IPA dan IPS di SD akan dihapus

Jum'at, 28 September 2012 - 05:01 WIB
IPA dan IPS di SD akan...
IPA dan IPS di SD akan dihapus
A A A
Sindonews.com - Pemerintah akan menghapus pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPA IPS) di SD dan menggantinya dengan pelajaran sikap.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Khairil Anwar mengatakan, dari hasil diskusi yang berkembang di kementerian maka pelajaran di sekolah tingkat dasar akan lebih ditekankan kepada bagaimana membentuk anak yang disiplin, jujur dan bersih.

Menurutntya, perubahan itu terkait dengan revisi kurikulum pendidikan nasional yang sudah tidak mengikuti perkembangan zaman. Kurikulum pembentukan sikap ini akan memakan korban penghapusan pelajaran IPA IPS di SD.

Penghapusan kedua mata pelajaran ini juga sebagai akibat pengurangan jam belajar karena pelajaran pembentukan sikap ini tidak lagi terkait dengan transfer ilmu sains.

Sehingga mata pelajaran yang akan diajarkan nantinya di SD ialah pelajaran Agama, Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn), Pancasila, Bahasa Indonesia dan Matematika dasar saja. Namun, meski disederhanakan mata pelajaran ini akan disesuaikan dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD).

“Jadi misalkan penilaian di pelajaran Agama. Tidak hanya praktek saalat saja yang dinilai namun dinilai juga apakah dia suka menjahili teman atau apakah dia suka mencuri,” katanya di gedung Kemendikbud Jakarta, Kamis (27/9/2012).

Guru Besar Ilmu Statistik IPB ini menambahkan, ujian akhir nantinya tidak hanya berbentuk pilihan ganda namun bagaimana siswa itu mengimplementasikan pelajaran agama ke masyarakat.

Tidak hanya revisi kurikulum di SD, revisi juga berlanjut ke SMP dan SMA. Untuk SMP pelajaran yang akan diberikan akan terfokus kepada pelajaran keterampilan melihat dan melakukan sesuatu yang dapat dilihat dengan mata. Kemungkinan IPA , IPS masih tetap ada meskipun jam belajarnya tidak terlalu tinggi.

Sementara pelajaran di SMA mulai mentransformasi keterampilan tersebut dengan ilmu pengetahuan yang lebih tinggi.

“Kurikulum kedepan itu harus lebih banyak ke proses obsurvey atau bagaimana mengamati, mempertanyakan dan bagaiaman meniru dan bagaimana melaporkan. Saat ini kita menilai anak-anak lemah dalam melaporkan. Orientasi lain dalam penyederhanaan kurikulum ini juga supaya kita lebih focus (dalam memberikan mata pelajaran) dan tidak menganggap semua (mata pelajaran) seolah-olah itu penting. Lihat saja sekarang, anak SD banyak punggungnya memar karena terlalu banyak bawa buku,” tukasnya.

Dalam konteks pengembangan ini, kementerian tidak dapat bekerja sendiri sehingga melibatkan pengamat agar revisi kurikulum ini dapat dibahas dengan cermat.

Pengamat Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Said Hamid Hasan mengaku dia termasuk dalam salah satu pengamat yang diundang dalam pembahasan revisi tersebut.

Menurutnya, penghapusan mata pelajaran IPA IPS di SD ini masih belum dipastikan, karena saat ini tim masih membahas standar kompetensi kelulusan.

Meski demikian, kementerian memang meminta tahun ini sudah ada draft revisi kurikulum dan 2013 nanti aka nada pelatihan guru.

“Kami belum sampai pengambilan keputusan. Saya rasa pembahasan ini bukan masalah tentang penghapusan IPA IPS tetapi ada keinginan agar jumlah mata pelajaran di seluruh jenjang dikurangi sehingga beban anak tidak terlalu besar. Jika ada pengurangan mata pelajaran maka juga akan ada pengurangan guru. Intinya kami ingin ringankan beban siswa,” jelasnya.

Said menuturkan, yang terpenting dalam revisi kurikulum ini ialah tahap implementasinya atau dalam hal ini kualitas gurunya itu sendiri. Kalau guru tidak dilatih maka mereka tidak akan mampu melakukan perubahan dalam sistem pengajaran dan pembelajaran.

Selain itu juga tidak cukup mensertifikasi guru karena jika lingkungan sekolahnya masih menerapkan pola lama maka siswa tetap kesulitan belajar dan tidak akan menunjukkan prestasi yang baik.

Anggota Komisi X DPR Tubagus Dedi Gumelar mengaku setuju dengan penghapusan IPA IPS di SD karena SD itu jenjang sekolah yang paling dasar di mana guru seharusnya menanamkan budi pekerti dan tidak mendorong siswa menjadi seorang Einstein.

Lalu Pancasila yang harus diurai dari sila pertama hingga empat. Sekolah juga harus mengajarkan Kesenian yang dapat menghaluskan budi pekerti.

“Kurikulum harus menyeimbangkan kecerdasan akal dan jiwa anak,” imbuh politikus dari Fraksi PDIP ini.
(lns)
Berita Terkait
Tingkatkan Kualitas...
Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Pemkab Langkat Hadirkan Smartboard untuk Siswa
Pendidikan Mahal, Orang...
Pendidikan Mahal, Orang Miskin Dilarang Sekolah
Momogi Berbagi Hadirkan...
Momogi Berbagi Hadirkan Edukasi dan Keceriaan bagi Siswa Sekolah Kami
Meningkatkan Literasi...
Meningkatkan Literasi di Dunia Pendidikan
OREO Berbagi Seru Hadirkan...
OREO Berbagi Seru Hadirkan Pembelajaran Berbasis Bermain untuk Siswa Purworejo
Tingkatkan Mutu Perguruan...
Tingkatkan Mutu Perguruan Tinggi, DPD Perkindo DKI Jakarta Gandeng 3 Universitas
Berita Terkini
Kejagung Janji Profesional...
Kejagung Janji Profesional Usut Kasus Dugaan Korupsi Febrie Adriansyah
BMKG Prediksi Curah...
BMKG Prediksi Curah Hujan Tetap Rendah di Wilayah Indonesia pada Pertengahan Juli 2026
Prabowo Panggil Menhan,...
Prabowo Panggil Menhan, Kapolri, hingga Jaksa Agung di Istana Malam Ini, Ada Apa?
Kasus Febrie Adriansyah...
Kasus Febrie Adriansyah Dilimpahkan ke Kejagung, Pakar: Proses Hukum Harus Transparan
Polri Limpahkan Kasus...
Polri Limpahkan Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung, KPK: Kami Yakin Ditangani Profesional
Pukat UGM: Pelimpahan...
Pukat UGM: Pelimpahan Perkara Febrie ke Kejagung Tak Miliki Dasar Hukum
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved