Pengamat Nilai Pertemuan Jokowi dengan Pengurus PSI Hal Biasa
Senin, 05 Maret 2018 - 19:59 WIB
Pengamat Nilai Pertemuan Jokowi dengan Pengurus PSI Hal Biasa
A
A
A
JAKARTA - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, dipersoalkan oleh sejumlah pihak.
Namun, menurut pengamat politik Sebastian Salang, pertemuan tersebut merupakan pertemuan biasa saja dalam politik. Menurutnya, tak ada bedanya dengan kunjungan parpol lain, ormas maupun organisasi kemahasiswaan ke Istana yang diterima Presiden.
"Itu pertemuan biasa saja dan seperti biasa kepala negara menyambut kunjungan itu. Sehingga itu sebenarnya biasa saja tidak perlu ditanggapi berlebihan," kata Sebastian Salang, Senin (5/3/2018).
Menurutnya, aneh jika sejumlah pihak bereaksi berlebihan merespons pertemuan tersebut. Apalagi sampai ada yang melaporkannya ke Ombudsman. "Kan pertanyaannya ada apa?" ujar Sebastian.
Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia ( Formappi) ini menilai, kunjungan PSI ke Istana itu jadi ramai karena dilakukan di tahun politik.
"Kalau bukan di tahun politik maka kunjungan ini tidak akan ada yang peduli. Kebetulan juga presidennya sekarang maju lagi di pilpres 2019 sehingga sekecil apapun yang dilakukan akan diungkit lawan politiknya," ujar Sebastian.
Dikatakan bahwa PSI sebagai partai baru yang digagas anak-anak muda mungkin dianggap saingan. Apalagi PSI berhasil ikut pemilu dan menarik perhatian publik sehingga mereka mulai perhitungkan.
"Karena digagas anak-anak muda dan beda dengan partai-partai sebelumnya sehingga dilihatlah partai PSI ini seksi yang dikelola profesional dan dengan gaya anak muda zaman now sehingga diprediksi bisa meraup dukungan kalangan milenial," pungkasnya
Namun, menurut pengamat politik Sebastian Salang, pertemuan tersebut merupakan pertemuan biasa saja dalam politik. Menurutnya, tak ada bedanya dengan kunjungan parpol lain, ormas maupun organisasi kemahasiswaan ke Istana yang diterima Presiden.
"Itu pertemuan biasa saja dan seperti biasa kepala negara menyambut kunjungan itu. Sehingga itu sebenarnya biasa saja tidak perlu ditanggapi berlebihan," kata Sebastian Salang, Senin (5/3/2018).
Menurutnya, aneh jika sejumlah pihak bereaksi berlebihan merespons pertemuan tersebut. Apalagi sampai ada yang melaporkannya ke Ombudsman. "Kan pertanyaannya ada apa?" ujar Sebastian.
Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia ( Formappi) ini menilai, kunjungan PSI ke Istana itu jadi ramai karena dilakukan di tahun politik.
"Kalau bukan di tahun politik maka kunjungan ini tidak akan ada yang peduli. Kebetulan juga presidennya sekarang maju lagi di pilpres 2019 sehingga sekecil apapun yang dilakukan akan diungkit lawan politiknya," ujar Sebastian.
Dikatakan bahwa PSI sebagai partai baru yang digagas anak-anak muda mungkin dianggap saingan. Apalagi PSI berhasil ikut pemilu dan menarik perhatian publik sehingga mereka mulai perhitungkan.
"Karena digagas anak-anak muda dan beda dengan partai-partai sebelumnya sehingga dilihatlah partai PSI ini seksi yang dikelola profesional dan dengan gaya anak muda zaman now sehingga diprediksi bisa meraup dukungan kalangan milenial," pungkasnya
(maf)