Ketua DPR nilai aliran Syiah tidak sesat
Senin, 27 Agustus 2012 - 16:24 WIB
Ketua DPR nilai aliran Syiah tidak sesat
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Marzuki Alie mengatakan, umat Muslim yang menganut aliran Syiah tidak sesat. Untuk itu, harus disosialisasikan secara luas kepada masyarakat agar tidak menimbulkan konflik antar sesama umat Muslim.
"Keberadaan Syiah harus disosialisakan supaya Syiah tidak dianggap sesat oleh kelompok lain. Ini perlu sosialisasi MUI bersama Kementerian Agama (Kemenag) bahwa Syiah itu tidak sesat," ujar Marzuki melalui pesan singkatnya, di Jakarta, Senin (27/8/2012).
Pelaku kekerasan terhadap jamaah Syiah, lanjut Marzuki, harus ditindak sesuai aturan hukum supaya kejadian serupa tidak terulang kembali. "Siapa saja yang melakukan kekerasan, sebagai suatu negara hukum, harus ditindak tegas," terangnya.
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini meminta, kedepannya aparat penegak hukum bertindak cepat. Pasalnya insiden kekerasan seperti itu tidak bisa ditolerir. "Penegak hukum (harus) bertindak cepat, lugas dan tepat sesuai aturan hukum yang berlaku di Indonesia," jelasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, terjadi bentrok antara kelompok Islam Syiah dan Sunni di Kabupaten Sampang. Belasan rumah milik pengikut Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dan Desa Bluran, Kecamatan Karang Penang, Sampang, hangus dibakar.
Tak hanya itu, dua orang pengikut Syiah harus meregang nyawa akibat kerusuhan itu. Diduga, keributan itu dipicu oleh penghadangan sejumlah siswa warga Syiah yang hendak kembali belajar ke Bangil.
Saat itu, para siswa dicegat massa yang mengancam akan membakar mobil yang ditumpangi para siswa. Dihadang tanpa alasan yang jelas, para siswa yang berada di dalam mobil bersitegang dengan kelompok massa tersebut.
"Sekelompok orang menghadang mobil yang ditumpangi oleh orangtua dan siswa yang hendak mengantar anaknya melanjutkan sekolah ke Pekalongan dan Bangil. Mereka lalu mengancam akan membakar angkot yang ditumpangi. Karena memang ada dendam yang tidak terselesaikan, akhirnya kerusuhan pecah," ungkap Sekjend Ahlul Bait Indonesia (ABI), Ahmad Hidayat, saat dihubungi.
Massa tersebut juga menyerbu rumah milik Ustad Tajul Muluk (saat ini di penjara). Saat itu, rumah Ustad Tajul Muluk ditempati oleh Kulsum, istri Tajul Muluk. Akibat kerusuhan itu, kata Hidayat, dua orang dari warga Syiah tewas dan enam orang sekarat.
"Sebab kerusuhan pada Desember 2011 lalu tidak tuntas pengusutannya. Provokatornya masih bebas dan nyaris tidak tersentuh hukum, malahan Tajul Muluk yang menjadi korban pembakaran dijatuhi hukuman karena penistaan agama," terangnya.
"Keberadaan Syiah harus disosialisakan supaya Syiah tidak dianggap sesat oleh kelompok lain. Ini perlu sosialisasi MUI bersama Kementerian Agama (Kemenag) bahwa Syiah itu tidak sesat," ujar Marzuki melalui pesan singkatnya, di Jakarta, Senin (27/8/2012).
Pelaku kekerasan terhadap jamaah Syiah, lanjut Marzuki, harus ditindak sesuai aturan hukum supaya kejadian serupa tidak terulang kembali. "Siapa saja yang melakukan kekerasan, sebagai suatu negara hukum, harus ditindak tegas," terangnya.
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini meminta, kedepannya aparat penegak hukum bertindak cepat. Pasalnya insiden kekerasan seperti itu tidak bisa ditolerir. "Penegak hukum (harus) bertindak cepat, lugas dan tepat sesuai aturan hukum yang berlaku di Indonesia," jelasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, terjadi bentrok antara kelompok Islam Syiah dan Sunni di Kabupaten Sampang. Belasan rumah milik pengikut Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dan Desa Bluran, Kecamatan Karang Penang, Sampang, hangus dibakar.
Tak hanya itu, dua orang pengikut Syiah harus meregang nyawa akibat kerusuhan itu. Diduga, keributan itu dipicu oleh penghadangan sejumlah siswa warga Syiah yang hendak kembali belajar ke Bangil.
Saat itu, para siswa dicegat massa yang mengancam akan membakar mobil yang ditumpangi para siswa. Dihadang tanpa alasan yang jelas, para siswa yang berada di dalam mobil bersitegang dengan kelompok massa tersebut.
"Sekelompok orang menghadang mobil yang ditumpangi oleh orangtua dan siswa yang hendak mengantar anaknya melanjutkan sekolah ke Pekalongan dan Bangil. Mereka lalu mengancam akan membakar angkot yang ditumpangi. Karena memang ada dendam yang tidak terselesaikan, akhirnya kerusuhan pecah," ungkap Sekjend Ahlul Bait Indonesia (ABI), Ahmad Hidayat, saat dihubungi.
Massa tersebut juga menyerbu rumah milik Ustad Tajul Muluk (saat ini di penjara). Saat itu, rumah Ustad Tajul Muluk ditempati oleh Kulsum, istri Tajul Muluk. Akibat kerusuhan itu, kata Hidayat, dua orang dari warga Syiah tewas dan enam orang sekarat.
"Sebab kerusuhan pada Desember 2011 lalu tidak tuntas pengusutannya. Provokatornya masih bebas dan nyaris tidak tersentuh hukum, malahan Tajul Muluk yang menjadi korban pembakaran dijatuhi hukuman karena penistaan agama," terangnya.
(san)