PKPU Salurkan 1.300 Paket Bantuan ke Kamp Pengungsi di Myanmar
Jum'at, 24 Juni 2016 - 23:07 WIB
PKPU Salurkan 1.300 Paket Bantuan ke Kamp Pengungsi di Myanmar
A
A
A
SITTWE - Sepanjang bulan Ramadhan ini, PKPU bekerja sama dengan berbagai mitra telah dan akan terus mendistribusikan sebanyak 1.300 paket makanan dan pakaian untuk pengungsi muslim Rohingya, Myanmar, dan di kamp-kamp pengungsian di Kota Sittwe, Provinsi Rakhine, Myanmar, Kamis 23 Juni 2016.
Konflik yang terjadi pada tahun 2012 menyebabkan minoritas Rohingya harus tinggal di dalam kamp-kamp pengungsian.
Sekitar 150.000 orang harus tinggal di dalam tenda-tenda dan gubuk kamp pengungsian dan tidak diperbolehkan untuk pergi ke kota atau daerah lain di luar kamp.
Akses yang sangat terbatas terhadap kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, air bersih, perumahan, listrik dan pendidikan menyebabkan menurunnya kualitas hidup etnis minoritas tersebut.
Akibatnya, banyak dari etnis minoritas tersebut terpaksa lari ke negara-negara tetangga menggunakan perahu dan terdampar di pantai-pantai Malaysia, Thailand dan Indonesia.
Dalam keterangannya, Staf Bidan Respons Kemanusiaan Luar Negeri Disaster Risk Management (DRM) PKPU Deni Kurniawan yang saat ini masih berada di Myanmar mengatakan, tim yang berjumlah dua orang ini akan berada di Myanmar selama 10 hari untuk mendistribusikan paket berupa makanan, pakaian dan berbuka puasa kepada lebih dari 1300 keluarga.
Menurut dia, prioritas distribusi paket akan disalurkan ke kamp-kamp pengungsian di Kota Sittwe dan kota-kota sekitarnya.
“Setelah itu juga akan dilakukan distribusi kepada para pengungsi Rohingya di Kota Yangoon. Saat ini telah terdistribusi 800 paket makanan dan akan dilanjutkan terus hingga selesai, dan saat ini distribusi telah dilakukan di desat That Kay Pyin, kamp pengungsian Bhaw Du Pa dan Bohar Para di luar kota Sittwe," tuturnya.
Selama ini etnis Rohingya menuntut pemerintah Myanmar memberikan pengakuan sebagai penduduk resmi. Mereka juga berharap agar pemerintah memberikan kartu identitas sebagai bukti pengakuan.
Namun sampai saat ini pemerintah secara resmi belum mengakui keberadaannya, walaupun mereka telah tinggal di wilayah Myanmar sejak ratusan tahun silam.
Konflik yang terjadi pada tahun 2012 menyebabkan minoritas Rohingya harus tinggal di dalam kamp-kamp pengungsian.
Sekitar 150.000 orang harus tinggal di dalam tenda-tenda dan gubuk kamp pengungsian dan tidak diperbolehkan untuk pergi ke kota atau daerah lain di luar kamp.
Akses yang sangat terbatas terhadap kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, air bersih, perumahan, listrik dan pendidikan menyebabkan menurunnya kualitas hidup etnis minoritas tersebut.
Akibatnya, banyak dari etnis minoritas tersebut terpaksa lari ke negara-negara tetangga menggunakan perahu dan terdampar di pantai-pantai Malaysia, Thailand dan Indonesia.
Dalam keterangannya, Staf Bidan Respons Kemanusiaan Luar Negeri Disaster Risk Management (DRM) PKPU Deni Kurniawan yang saat ini masih berada di Myanmar mengatakan, tim yang berjumlah dua orang ini akan berada di Myanmar selama 10 hari untuk mendistribusikan paket berupa makanan, pakaian dan berbuka puasa kepada lebih dari 1300 keluarga.
Menurut dia, prioritas distribusi paket akan disalurkan ke kamp-kamp pengungsian di Kota Sittwe dan kota-kota sekitarnya.
“Setelah itu juga akan dilakukan distribusi kepada para pengungsi Rohingya di Kota Yangoon. Saat ini telah terdistribusi 800 paket makanan dan akan dilanjutkan terus hingga selesai, dan saat ini distribusi telah dilakukan di desat That Kay Pyin, kamp pengungsian Bhaw Du Pa dan Bohar Para di luar kota Sittwe," tuturnya.
Selama ini etnis Rohingya menuntut pemerintah Myanmar memberikan pengakuan sebagai penduduk resmi. Mereka juga berharap agar pemerintah memberikan kartu identitas sebagai bukti pengakuan.
Namun sampai saat ini pemerintah secara resmi belum mengakui keberadaannya, walaupun mereka telah tinggal di wilayah Myanmar sejak ratusan tahun silam.
(dam)