Menristekdikti Ingin Dosen Vokasi Miliki Sertifikat Kompetensi

Rabu, 17 Juli 2019 - 19:40 WIB
Menristekdikti Ingin...
Menristekdikti Ingin Dosen Vokasi Miliki Sertifikat Kompetensi
A A A
JAKARTA - Pemerintah terus memperbaiki pendidikan tinggi vokasi. Salah satunya dengan mengirim dosen vokasi ke luar negeri agar memiliki sertifikat kompetensi.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir mengatakan, dalam pendidikan tinggi vokasi, para dosen untuk menunjukkan kompetensinya tidak hanya cukup memegang ijazah saja untuk mengajar. Namun juga harus memegang sertifikat kompetensi yang sesuai dengan bidangnya.

"Untuk dosen dalam program revitalisasi pendidikan vokasi ini dia harus mendapatkan sertifikat kompetensinya,'' katanya pada seminar Revitalisasi Pendidikan Vokasi di Indonesia: Implementasi Pembelajaran Dual System di Universitas Prasetya Mulya.

Hadir dalam seminar ini Duta Besar RI untuk Swiss Muliaman D Hadad, Managing Director Sinar Mas G. Sulistiyanto, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani dan Chairman of Swiss Federal Institute for Vocational Education &Training (SFIVET), Gnaegi Philippe.

Menristekdikti mengaku akan mengirim dosen vokasi ke luar negeri untuk meraih sertifikat kompetensi bertaraf internasional. Namun yang akan diberangkatkan keluar negeri ini diperuntukkan bagi dosen yang sudah memiliki kemampuan bahasa Inggris saja.

Sementara jika ada dosen yang terkendala bahasa maka mereka bisa dilatih di politeknik dalam negeri. "Untuk yang dilatih di dalam negeri selain dilatih dosen dalam negeri, pihaknya juga akan mendatangkan instruktur dari luar negeri untuk mendampingi," katanya.

Nasir menyampaikan, program sertifikasi kompetensi bagi mahasiswa sudah berjalan sejak 2017. Dimana mahasiswa vokasi menjalani program perkuliahan 2 tahun di Indonesia dan 2 tahun di luar negeri dan setelah itu dia akan lulus mendapat serttifikat kompetensi.

Dia mengatakan, yang saat ini tengah berjalan ialah kerja sama perkuliahan dengan Taiwan dan sedang dikembangkan dengan Swiss. ''Sebab lulusan di luar negeri itu tidak ditanya lulusan mana tapi ditanya sertifikat (kompetensinya) apa,'' ungkapnya.
(cip)
Berita Terkait
Mantan Menristekdikti...
Mantan Menristekdikti Mohamad Nasir: Anggaran Pendidikan Tinggi Sangat Rendah
Peringatan Hardiknas...
Peringatan Hardiknas 2025, Menteri Brian Yuliarto Luncurkan Diktisaintek Berdampak
BPOM Gandeng Kemendiktisaintek...
BPOM Gandeng Kemendiktisaintek Kembangkan Riset Obat Nasional
Mendikti Saintek Brian...
Mendikti Saintek Brian Yuliarto: Kampus Harus Berdampak Nyata bagi Daerah Sekitar
Kemendikti Bangun Sistem...
Kemendikti Bangun Sistem Mentorship Antarkampus, Dorong Kolaborasi Riset dan Inovasi
Pendidikan yang Terus...
Pendidikan yang Terus Berganti di Tengah Jalan
Berita Terkini
ASN Diizinkan Antar...
ASN Diizinkan Antar Anak di Hari Pertama Sekolah, Menteri PANRB: Tak Boleh Mengurangi Kualitas Pelayanan Publik
30 Pati TNI AU Naik...
30 Pati TNI AU Naik Pangkat, Danlanud Sultan Hasanuddin Pecah Bintang
Kejagung Janji Profesional...
Kejagung Janji Profesional Usut Kasus Dugaan Korupsi Febrie Adriansyah
BMKG Prediksi Curah...
BMKG Prediksi Curah Hujan Tetap Rendah di Wilayah Indonesia pada Pertengahan Juli 2026
Prabowo Panggil Menhan,...
Prabowo Panggil Menhan, Kapolri, hingga Jaksa Agung di Istana Malam Ini, Ada Apa?
Kasus Febrie Adriansyah...
Kasus Febrie Adriansyah Dilimpahkan ke Kejagung, Pakar: Proses Hukum Harus Transparan
Infografis
7 Seragam Pasukan Khusus...
7 Seragam Pasukan Khusus Terbaik Dunia, Nomor 3 Miliki Penutup Muka Antipeluru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved