Tanya Rakyat pada UI
Sabtu, 24 Desember 2011 - 07:45 WIB
Tanya Rakyat pada UI
A
A
A
Sindonews.com-Dalam beberapa tahun belakangan, bangsa ini terus dibuat bangga dengan dunia akademik yang kian bersinar cerah. Peringkat berbagai perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta,menunjukkan perbaikan.
Beberapa perguruan tinggi masuk peringkat 500 besar dunia, bahkan ada yang 250 besar dunia.Tak ada satu pun pihak yang mengatakan bahwa pencapaian itu biasa-biasa saja. Berbagai kemajuan yang membanggakan itu memberikan harapan besar bagi masyarakat dari berbagai lapisan.Progres ini menjadi oase di tengah kondisi politik dan penegakan hukum yang kian morat-marit yang sedikit demi sedikit mengikis kesabaran masyarakat.
Namun gemuruh kasus ketidakpuasan terhadap rektor di Universitas Indonesia (UI)—kampus tertua dan terbesar di Indonesia— seperti sebuah ledakan petasan di pagi yang tenang.Secara fisik masyarakat tidak terganggu, tetapi secara psikologis masyarakat kecewa.Alasannya karena masyarakat berharap banyak pada kampus yang sejak dulu menjadi kiblat dan barometer pendidikan Indonesia itu.
Tensi begitu tingginya hingga ada berita Rektor Gumilar Rusliwa Somantri membubarkan lembaga Majelis Wali Amanat (MWA) yang belum lama ini bersambut dengan pernyataan dari MWA bahwa lewat salah satu suratnya Rektor Gumilar secara perdata mengundurkan diri sebagai Rektor UI. Memang,kisruh di kampus bukan hanya terjadi di UI saja. Di beberapa kampus lainnya terjadi pertikaian yang tak kalah hebat.
Namun bisa dikatakan perang paling terbuka terjadi di kampus kebanggaan bangsa ini. Terlepas dari siapa yang benar atau siapa yang salah, rakyat yang sedang kecewa atas banyak hal yang terjadi di negara ini akan semakin kehilangan panduan. Dengan kondisi masyarakat yang mulai menunjukkan distrust society,perdebatan sengit dari pihak yang dianggap sebagai anutan itu tentu akan makin menggoyahkan fondasi dasar siapa yang harus dijadikan anutan.
Terutama ketika politisi, pejabat negara, partai politik, birokrat, dan para penegak hukum sudah tidak lagi bisa dipercaya. Memang sudah sangat benar bahwa manusia yang berkemampuan dihadapkan pada kewajiban untuk memperbaiki apa yang salah. Kemunafikan dan kebohongan harus disingkirkan.Masyarakat yakin bahwa niat ini pulalah yang dikedepankan oleh para civitas academica yang mengkritik rektor dengan entry point pemberian gelar doktor honoris causa kepada Raja Abdullah dari Arab Saudi belum lama berselang.
Mungkin pihak-pihak yang mengerti kasus ini akan paham bahwa kritik memang harus dilakukan.Namun apakah masyarakat pada umumnya paham? Yang mereka lihat hanyalah kekisruhan dengan beberapa pihak saling tuding dengan berapi-api.Kondisi seperti itu tak pernah disukai oleh umumnya masyarakat.Kira-kira apa yang akan dipikirkan masyarakat ketika melihat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Rektor UI, dan para civitas academicaUI berdebat tak berkesudahan? Kira-kira apa yang ada dalam pikiran masyarakat kebanyakan ketika melihat semua pihak saling mengultimatum?
Tiap pihak sudah jelas harus melakukan introspeksi dan menghasilkan solusi.Menjadi agak lucu juga ketika masyarakat berusaha mencari solusi karena harusnya mereka-mereka itulah—yang merupakan creme de la creme kaum intelektual di negeri ini—yang memberikan solusi untuk berbagai masalah bangsa.Para pihak yang bertikai dengan segalagelarkehormatanakademikyangtersematdi namanya harusnya memiliki solusi untuk semua kekisruhan ini.
Setidaknya solusi agar masalah ini cepat reda. Kalau tidak, ke mana lagi masyarakat dapat bertanya mengenai masalahnya yang tak mampu mereka pecahkan? Sementara para pihak yang seharusnya menjadi tempat bertanya pun tidak juga bisa mencari solusi agar masalah internal mereka bisa cepat diselesaikan.
Beberapa perguruan tinggi masuk peringkat 500 besar dunia, bahkan ada yang 250 besar dunia.Tak ada satu pun pihak yang mengatakan bahwa pencapaian itu biasa-biasa saja. Berbagai kemajuan yang membanggakan itu memberikan harapan besar bagi masyarakat dari berbagai lapisan.Progres ini menjadi oase di tengah kondisi politik dan penegakan hukum yang kian morat-marit yang sedikit demi sedikit mengikis kesabaran masyarakat.
Namun gemuruh kasus ketidakpuasan terhadap rektor di Universitas Indonesia (UI)—kampus tertua dan terbesar di Indonesia— seperti sebuah ledakan petasan di pagi yang tenang.Secara fisik masyarakat tidak terganggu, tetapi secara psikologis masyarakat kecewa.Alasannya karena masyarakat berharap banyak pada kampus yang sejak dulu menjadi kiblat dan barometer pendidikan Indonesia itu.
Tensi begitu tingginya hingga ada berita Rektor Gumilar Rusliwa Somantri membubarkan lembaga Majelis Wali Amanat (MWA) yang belum lama ini bersambut dengan pernyataan dari MWA bahwa lewat salah satu suratnya Rektor Gumilar secara perdata mengundurkan diri sebagai Rektor UI. Memang,kisruh di kampus bukan hanya terjadi di UI saja. Di beberapa kampus lainnya terjadi pertikaian yang tak kalah hebat.
Namun bisa dikatakan perang paling terbuka terjadi di kampus kebanggaan bangsa ini. Terlepas dari siapa yang benar atau siapa yang salah, rakyat yang sedang kecewa atas banyak hal yang terjadi di negara ini akan semakin kehilangan panduan. Dengan kondisi masyarakat yang mulai menunjukkan distrust society,perdebatan sengit dari pihak yang dianggap sebagai anutan itu tentu akan makin menggoyahkan fondasi dasar siapa yang harus dijadikan anutan.
Terutama ketika politisi, pejabat negara, partai politik, birokrat, dan para penegak hukum sudah tidak lagi bisa dipercaya. Memang sudah sangat benar bahwa manusia yang berkemampuan dihadapkan pada kewajiban untuk memperbaiki apa yang salah. Kemunafikan dan kebohongan harus disingkirkan.Masyarakat yakin bahwa niat ini pulalah yang dikedepankan oleh para civitas academica yang mengkritik rektor dengan entry point pemberian gelar doktor honoris causa kepada Raja Abdullah dari Arab Saudi belum lama berselang.
Mungkin pihak-pihak yang mengerti kasus ini akan paham bahwa kritik memang harus dilakukan.Namun apakah masyarakat pada umumnya paham? Yang mereka lihat hanyalah kekisruhan dengan beberapa pihak saling tuding dengan berapi-api.Kondisi seperti itu tak pernah disukai oleh umumnya masyarakat.Kira-kira apa yang akan dipikirkan masyarakat ketika melihat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Rektor UI, dan para civitas academicaUI berdebat tak berkesudahan? Kira-kira apa yang ada dalam pikiran masyarakat kebanyakan ketika melihat semua pihak saling mengultimatum?
Tiap pihak sudah jelas harus melakukan introspeksi dan menghasilkan solusi.Menjadi agak lucu juga ketika masyarakat berusaha mencari solusi karena harusnya mereka-mereka itulah—yang merupakan creme de la creme kaum intelektual di negeri ini—yang memberikan solusi untuk berbagai masalah bangsa.Para pihak yang bertikai dengan segalagelarkehormatanakademikyangtersematdi namanya harusnya memiliki solusi untuk semua kekisruhan ini.
Setidaknya solusi agar masalah ini cepat reda. Kalau tidak, ke mana lagi masyarakat dapat bertanya mengenai masalahnya yang tak mampu mereka pecahkan? Sementara para pihak yang seharusnya menjadi tempat bertanya pun tidak juga bisa mencari solusi agar masalah internal mereka bisa cepat diselesaikan.
()