Redam tawuran, tanamkan nilai solidaritas
Minggu, 14 Oktober 2012 - 09:09 WIB
Redam tawuran, tanamkan nilai solidaritas
A
A
A
Sindonews.com - Maraknya aksi tawuran belakangan ini dinilai karena kurikulum yang diterapkan kurang adaptif dengan lingkungan terdekatnya.
Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM) Drajad Sulistyo Widhiarto mengaku prihatin atas maraknya perkelahian antar kaum pelajar, baik di tingkat sekolah menengah, maupun di tingkat pendidikan tinggi.
Dia berpendapat, saat ini tengah terjadi perubahan nilai cara pandang anak muda terhadap teman sebaya dan kaumnya. Hal ini diperlihatkan dengan hubungan sosial di tengah masyarakat, termasuk kaum muda yang semakin materialistik atau berteman tidak lagi berlandaskan persaudaraan tapi untung rugi.
Gejala sosial inilah yang memunculkan cara pandang anti perbedaan, dan berteman atas dasar persamaan. "Ini yang memicu munculnya model-model gank, kelompok, hubungan sosial semakin tertutup, tidak lagi terbuka," terangnya, Minggu (14/10/2012).
Untuk itu, perlu ditanamkan pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai solidaritas dan menghormati pluralitas sejak dini. Nilai itulah yang menurut Drajad tidak muncul di sistem pendidikan nasional kita selama ini.
Pola pendidikan yang mengusung kepribadian, solidaritas, menghormati pluralitas belum menjadi prioritas namun pendidikan di tanah air cenderung politis dan serba ekonomis.
Gejala lain juga ditemukan Drajad, yakni adanya perbedaan persepsi antara pendidikan dan lingkungan sosial dimana para peserta didik itu tinggal.
Padahal seharusnya, kurikulum yang diterapkan di sekolah harus adaptif dengan lingkungan terdekatnya. Sementara Drajad menemukan, masih banyak kurikulum yang justru diadopsi dari luar negeri, utamanya negara-negara maju.
Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM) Drajad Sulistyo Widhiarto mengaku prihatin atas maraknya perkelahian antar kaum pelajar, baik di tingkat sekolah menengah, maupun di tingkat pendidikan tinggi.
Dia berpendapat, saat ini tengah terjadi perubahan nilai cara pandang anak muda terhadap teman sebaya dan kaumnya. Hal ini diperlihatkan dengan hubungan sosial di tengah masyarakat, termasuk kaum muda yang semakin materialistik atau berteman tidak lagi berlandaskan persaudaraan tapi untung rugi.
Gejala sosial inilah yang memunculkan cara pandang anti perbedaan, dan berteman atas dasar persamaan. "Ini yang memicu munculnya model-model gank, kelompok, hubungan sosial semakin tertutup, tidak lagi terbuka," terangnya, Minggu (14/10/2012).
Untuk itu, perlu ditanamkan pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai solidaritas dan menghormati pluralitas sejak dini. Nilai itulah yang menurut Drajad tidak muncul di sistem pendidikan nasional kita selama ini.
Pola pendidikan yang mengusung kepribadian, solidaritas, menghormati pluralitas belum menjadi prioritas namun pendidikan di tanah air cenderung politis dan serba ekonomis.
Gejala lain juga ditemukan Drajad, yakni adanya perbedaan persepsi antara pendidikan dan lingkungan sosial dimana para peserta didik itu tinggal.
Padahal seharusnya, kurikulum yang diterapkan di sekolah harus adaptif dengan lingkungan terdekatnya. Sementara Drajad menemukan, masih banyak kurikulum yang justru diadopsi dari luar negeri, utamanya negara-negara maju.
(ysw)