Pemerintah dinilai pelihara kelompok teroris

Minggu, 09 September 2012 - 20:23 WIB
Pemerintah dinilai pelihara...
Pemerintah dinilai pelihara kelompok teroris
A A A
Sindonews.com - Pemerintah dinilai memelihara kelompok terorisme di sejumlah daerah, karena telah membiarkan kelompok-kelompok itu berkembang. Baahkan Badan Intelijen Negara (BIN) mengaku telah lama mencium gerakan kelompok terorisme itu.

"Aksi peledakan bom tadi malam hanyalah sebagai pembuktian jika kelompok teroris tersebut masih eksis keberadaannya. Kalau kelompok itu masih eksis, itu karena pemerintah dan aparat keamanan secara tidak langsung telah memberi toleransi berlebih kepada mereka," kata anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo di Jakarta, Minggu (9/9/2012).

Bambang juga menyatakan, demi stabilitas kehidupan berbangsa, maka toleransi dalam bentuk sekecil apapun terhadap terorisme lokal harus diakhiri.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) maupun para pengamat sudah berulangkali mengindikasikan adanya jaringan atau kelompok-kelompok terorisme baru yang bernafsu untuk melancarkan aksi teror di Indonesia.

"Dilaporkan bahwa hingga saat ini, ada sembilan kelompok teroris. Kelompok-kelompok itu membentuk jaringan, serta memiliki dana untuk membeli senjata, bahan peledak dan membiayai kegiatan lainnya," jelas Bambang.

Bahkan, kelompok-kelompok terorisme tersebut, turut menggelar latihan di Sulawesi dan wilayah Poso yang dijadikan sebagai basis kelompok mereka. Pesertanya diketahui berasal dari sejumlah daerah. Dimana ketika mereka kembali ke daerah asal, peserta ini akan langsung membentuk sel-sel baru.

"Data atau informasi intelijen ini idealnya diterjemahkan sebagai ancaman. Kalau pemerintah konsisten melindungi rakyat dan menjaga stabilitas nasional, ancaman itu harus dieliminasi, at all cost," pungkas Bambang.

Sedangkan, selama ini yang terlihat di permukaan hanyalah langkah-langkah atau aksi yang reaktif, berupa serangan balik pasca serangan para terduga teroris. Salah satu contohnya adalah serangan balik oleh Detesemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror pada pekan pertama September 2012 yang merupakan reaksi atas serangan tiga terduga teroris di Solo.

"Penyikapan terhadap eksistensi jaringan terorisme di Indonesia tidak bisa terus-menerus reaktif. Manfaatkan segera data intelijen untuk mengeliminasi ancaman terorisme di negara ini," tegas Bambang.
(san)
Berita Terkait
Terjadi Ledakan di Belakang...
Terjadi Ledakan di Belakang Lantai 1 Margo City Depok
Korban Tewas Ledakan...
Korban Tewas Ledakan di Kantor Unit Kontra Terorisme Pakistan Jadi 17 Orang
Dua Ledakan Guncang...
Dua Ledakan Guncang Kantor Unit Kontra Terorisme Pakistan, 8 Tewas
Sheikh Al Azhar Sebut...
Sheikh Al Azhar Sebut Membakar Alquran sebagai Aksi Terorisme
Bos MI5: 31 Rencana...
Bos MI5: 31 Rencana Teror Tahap Akhir Digagalkan dalam 4 Tahun di Inggris
Pelaku Bom di Polsek...
Pelaku Bom di Polsek Astana Anyar Eks Narapidana Terorisme
Berita Terkini
Vesak Festival 2026,...
Vesak Festival 2026, Stafsus Menag Doakan Presiden Prabowo Diberi Kekuatan Memimpin Bangsa
Relawan Sebut Prabowo...
Relawan Sebut Prabowo Sedang Memimpin Perang Besar Melawan Mafia Ekonomi dan SDA
Ajakan Tobat Ekologis...
Ajakan Tobat Ekologis Menteri Jumhur Sangat Tepat dan Relevan
KPK Sebut Penerimaan...
KPK Sebut Penerimaan Murid Baru Masih Dibayangi Pungli
Ditetapkan Tersangka...
Ditetapkan Tersangka oleh KPK, Bupati Cilacap Syamsul Ajukan Praperadilan
Langkah Berani Kejagung...
Langkah Berani Kejagung Sentuh Korupsi MBG Jadi Sinyal Kuat Penegakan Hukum Tanpa Impunitas
Infografis
Pilih Tangkap Putin...
Pilih Tangkap Putin daripada Netanyahu, Uni Eropa Dinilai Munafik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved