Langkah Kapolri Bangun Komunikasi dengan Para Ulama Dinilai Tepat

Minggu, 11 Maret 2018 - 20:07 WIB
Langkah Kapolri Bangun...
Langkah Kapolri Bangun Komunikasi dengan Para Ulama Dinilai Tepat
A A A
JAKARTA - Intensitas Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian yang membangun hubungan dan bermuhibah dengan kalangan ulama dianggap tepat. Langkah Tito tersebut dianggap positif untuk membangun sinergi antara Polri dan umat Islam yang terkesan kurang harmonis.

Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN, Siti Napsiyah menyatakan, apa yang dilakukan Kapolri menentramkan semua pihak. Kesan seolah Kapolri jauh dengan kalangan Islam pupus dan pernyataan-pernyataan Tito yang fokus pada persatuan bangsa dimana umat Islam adalah bagian dari bangsa ini dapat dipahami.

Menurutnya, dalam beberapa kesempatan statmen Tito yang menegaskan perlunya persatuan bangsa sudah tepat. Tito menginginkan agar komponen bangsa, termasuk umat Islam tak terpecah belah dan mau diadu domba, mau bertabayun setiap mendengar informasi yang kurang pas.

Siti melanjutkan, sikap Tito tercermin saat memberikan sambutan di hadapan pengurus Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), di SMK Islam Perti, Jalan Tawakal Raya, Jakarta Barat pada Sabtu 10 Maret 2018.

"Pak Tito menerangkan secara gamblang alur kasusnya, mana yang benar, mana yang hoaks. Pesannya sampai, betapa setiap isu jika tidak ditanggapi dengan cepat bisa berujung kisruh. Itu karena power of social media," ujar Siti, Minggu (11/3/2018).

Terkait dugaan kemungkinan adanya upaya sistematis di balik kasus penyerangan terhadap ulama, Jenderal Tito dapat mengerti. Hal itu dikatakannya saat ceramah di hadapan jemaah Muhammadiyah saat pengajian di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Jumat 9 Maret 2018.

Dia berpandangan jangankan rakyat, polisi saja bingung dengan tiga kasus penyerangan ulama yang pelakunya sama-sama orang tak waras dan kejadiannya berdekatan waktunya. Tito menjelaskan, sebenarnya peristiwa tersebut adalah peristiwa sepintas. Tapi di media sosial dibumbui, lalu disusul kasus-kasus rekayasa seolah ada serangan sistematis kepada para ulama.

Tito menyebut, apa yang terjadi di empat lokasi yakni dua lokasi di Jawa Barat yaitu di Cicalengka dan Ciamis; Kediri, Jawa Timur; dan Balikpapan, Kalimantan Timur. Setelah diselidiki dan dilakukan rekonstruksi, ternyata itu hanya rekayasa. Keempatnya telah mengakui bahwa kejadian itu rekayasa.

"Jadi penyerangan sistematis terhadap para ulama itu tidak pernah ada. Itu hanya dibuat-buat. Lagi pula, siapa yang berani menyerang ulama, akan berhadapan dengan saya," ujar Alumni Mc Gill University Kanada ini.
(kri)
Berita Terkait
Pemeriksaan Kesehatan...
Pemeriksaan Kesehatan Gratis dalam Rangka HUT ke-79 Polri saat CFD Jakarta
Seleksi Penerimaan Anggota...
Seleksi Penerimaan Anggota Polri di Pontianak
Rapat Perdana Komisi...
Rapat Perdana Komisi Percepatan Reformasi Polri
Mutasi Polri, Brigjen...
Mutasi Polri, Brigjen Pol Ferdy Sambo Ditunjuk Jadi Kadiv Propam
Begini Suasana Pengamanan...
Begini Suasana Pengamanan Mabes Polri Pasca Penyerangan Teroris
Profil Irjen Pol Ramdani...
Profil Irjen Pol Ramdani Hidayat, Alumni Akpol 1990 yang Jabat Dankor Brimob
Berita Terkini
Alasan Hotman Paris...
Alasan Hotman Paris Tidak Khawatir soal Ucapannya 'Lu Punya Otak Gak?' Dilaporkan ke Polisi
Kejagung Dijadwalkan...
Kejagung Dijadwalkan Periksa Febrie Adriansyah Hari Ini, Sebelumnya Mangkir
Pakar: Pertemuan Kapolri-Direktur...
Pakar: Pertemuan Kapolri-Direktur FBI Langkah Strategis Hadapi Kejahatan Transnasional
Sebut 108 UU Perlu Diubah,...
Sebut 108 UU Perlu Diubah, Cak Imin: Omnibus Law Ciptaker hingga Agraria
KPK: Sebelum Serahkan...
KPK: Sebelum Serahkan Amplop ke Menhut, Bupati Kuansing Kumpulkan SGD 46.500
PPATK Ungkap Perputaran...
PPATK Ungkap Perputaran Dana Judi Online Turun hingga Rp286,84 Triliun di Era Prabowo
Infografis
Senjata dengan Teknologi AI Dinilai terlalu Berbahaya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved