Pak Moer tutup usia
Jum'at, 07 Oktober 2011 - 21:20 WIB
Pak Moer tutup usia
A
A
A
Sindonews.com - Satu per satu mantan pejabat Orde Baru yang sudah cukup sepuh meninggal dunia. Mantan Menteri Sekretaris Negara Moerdiono, meninggal dunia di Rumah Sakit Gleneagles Singapura pada hari ini.
Berdasarkan wawancara singkat Sindo Radio dengan Henry Yosodiningrat, Moerdiono meninggal dalam pelukan putri sulungnya, Ninuk Mardiana Pambudy, pada pukul 19.40 waktu Singapura, Jumat (7/10/2011).
Ninuk sendiri telah beberapa hari terakhir menemani ayahnya yang telah dua bulan dirawat di RS Gleneagles.
Tokoh yang dekat dengan keluarga Cendana ini meninggal karena penyakit kanker paru-paru yang dideritanya selama 17 bulan. Rencananya Moerdiono akan dibawa ke Jakarta esok hari, Sabtu 8 Oktober 2011.
Tokoh Orde Baru yang lahir di Banyuwangi, 19 Agustus 1934, ini meninggal pada usia 77 tahun. Dia akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan.
Moerdiono meninggalkan satu istri, Poppy Dharsono, dan empat orang putra-putri. Dari istri pertamanya, Maryati, Moerdiono mendapatkan empat anak. Yakni Ninuk Mardiana Pambudy, yang merupakan wartawan senior Kompas, kemudian Novianto Prakoso, Indrawan Budi Prasetyo, dan Baroto Joko Nugroho yang telah berpulang lebih dahulu.
Dari istri keduanya, artis Machica Moechtar, Moerdiono memperoleh satu anak yang bernama Iqbal Ramadhan.
Kemudian di akhir hayatnya, Moerdiono ditemani seorang Desainer Poppy Dharsono, yang diperistrinya sejak 1998. Sebelumnya, Moerdiono juga pernah menikahi Sundari Sukoco.
Sahabat Soedarmono ini pernah dua kali menjabat Menteri Sekretaris Negara di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, Kabinet Pembangunan V (21 Maret 1988-17 Maret 1993) dan Kabinet Pembangunan VI (17 Maret 1993-16 Maret 1998).
Sebelum dipercaya oleh Soeharto menjabat Menteri Sekretaris Negara, Pak Moer, begitu dia kerap dipanggil, pernah meniti karier di Kantor Sekretariat Negara.
Pak Moer merupakan pribadi yang sangat dikenal oleh wartawan. Pada masa Orde Baru, dia kerap menjadi juru bicara kepresidenan, bergantian dengan Menteri Penerangan saat itu Harmoko. Sehingga seringkali berhadapan dengan wartawan, khususnya wartawan Istana Negara.
Cara bicaranya yang khas saat menjelaskan arahan Presiden Soeharto, yakni tergagap, membuat Moerdiono cukup dikenal di masyarakat. Padahal gaya bicara sesungguhnya tidaklah seperti itu.
Dia salah satu tokoh Orde Baru yang masih dekat dengan keluarga Cendana, saat reformasi bergulir. Padahal di waktu yang sama, banyak kroni Soeharto yang menjaga jarak dengan Cendana. Tapi Pak Moer tetap setia.
Bahkan, ketika Soeharto mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Pusat Pertamina sebelum meninggal dunia, Moerdiono tetap berada di situ. Wartawan yang melakukan peliputan di RSPP, melihatnya setiap hari. Seringkali banyak informasi yang bisa dikorek dari Moerdiono mengenai kondisi penguasa Orde Baru itu.
Kini, orang setia itu telah menutup usianya. Selamat jalan Pak Moer....
Berdasarkan wawancara singkat Sindo Radio dengan Henry Yosodiningrat, Moerdiono meninggal dalam pelukan putri sulungnya, Ninuk Mardiana Pambudy, pada pukul 19.40 waktu Singapura, Jumat (7/10/2011).
Ninuk sendiri telah beberapa hari terakhir menemani ayahnya yang telah dua bulan dirawat di RS Gleneagles.
Tokoh yang dekat dengan keluarga Cendana ini meninggal karena penyakit kanker paru-paru yang dideritanya selama 17 bulan. Rencananya Moerdiono akan dibawa ke Jakarta esok hari, Sabtu 8 Oktober 2011.
Tokoh Orde Baru yang lahir di Banyuwangi, 19 Agustus 1934, ini meninggal pada usia 77 tahun. Dia akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan.
Moerdiono meninggalkan satu istri, Poppy Dharsono, dan empat orang putra-putri. Dari istri pertamanya, Maryati, Moerdiono mendapatkan empat anak. Yakni Ninuk Mardiana Pambudy, yang merupakan wartawan senior Kompas, kemudian Novianto Prakoso, Indrawan Budi Prasetyo, dan Baroto Joko Nugroho yang telah berpulang lebih dahulu.
Dari istri keduanya, artis Machica Moechtar, Moerdiono memperoleh satu anak yang bernama Iqbal Ramadhan.
Kemudian di akhir hayatnya, Moerdiono ditemani seorang Desainer Poppy Dharsono, yang diperistrinya sejak 1998. Sebelumnya, Moerdiono juga pernah menikahi Sundari Sukoco.
Sahabat Soedarmono ini pernah dua kali menjabat Menteri Sekretaris Negara di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, Kabinet Pembangunan V (21 Maret 1988-17 Maret 1993) dan Kabinet Pembangunan VI (17 Maret 1993-16 Maret 1998).
Sebelum dipercaya oleh Soeharto menjabat Menteri Sekretaris Negara, Pak Moer, begitu dia kerap dipanggil, pernah meniti karier di Kantor Sekretariat Negara.
Pak Moer merupakan pribadi yang sangat dikenal oleh wartawan. Pada masa Orde Baru, dia kerap menjadi juru bicara kepresidenan, bergantian dengan Menteri Penerangan saat itu Harmoko. Sehingga seringkali berhadapan dengan wartawan, khususnya wartawan Istana Negara.
Cara bicaranya yang khas saat menjelaskan arahan Presiden Soeharto, yakni tergagap, membuat Moerdiono cukup dikenal di masyarakat. Padahal gaya bicara sesungguhnya tidaklah seperti itu.
Dia salah satu tokoh Orde Baru yang masih dekat dengan keluarga Cendana, saat reformasi bergulir. Padahal di waktu yang sama, banyak kroni Soeharto yang menjaga jarak dengan Cendana. Tapi Pak Moer tetap setia.
Bahkan, ketika Soeharto mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Pusat Pertamina sebelum meninggal dunia, Moerdiono tetap berada di situ. Wartawan yang melakukan peliputan di RSPP, melihatnya setiap hari. Seringkali banyak informasi yang bisa dikorek dari Moerdiono mengenai kondisi penguasa Orde Baru itu.
Kini, orang setia itu telah menutup usianya. Selamat jalan Pak Moer....
()