Pertumbuhan Generasi Muda Harus Imbang dengan Ketersediaan Lapangan Kerja
Minggu, 23 Oktober 2016 - 23:50 WIB
Pertumbuhan Generasi Muda Harus Imbang dengan Ketersediaan Lapangan Kerja
A
A
A
JAKARTA - Pesatnya pertumbuhan penduduk harus diimbangi dengan ketersediaan lapangan pekerjaaan. “Saya mendorong generasi muda menjadi pencipta lapangan kerja produktif yang membangun daerah,” kata CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT) saat berbagi pengalamannya dalam acara wisuda Universitas Gunadarma, di JCC Senayan, Minggu (23/10/2016).
Tak lama lagi jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan menyalip Amerika Serikat menjadikan populasi negara ini terbesar ketiga di dunia. Generasi muda pun bertumbuh pesat, artinya jumlah pencari kerja pun akan terus meningkat
Masalahannya hingga saat ini jumlah pencipta lapangan pekerjaan masih jauh dari angka ideal. Jumlah pengusaha yang menciptakan lapangan kerja minimal 2% dari total jumlah penduduk. Selain pemberi kerja saat ini terbatas, mereka terkonsentrasi di kota-kota besar. Artinya kesempatan kerja di daerah sangat kurang. Itu kenapa banyak masyarakat mengadu nasib ke kota meninggalkan kampung halamannya.
HT berharap kelak para wisudawan mampu menjadi pengusaha produktif yang menciptakan lapangan kerja di daerah-daerah. Hal tersebut bisa dilakukan bila ada kemauan, kerja keras dan mental progresif.
Bila banyak pemberi kerja yang bertumbuh di daerah, lapangan kerja di daerah akan terbuka. Kesejahteraan masyarakat meningkat dan memutar roda perekonomian negara ini lebih cepat.
Setiap daerah, kata HT, memiliki potensi yang bila dikembangkan akan memajukan daerah tersebut. “Untuk menjadi negara maju lebih cepat, mayoritas daerah harus menjadi pilar-pilar ekonomi kita,” ujarnya
Ekonomi Indonesia saat ini, kata HT berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Dimana kekuatan Indonesia yang dulu pernah ada kini tak ada lagi. Hary pun menceritakan sejarah kekuatan ekonomi Indonesia di masa silam dimana Indonesia pernah kuat akan minyak, industri dan komoditas. Namun kini ketiganya sudah tak menjadi kekuatan Indonesia
Minyak misalnya, sebelumnya Indonesia menjadi negara pengekspor, kini malah menggerus devisanya dengan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan. Industri pun sudah tersalip dengan negara-negara lainnya karena ketika menjadi Macan Asia Indonesia tidak membangun pendidikan dan infrastruktur dengan baik. Tidak mempersiapkan ekosistem yang mendukung tumbuhnya industri.
Terakhir Indonesia sempat berjaya dengan komoditas, karena kencangnya pertumbuhan ekonomi global. Kini seiring melambatnya ekonomi dunia permintaan pun menurun. Komoditas pun tak menjadi andalan lagi.
Ekonomi tumbuh sekitar 5%, namun tenaga kerja sulit mendapatkan pekerjaaan. Hal tersebut karena pertumbuhan didominasi oleh konsumsi bukan kegiatan produktif.
Ke depan, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia, jumlah pengusaha-pengusaha baru yang produktif harus ditumbuhkan di daerah. Selama ini ekonomi terpusat di kota-kota besar padahal penduduk tersebar di berbagai daerah.
Akibatnya terjadi ketimpangan. Hal ini lah menurut HT yang harus diubah, strategi pembangunan ke depan adalah menjadikan daerah-daerah sebagai pilar ekonomi
Tak lama lagi jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan menyalip Amerika Serikat menjadikan populasi negara ini terbesar ketiga di dunia. Generasi muda pun bertumbuh pesat, artinya jumlah pencari kerja pun akan terus meningkat
Masalahannya hingga saat ini jumlah pencipta lapangan pekerjaan masih jauh dari angka ideal. Jumlah pengusaha yang menciptakan lapangan kerja minimal 2% dari total jumlah penduduk. Selain pemberi kerja saat ini terbatas, mereka terkonsentrasi di kota-kota besar. Artinya kesempatan kerja di daerah sangat kurang. Itu kenapa banyak masyarakat mengadu nasib ke kota meninggalkan kampung halamannya.
HT berharap kelak para wisudawan mampu menjadi pengusaha produktif yang menciptakan lapangan kerja di daerah-daerah. Hal tersebut bisa dilakukan bila ada kemauan, kerja keras dan mental progresif.
Bila banyak pemberi kerja yang bertumbuh di daerah, lapangan kerja di daerah akan terbuka. Kesejahteraan masyarakat meningkat dan memutar roda perekonomian negara ini lebih cepat.
Setiap daerah, kata HT, memiliki potensi yang bila dikembangkan akan memajukan daerah tersebut. “Untuk menjadi negara maju lebih cepat, mayoritas daerah harus menjadi pilar-pilar ekonomi kita,” ujarnya
Ekonomi Indonesia saat ini, kata HT berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Dimana kekuatan Indonesia yang dulu pernah ada kini tak ada lagi. Hary pun menceritakan sejarah kekuatan ekonomi Indonesia di masa silam dimana Indonesia pernah kuat akan minyak, industri dan komoditas. Namun kini ketiganya sudah tak menjadi kekuatan Indonesia
Minyak misalnya, sebelumnya Indonesia menjadi negara pengekspor, kini malah menggerus devisanya dengan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan. Industri pun sudah tersalip dengan negara-negara lainnya karena ketika menjadi Macan Asia Indonesia tidak membangun pendidikan dan infrastruktur dengan baik. Tidak mempersiapkan ekosistem yang mendukung tumbuhnya industri.
Terakhir Indonesia sempat berjaya dengan komoditas, karena kencangnya pertumbuhan ekonomi global. Kini seiring melambatnya ekonomi dunia permintaan pun menurun. Komoditas pun tak menjadi andalan lagi.
Ekonomi tumbuh sekitar 5%, namun tenaga kerja sulit mendapatkan pekerjaaan. Hal tersebut karena pertumbuhan didominasi oleh konsumsi bukan kegiatan produktif.
Ke depan, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia, jumlah pengusaha-pengusaha baru yang produktif harus ditumbuhkan di daerah. Selama ini ekonomi terpusat di kota-kota besar padahal penduduk tersebar di berbagai daerah.
Akibatnya terjadi ketimpangan. Hal ini lah menurut HT yang harus diubah, strategi pembangunan ke depan adalah menjadikan daerah-daerah sebagai pilar ekonomi
(sms)