Anas: Kader Demokrat bukan politikus pengecut
Sabtu, 07 Juli 2012 - 10:20 WIB
Anas: Kader Demokrat bukan politikus pengecut
A
A
A
Sindonews.com – Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengingatkan para kadernya agar tidak gentar dan khawatir menghadapi berbagai isu, fitnah, dan manuver pihak-pihak tertentu yang ingin Demokrat hancur.
“Kalau jadi penakut lebih baik pulang, tidur di rumah. Masuk Partai Demokrat, putus saraf takut. Politisi harus putus saraf takut,” kata Anas saat memberi pembekalan pada pelatihan kader Sahabat Gede Pasek Suardika di Buleleng, Bali, Jumat 6 Jui 2012.
Dia mengungkapkan, kader yang pengecut menghadapi tantangan akan selalu menjadi peragu dalam menghadapi persoalan dan manuver lawan politik. Padahal, untuk menjadi seorang pemimpin di level manapun dibutuhkan keberanian sebab untuk menuju itu terdapat jalan terjal dan berbagai rintangan.
“Menjadi seorang politisi akan penuh tantangan, ujian, hambatan, rongrongan, fitnahan, rumor, serangan, dan banyak lagi yang lainnya,” ujarnya.
Karena itulah, Anas meminta agar kadernya tak pernah gentar menghadapi cobaan. Jika yang dihadapi adalah kebenaran, itu ujian yang jika lulus, Demokrat akan semakin kuat.
“Jangan pernah takut. Kita punya keyakinan bahwa partai kita yang akan menentukan masa depan Indonesia. Ibarat ayam, harus jadi ayam petarung. Jangan ada satu pun kader Partai Demokrat jadi ayam sayur,” ungkapnya.
Artinya, lanjut dia, kader Demokrat harus menampilkan diri sebagai politisi yang tangguh yang tidak gampang dipecundangi oleh partai politik lain. “Banyak opini dari partai lain. Masa depan kita mau dicuri oleh partai yang lain. Jangan mau masa depan kita dicuri. Tapi kalau suara yang lain mau diserahkan ke kita, mari kita terima,” ungkapnya.
Terkait isu kader Demokrat yang terjerat kasus hukum, Anas kembali menegaskan agar semuanya diproses melalui jalur hukum. Namun, karena saat ini opini sudah kurang objektif, Demokrat seolah menjadi partai yang paling disoroti dalam masalah korupsi.
Padahal, jumlah kader partainya yang tersandung kasus korupsi lebih sedikit dibanding partai lain. “Kalau mau objektif, kader kita yang ditimpa musibah jumlahnya lebih sedikit. Namun, jadi lebih mengemuka dan jadi perhatian dibanding partai lain,” ucapnya.
Dia mengakui, dugaan kasus korupsi yang menimpa sejumlah kader partai berpengaruh pada citra dan perolehan suara pada Pemilu 2014. “Namun, kami tidak iri, tapi justru harus introspeksi. Rakyat tentukan pilihan bukan dari berita dan opini, tapi kerja nyata,” imbuhnya.
Anas meminta dugaan kasus korupsi yang menimpa dirinya dan sejumlah kader Demokrat lainnya tidak perlu dibesarkan. “Tidak perlu menjadi bahan peropinian biar menjadi bahan di dalam proses hukum,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi dan Informasi DPD Partai Demokrat Jawa Barat Yan Rizal Usman mengungkapkan, isu konflik di pusat tidak berpengaruh pada keutuhan partai tersebut di tingkat daerah. “Kami sangat solid terlebih saat ini dalam konteks pilkada. Sampai sejauh ini, alhamdulillah, Partai Demokrat di Jabar masih dicintai rakyat. Satu-satunya kendala hanya masih ditemukan sikap anggota legislatif dari daerah yang masih terlalu manut ke kepala daerah. Seperti ke majikan, bukan mitra. Padahal sikap seperti itu bisa mengancam citra partai. Ini yang harus diperbaiki,” ungkapnya.
“Kalau jadi penakut lebih baik pulang, tidur di rumah. Masuk Partai Demokrat, putus saraf takut. Politisi harus putus saraf takut,” kata Anas saat memberi pembekalan pada pelatihan kader Sahabat Gede Pasek Suardika di Buleleng, Bali, Jumat 6 Jui 2012.
Dia mengungkapkan, kader yang pengecut menghadapi tantangan akan selalu menjadi peragu dalam menghadapi persoalan dan manuver lawan politik. Padahal, untuk menjadi seorang pemimpin di level manapun dibutuhkan keberanian sebab untuk menuju itu terdapat jalan terjal dan berbagai rintangan.
“Menjadi seorang politisi akan penuh tantangan, ujian, hambatan, rongrongan, fitnahan, rumor, serangan, dan banyak lagi yang lainnya,” ujarnya.
Karena itulah, Anas meminta agar kadernya tak pernah gentar menghadapi cobaan. Jika yang dihadapi adalah kebenaran, itu ujian yang jika lulus, Demokrat akan semakin kuat.
“Jangan pernah takut. Kita punya keyakinan bahwa partai kita yang akan menentukan masa depan Indonesia. Ibarat ayam, harus jadi ayam petarung. Jangan ada satu pun kader Partai Demokrat jadi ayam sayur,” ungkapnya.
Artinya, lanjut dia, kader Demokrat harus menampilkan diri sebagai politisi yang tangguh yang tidak gampang dipecundangi oleh partai politik lain. “Banyak opini dari partai lain. Masa depan kita mau dicuri oleh partai yang lain. Jangan mau masa depan kita dicuri. Tapi kalau suara yang lain mau diserahkan ke kita, mari kita terima,” ungkapnya.
Terkait isu kader Demokrat yang terjerat kasus hukum, Anas kembali menegaskan agar semuanya diproses melalui jalur hukum. Namun, karena saat ini opini sudah kurang objektif, Demokrat seolah menjadi partai yang paling disoroti dalam masalah korupsi.
Padahal, jumlah kader partainya yang tersandung kasus korupsi lebih sedikit dibanding partai lain. “Kalau mau objektif, kader kita yang ditimpa musibah jumlahnya lebih sedikit. Namun, jadi lebih mengemuka dan jadi perhatian dibanding partai lain,” ucapnya.
Dia mengakui, dugaan kasus korupsi yang menimpa sejumlah kader partai berpengaruh pada citra dan perolehan suara pada Pemilu 2014. “Namun, kami tidak iri, tapi justru harus introspeksi. Rakyat tentukan pilihan bukan dari berita dan opini, tapi kerja nyata,” imbuhnya.
Anas meminta dugaan kasus korupsi yang menimpa dirinya dan sejumlah kader Demokrat lainnya tidak perlu dibesarkan. “Tidak perlu menjadi bahan peropinian biar menjadi bahan di dalam proses hukum,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi dan Informasi DPD Partai Demokrat Jawa Barat Yan Rizal Usman mengungkapkan, isu konflik di pusat tidak berpengaruh pada keutuhan partai tersebut di tingkat daerah. “Kami sangat solid terlebih saat ini dalam konteks pilkada. Sampai sejauh ini, alhamdulillah, Partai Demokrat di Jabar masih dicintai rakyat. Satu-satunya kendala hanya masih ditemukan sikap anggota legislatif dari daerah yang masih terlalu manut ke kepala daerah. Seperti ke majikan, bukan mitra. Padahal sikap seperti itu bisa mengancam citra partai. Ini yang harus diperbaiki,” ungkapnya.
(lil)