Jalur SNMPTN tak perlu dihapus
Senin, 09 Juli 2012 - 17:48 WIB
Jalur SNMPTN tak perlu dihapus
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah tidak perlu menghapus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur tulis karena berpotensi akan meningkatkan biaya pendidikan masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dari jalur mandiri.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Suyatno mengatakan, pemerintah harus berpegang pada prinsip keadilan dan kesetaraan dalam SNMPTN. Kalau pun tidak ada jalur tulis, maka jalur undangan harus menjadi pintu masuk bagi mahasiswa tidak mampu untuk masuk program studi favorit, seperti kedokteran dan teknik.
"Seleksi akademik harus menjadi prioritas. Jangan jalur undangan asal mengundang orang saja," katanya di Gedung UHAMKA, Jakarta, Senin (9/7/2012).
Dia mengungkapkan, dibukanya jalur mandiri di sejumlah PTN adalah bentuk swastanisasi PTN yang mengarah kepada komersialisasi. Pasalnya, dengan jalur mandiri ini PTN akan berlomba-lomba mencari calon mahasiswa sebanyak-banyaknya.
Menurutnya, penghapusan SNMPTN juga akan berpotensi kepada PTN untuk memaksakan menerima calon mahasiswa melebihi kapasitas. "Jika ingin membuka jalur mandiri maka diarahkan ke jurusan yang langka seperti perminyakan, penerbangan atau sandi negara yang PTS tidak mampu membukanya," ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Kemendikbud akan menghapus jalur tulis di SNMPTN sehingga tahun depan jalur yang ada hanya dari undangan dan jalur mandiri. Rencana tersebut juga akan tetap menggunakan nilai Ujian Nasional (UN) sebagai syarat penilaian utama, ditambah dengan parameter lain sesuai karakteristik masing-masing PTN.
Pemerintah juga akan menyiapkan dana tambahan, sehingga biaya pendidikan tidak akan naik baik bagi mahasiswa dari jalur keduanya. Seluruh PTN pun sudah menyepakati akan hal ini dan berjanji tidak akan ada kenaikan, namun pemerintah harus konsisten memberikan Bantuan Operasional PTN (BO PTN).
Sekretaris Jenderal Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Suyatno mengatakan, pemerintah harus berpegang pada prinsip keadilan dan kesetaraan dalam SNMPTN. Kalau pun tidak ada jalur tulis, maka jalur undangan harus menjadi pintu masuk bagi mahasiswa tidak mampu untuk masuk program studi favorit, seperti kedokteran dan teknik.
"Seleksi akademik harus menjadi prioritas. Jangan jalur undangan asal mengundang orang saja," katanya di Gedung UHAMKA, Jakarta, Senin (9/7/2012).
Dia mengungkapkan, dibukanya jalur mandiri di sejumlah PTN adalah bentuk swastanisasi PTN yang mengarah kepada komersialisasi. Pasalnya, dengan jalur mandiri ini PTN akan berlomba-lomba mencari calon mahasiswa sebanyak-banyaknya.
Menurutnya, penghapusan SNMPTN juga akan berpotensi kepada PTN untuk memaksakan menerima calon mahasiswa melebihi kapasitas. "Jika ingin membuka jalur mandiri maka diarahkan ke jurusan yang langka seperti perminyakan, penerbangan atau sandi negara yang PTS tidak mampu membukanya," ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Kemendikbud akan menghapus jalur tulis di SNMPTN sehingga tahun depan jalur yang ada hanya dari undangan dan jalur mandiri. Rencana tersebut juga akan tetap menggunakan nilai Ujian Nasional (UN) sebagai syarat penilaian utama, ditambah dengan parameter lain sesuai karakteristik masing-masing PTN.
Pemerintah juga akan menyiapkan dana tambahan, sehingga biaya pendidikan tidak akan naik baik bagi mahasiswa dari jalur keduanya. Seluruh PTN pun sudah menyepakati akan hal ini dan berjanji tidak akan ada kenaikan, namun pemerintah harus konsisten memberikan Bantuan Operasional PTN (BO PTN).
(lil)