestinya dinamis. Namun demikian pemerintah harus menjamin ada nilai-nilai keagamaan, kebudayaan dan nasionalisme yang tertanam dalam kurikulum yang baru tersebut.
Menurutnya, perkembangan dunia pendidikan di Indonesia harus merujuk kepada dua hal, yaitu pembangunan ekonomi dan kebudayaan. Setelah kedua hal tersebut memiliki konsep yang jelas, baru kurikulum dan sistem pendidikan bisa diarahkan.
Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta keselarasan antara dunia pendidikan dengan kontribusi
generasi muda terhadap pembangunan bangsa. Oleh karenanya, pendidikan harus sesuai dengan situasi dan kondisi kebangsaan saat ini.
"Yang harus dijawab pertama, mau dibawa kemana ekonomi dan kebudayaan dari bangsa ini. Setelah kedua hal itu jelas, baru pendidikan di Indonesia bisa diarahkan, sehingga dapat tercipta keselarasan. Masalahnya, ekonomi dan kebudayaan Indonesia ini belum jelas arahnya," ungkap Abduhzen.
(lns)