Faisal Basri: Lembaga survei harus diaudit
Kamis, 19 Juli 2012 - 17:58 WIB
Faisal Basri: Lembaga survei harus diaudit
A
A
A
Sindonews.com - Melesetnya hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga survei dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta berbuntut panjang. Calon gubernur (cagub) DKI Jakarta yang maju melalui jalur perseorangan Faisal Basri meminta lembaga survei diaudit untuk memperbaiki akuntabilitasnya.
"Parah, akuntabilitas mereka (lembaga survei) tidak bisa dipercaya, saya menginginkan mereka harus diaudit," kata Faisal di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (19/7/2012).
Dia menegaskan, semua hasil survei yang dipublikasikan seharusnya tidak boleh dibiayai oleh pihak ketiga. "Kalau lembaga survei untuk kepentingan pribadi silakan, tapi kalau untuk diumumkan ke publik harus bisa dipertanggungjawabkan," ujarnya.
Menurutnya, hasil survei pada Pilgub DKI Jakarta lalu cenderung merugikan kandidat yang maju dari jalur perseorangan. "Itu cukup berpengaruh bagi pemilih, membunuh dengan cara menggiring opini publik," jelasnya.
Sebelumnya, beberapa lembaga survei memprediksi pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli bisa memenangi Pilgub DKI Jakarta dengan satu putaran. Namun, ketika penghitungan cepat dilakukan, pasangan incumbent itu justru berada di bawah pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama.
"Parah, akuntabilitas mereka (lembaga survei) tidak bisa dipercaya, saya menginginkan mereka harus diaudit," kata Faisal di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (19/7/2012).
Dia menegaskan, semua hasil survei yang dipublikasikan seharusnya tidak boleh dibiayai oleh pihak ketiga. "Kalau lembaga survei untuk kepentingan pribadi silakan, tapi kalau untuk diumumkan ke publik harus bisa dipertanggungjawabkan," ujarnya.
Menurutnya, hasil survei pada Pilgub DKI Jakarta lalu cenderung merugikan kandidat yang maju dari jalur perseorangan. "Itu cukup berpengaruh bagi pemilih, membunuh dengan cara menggiring opini publik," jelasnya.
Sebelumnya, beberapa lembaga survei memprediksi pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli bisa memenangi Pilgub DKI Jakarta dengan satu putaran. Namun, ketika penghitungan cepat dilakukan, pasangan incumbent itu justru berada di bawah pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama.
(lil)