Sekolah khusus ilmuwan ditunda
Kamis, 12 Juli 2012 - 09:07 WIB
Sekolah khusus ilmuwan ditunda
A
A
A
Sindonews.com – Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membuka sekolah khusus ilmuwan bagi pemenang olimpiade gagal diwujudkan karena belum ada persiapan.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad mengakui, hingga saat ini Kemendikbud belum berniat membuka sekolah tersebut. Tidak hanya karena belum ada persiapan, namun juga belum ada pembicaraan khusus dengan DPR.
Sekolah khusus ilmuwan diusulkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh pada penyelenggaraan Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Manado, September tahun lalu.
Mendikbud berharap tahun ini sekolah khusus ilmuwan dapat dibangun. Siswa yang belajar akan dijaring dari pemenang olimpiade dan tidak dipungut biaya pendidikan. Menurut dia, adanya sekolah khusus ini agar tradisi budaya keilmuan terbangun sejak anak usia dini.
Lebih dari itu, sekolah ini juga untuk membangun peradaban Indonesia hingga 15–20 tahun lagi. Hamid menerangkan, untuk saat ini Kemendikbud masih membina dan mendidik para pemenang olimpiade di sekolah-sekolah unggulan terutama di rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI).
Pertimbangannya, selama ini siswa-siswi yang berprestasi di ajang olimpiade sains itu 90 persen berasal dari RSBI. “Sekolah-sekolah unggulan dan RSBI ini kami optimalkan karena terbukti mereka lebih peduli dengan pendidikan,” katanya.
Menurut Hamid, masalah akan muncul apabila Mahkamah Konstitusi (MK) pada sidang putusan nanti akan menghapus RSBI, terkait gugatan hukum (judicial review) Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) Pasal 50 ayat (3) terhadap Pasal 31 UUD 1945 tentang Dasar Hukum RSBI.
Pemimpin tim International Mathematical Olympiad (IMO) Hery Susanto menerangkan, Tim IMO asal Indonesia masih tertinggal dari negara lain. Hal ini terbukti dari posisi Indonesia di ajang yang sama tahun lalu berada di peringkat 29 dari 101 negara, karena hanya menyabet dua medali perak dan empat perunggu.
Dia menganalisis, faktor yang berpengaruh ialah materi IMO jauh di atas materi Matematika sekolah di Tanah Air, sementara di banyak negeri materi ini sudah masuk dalam kurikulum sekolah. Faktor kedua, metode pemecahan masalah (problem solving) belum merupakan kebiasaan dalam pembelajaran matematika di sekolah.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad mengakui, hingga saat ini Kemendikbud belum berniat membuka sekolah tersebut. Tidak hanya karena belum ada persiapan, namun juga belum ada pembicaraan khusus dengan DPR.
Sekolah khusus ilmuwan diusulkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh pada penyelenggaraan Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Manado, September tahun lalu.
Mendikbud berharap tahun ini sekolah khusus ilmuwan dapat dibangun. Siswa yang belajar akan dijaring dari pemenang olimpiade dan tidak dipungut biaya pendidikan. Menurut dia, adanya sekolah khusus ini agar tradisi budaya keilmuan terbangun sejak anak usia dini.
Lebih dari itu, sekolah ini juga untuk membangun peradaban Indonesia hingga 15–20 tahun lagi. Hamid menerangkan, untuk saat ini Kemendikbud masih membina dan mendidik para pemenang olimpiade di sekolah-sekolah unggulan terutama di rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI).
Pertimbangannya, selama ini siswa-siswi yang berprestasi di ajang olimpiade sains itu 90 persen berasal dari RSBI. “Sekolah-sekolah unggulan dan RSBI ini kami optimalkan karena terbukti mereka lebih peduli dengan pendidikan,” katanya.
Menurut Hamid, masalah akan muncul apabila Mahkamah Konstitusi (MK) pada sidang putusan nanti akan menghapus RSBI, terkait gugatan hukum (judicial review) Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) Pasal 50 ayat (3) terhadap Pasal 31 UUD 1945 tentang Dasar Hukum RSBI.
Pemimpin tim International Mathematical Olympiad (IMO) Hery Susanto menerangkan, Tim IMO asal Indonesia masih tertinggal dari negara lain. Hal ini terbukti dari posisi Indonesia di ajang yang sama tahun lalu berada di peringkat 29 dari 101 negara, karena hanya menyabet dua medali perak dan empat perunggu.
Dia menganalisis, faktor yang berpengaruh ialah materi IMO jauh di atas materi Matematika sekolah di Tanah Air, sementara di banyak negeri materi ini sudah masuk dalam kurikulum sekolah. Faktor kedua, metode pemecahan masalah (problem solving) belum merupakan kebiasaan dalam pembelajaran matematika di sekolah.
(lil)