Mahasiswa Madura minta kekerasan di Sampang dihentikan
Senin, 27 Agustus 2012 - 17:41 WIB
Mahasiswa Madura minta kekerasan di Sampang dihentikan
A
A
A
Sindonews.com - Forum Silaturahim Keluarga Mahasiswa Madura-Jogjakarta (FS-KMMJ) meminta kekerasan di Sampang, Madura, segera dihentikan. Dia juga meminta kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Sampang bertindak tegas dalam menangani kasus yang menelan korban jiwa tersebut.
"Harapan kami, pemerintah daerah tegas dan sesingkat-singkatnya harus mengusut tuntas kasus kekerasan terhadap warga Syiah," tutur Ketua Umum FS-KMMJ Abdul Khafi Syatra saat berbincang dengan Sindonews, Senin (27/8/2012).
Dalam waktu dekat, lanjut Khafi, semua elemen termasuk aparat penegak hukum, tokoh masyarakat, ulama harus mencari solusi terbaik bagi masyarakat Syiah sehingga konflik bisa terselesaikan dengan baik.
Pemerintah pusat, sambung Khafi, juga harus mengevaluasi instrumen pemerintahan yang kurang berfungsi secara tepat. Seharusnya, konflik kekerasan bisa dideteksi sejak dini supaya bisa dicegah.
"Pemerintah harus turun tangan dalam hal ini, jangan tebang pilih agar masyarakat Sampang segera pulih dan merasa aman untuk melakukan aktivitasnya," terangnya.
Sebagai mahasiswa asal Madura, sambung Khafi, tentu pihaknya merasa prihatin dengan insiden berdarah itu. Kendati demikian, Khafi yakin, persoalan ini bisa diselesaikan dengan baik.
"Kami sebagai mahasiswa Madura rantau merasa prihatin dengan kejadian ini, seharusnya kekerasan tidak terjadi di tanah Madura. Sebagai negara hukum, apapun alasannya main hakim sendiri adalah tindakan yang tidak dibenarkan," tukasnya.
"Harapan kami, pemerintah daerah tegas dan sesingkat-singkatnya harus mengusut tuntas kasus kekerasan terhadap warga Syiah," tutur Ketua Umum FS-KMMJ Abdul Khafi Syatra saat berbincang dengan Sindonews, Senin (27/8/2012).
Dalam waktu dekat, lanjut Khafi, semua elemen termasuk aparat penegak hukum, tokoh masyarakat, ulama harus mencari solusi terbaik bagi masyarakat Syiah sehingga konflik bisa terselesaikan dengan baik.
Pemerintah pusat, sambung Khafi, juga harus mengevaluasi instrumen pemerintahan yang kurang berfungsi secara tepat. Seharusnya, konflik kekerasan bisa dideteksi sejak dini supaya bisa dicegah.
"Pemerintah harus turun tangan dalam hal ini, jangan tebang pilih agar masyarakat Sampang segera pulih dan merasa aman untuk melakukan aktivitasnya," terangnya.
Sebagai mahasiswa asal Madura, sambung Khafi, tentu pihaknya merasa prihatin dengan insiden berdarah itu. Kendati demikian, Khafi yakin, persoalan ini bisa diselesaikan dengan baik.
"Kami sebagai mahasiswa Madura rantau merasa prihatin dengan kejadian ini, seharusnya kekerasan tidak terjadi di tanah Madura. Sebagai negara hukum, apapun alasannya main hakim sendiri adalah tindakan yang tidak dibenarkan," tukasnya.
(san)